Jakarta, BusinessNews Indonesia—Beberapa faktor risiko menjadi perhatian investor bursa saham dalam tahun 2018 ini. Diantaranya kebijakan pemerintah Cina yang ingin mengurangi investasi langsungnya di luar negeri dalam waktu dekat termasuk di Asean.
“Hal ini bisa berakibat pada perlambatan ekonomi domestik. Pasalnya, investasi menjadi salah satu pendorong perekonomian Indonesia,” kata Kepala Riset dan Strategi Bahana Sekuritas Andri Ngaserin, di Jakarta (14/1/2018).
Selanjutnya, tren kenaikan harga minyak dunia yang saat ini berada pada kisaran USD 66 per barel, lebih tinggi dari asumsi harga minyak dunia yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 sebesar USD 48 per barel.
Kondisi politik di dalam negeri yang akan menghadapi Pilkada serentak serta Pilpres 2019, akan menjadi faktor penentu bagi investor khususnya saat proses Pilkada sedang berlangsung hingga hasil akhirnya.
“Bila semuanya berjalan transparan dan hasil akhirnya sesuai dengan ekspektasi pasar, akan membawa dampak positif.”
Adapun hal positif yang akan mewarnai pasar dan perekonomian sepanjang 2018, diantaranya berlanjutnya belanja infrastruktur dan dana subsidi untuk sosial.
Juga, dana-dana kampanye yang biasanya meningkat menjelang Pilkada serta Pilpres akan meningkatkan konsumsi masyarakat. Ditambah lagi harga komoditas global yang stabil meningkat khususnya harga batu bara, akan memberi multiplier effect terhadap perekonomian.
”Dengan melihat beberapa faktor positif dan risiko yang perlu dicermati, indeks diperkirakan tidak akan banyak bergerak pada semester pertama tahun ini, namun pada semester kedua baru akan terlihat pergerakan yang berarti tergantung pada proses dan hasil Pilkada. Serta menanti langkah yang akan diambil pemerintah untuk menyelamatkan anggaran 2018,” ungkap Andri.
“Bahana memerkirakan, indeks akan berada pada kisaran 7.000 sepanjang 2018,” kata dia.
