Jakarta, TopBusiness – PT Brantas Abipraya (Persero) menjelaskan investasi para talenta sangat berpengaruh positif terhadap raihan kinerja keuangan perusahaan, terutama laba sebelum pajak.
Selain, perusahaan tetap mengedepankan penilaian standar produktivitas dan efisiensi beban biaya berdasarkan kriteria PMBOX.
Saat sesi tanya-jawab atau pendalaman materi presentasi berjudul ‘Human Capital Transformation – Aligning to Human Capital Architecture’, Senior Vice President HCGA, Prasetyadhie, menyinggung soal bagaimana peran human capital atau HC terhadap pertumbuhan perusahaan.
Dijelaskan, kalau di perusahaan kebetulan secara standard operating procedure (SOP) atau rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) melihat bagaimana peran talenta itu sendiri terhadap pertumbuhan perusahaan. “Jadi, investasi yang tadi di 9 box talent, bisa berperan banyak dalam growth-nya perusahaan,” ujar Prasetyadhie kepada Dewan Juri TOP Human Capital Awards 2025, di Jakarta, Kamis (9/10/2025).
9 box talent management dapat diartikan sebagai strategi dalam manajemen sumber daya manusia yang bertujuan mengoptimalkan potensi dan kinerja pegawai. Untuk itu, menggunakan kotak berukuran 3 x 3, dengan total 9 kotak sehingga memungkinkan manajer untuk mengklasifikasikan karyawan berdasarkan pada dua kriteria, yaitu kinerja dan potensi.
Dalam 9 box talent Brantas Abipraya terdiri dari Board of Directors minus 1 (BOD-1), BOD-2, BOD-3, project manager (PM), site administration manager (SAM), site engineering manager (SEM), site operational manager (SOM) dan supplier quality management (SQM).
Dalam mengukur keberhasilan, lanjut Prasetyadhie, maka produktivitas pegawai menjadi perhatian utama. “Yang pertama, kami ukur, tentunya tadi productivity. Productivity adalah besaran ebitda atau besaran laba sebelum pajak (sebelum tax), itu dibagi jumlah karyawan. Jadi, sampai sejauhmana karyawan yang ada saat ini bisa menghasilkan laba yang lebih baik. Itu ukuran pertama,” papar dia.
Ditegaskannya, walaupun memang laba tersebut banyak variabelnya. Tetapi, dari sisi departemen HC melihat salah satu pengukurannya adalah seperti itu. “Jadi, bagaimana perusahaan bisa ramping, tapi dia (pegawai) bisa menghasilkan earning (pendapatan), itu lebih banyak,” ucap dia.
Dikatakan dia, standardisasi para pejabat proyek dilakukan dengan penilaian project management body of knowledge (PMBOK), itu memang menjadi standardisasi di dunia konstruksi. ”Tetapi, di kami semua pejabat proyek harus lulusnya di atas standar. Karena sudah mempunyai penilaian personal. Jadi ada kurang, baik, sangat baik, dan istimewa, ada empat. Para pejabat semua proyek itu, semuanya adalah sangat baik.”
“Tapi, intinya bagaimana investasi itu bisa meningkatkan sisi kompetensi para pejabat proyek. Jika pejabat proyek ternyata mengetahui atau memahami PMBOK yang ada dan standar dalam pengerjaan konstruksi, seharusnya, tidak boleh ada kerugian. Bahkan seharusnya efisiensi. Itu yang pertama,” papar Prasetyadhie.
Di sisi kedua, menurut Prasetyadhie, adalah kompetensi talenta dalam mengerjakan dua proyek sekaligus akibat rampingnya struktur organisasi.
“Kemudian kedua dari sisi kerampingan. Kadang-kadang, kami juga satu pejabat proyek. Satu PM (project manager) bisa menangani dua proyek. Proyek, yang menurut saya, saling berdekatan, atau serupa. Sehingga, sekali lagi tak perlu jumlah banyak orang tetapi karena dia mampu secara kapabel (capability)-nya. Tentu, earning-nya menjadi lebih tinggi. Jadi memang diharapkan bagaimana para talent itu bisa dipetakan. Karyawan harus memahami betul bagian mandatory yang diwajibkan oleh perusahaan. Jadi, kami mandatory-nya, itu PMBOK,” pungkasnya.
