Jakarta, TopBusiness — PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (IDX: BMRI) atau Bank Mandiri hingga kuartal III 2025 berhasil membukukan laba bersih secara konsolidasi sebesar Rp37,7 triliun. Angka ini turun 10,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 42,01 triliun.
Perolehan laba tersebut ditopang oleh kredit secara konsolidasi yang mencapai Rp1.764,32 triliun, tumbuh 11 persen yoy, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit industri perbankan nasional yang tercatat sebesar 7,70 persen yoy menurut data Bank Indonesia.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mengungkapkan, total aset konsolidasi perseroan juga naik 10,3% secara tahunan menjadi Rp 2.563 triliun.
“Kami fokus menjaga pertumbuhan yang berkualitas, didukung tata kelola risiko yang disiplin serta sinergi lintas segmen dan sektor yang memperkuat daya saing ekonomi nasional,” ujar Novita dalam Paparan Publik Laporan Keuangan Triwulan III/2025 Bank Mandiri, Senin (27/10/2025).
Dari sisi pendapatan, pendapatan bunga bersih Bank Mandiri tercatat tumbuh 4,9% yoy menjadi Rp78,3 triliun, sementara pendapatan non-bunga naik 7,97% yoy menjadi Rp33,2 triliun.
Kinerja keuangan yang kuat juga didukung oleh pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 13% yoy menjadi Rp1.884 triliun. Porsi dana murah (CASA) tetap dominan di level 69,3%, mencerminkan efektivitas strategi Bank Mandiri dalam menjaga efisiensi biaya dana dan memperkuat likuiditas.
Transaksi Digital Terus Tumbuh
Pertumbuhan DPK yang solid tak lepas dari ekspansi digital melalui Super App Livin’ by Mandiri, Livin’ Merchant, dan Kopra by Mandiri. Hingga akhir September 2025, jumlah pengguna Livin’ by Mandiri mencapai 35,1 juta nasabah.
Frekuensi transaksi digital meningkat 25% yoy, dengan nilai transaksi mencapai Rp3.220 triliun atau naik 10% dalam sembilan bulan pertama tahun ini.
“Kapabilitas digital Bank Mandiri juga hadir mendukung pelaku usaha melalui solusi Livin’ Merchant, di mana sebagian besar pengguna adalah pedagang atau pelaku usaha mikro,” jelas Novita.
Dorong Ekonomi Kerakyatan
Bank Mandiri mencatat bahwa seluruh segmen bisnis berkontribusi terhadap pertumbuhan kredit, terutama di sektor padat karya, ekspor, serta industri makanan dan minuman. Fokus pembiayaan ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah dalam memperkuat ekonomi kerakyatan sebagaimana visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
“Kredit di sektor-sektor tersebut terbukti memberikan multiplier effect terhadap lapangan kerja dan daya beli masyarakat,” kata Novita.
Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (NPL) gross bank only berada di level 1,03%, dengan coverage ratio mencapai 271%.
“Pertumbuhan yang berkelanjutan menjadi prioritas utama kami. Setiap langkah ekspansi dijalankan secara terukur dan selaras dengan prinsip kehati-hatian serta tata kelola yang baik,” tegas Novita.
Dengan kinerja stabil dan fundamental kuat, Bank Mandiri berkomitmen untuk terus memperkuat perannya sebagai mitra strategis pemerintah dan penggerak ekonomi nasional melalui pembiayaan produktif dan inklusif.
