Jakarta, TopBusiness – Emiten energi PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) terus menjaga konsistensinya untuk menggarap sektor gas, selain minyak bumi. Pasalnya, sektor gas diprediksi masih akan prospektif, apalagi saat ini kebutuhannya masih tinggi, termasuk harus mendatangkan melalui impor.
Direktur Investasi dan Risk Planning RAJA Ogi Rulino menjelaskan, ditilik dari aspek industri dengan adanya Neraca Gas Bumi Indonesia Tahun 2024-2033, sektor tetap masih menjanjikan. Saat ini, kata dia, Pemerintah Indonesia memiliki target produksi gas bumi 12 billion standard cubic feet per day (bscfd) di tahun 2030 nanti.
Sementara berdasarkan neraca gas bumi Indonesia, kebutuhan gas bumi diperkirakan cenderung stabil hingga 2033, dengan pasokan dalam negeri yang terus menurun. Sehingga, disebut Ogi, untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pemerintah perlu meningkatkan pasokan melalui berbagai proyek untuk meningkatkan protensi bisnis terkait penyediaan energi, khususnya gas.
“Peningkatan kebutuhan di tengah adanya penurunan alami (natural decline) produksi sumur gas nasional meningkatkan protensi penyediaan gas melalui impor, sehingga bisnis sehubungan transportasi gas juga menjadi sangat menjanjikan,” tutur dia dalam paparan public, Senin (27/10/2025).
Lebih jauh ditegaskannya, sejauh ini memang segmen minyak dan gas itu masih menjadi kontributor terkuat dalam hal kontribusi pendapatan. Maka dari itu, perseroan memastikan tak bakal meninggalkan industri minyak dan gas meski mulai merambah energi bersih.
Apalagi, kata dia, bisnis gas juga sebagai wujud nyata transisi ke energi bersih. “Gas ini kami pandang sebagai transisi energi, bukan energi kotor tapi juga belum sepenuhnya bersih. Baik dalam bentuk gas mentah maupun LNG, potensinya masih sangat besar,” tandas dia.
Terlebih, dia menegaskan, seiring menipisnya sumber gas di Jawa dan Sumatera serta meningkatnya potensi di wilayah Indonesia Timur, kebutuhan transportasi energi dalam bentuk LNG masih solid.
“Makanya, segmen liquefaction dan transportasi LNG, termasuk melalui akuisisi Grup Hafar yang memiliki kapal pengangkut LNG itu sangat prospektif,” katanya.

Di tempat yang sama, Presiden Direktur RAJA Djauhar Maulidi menegaskan, ada lima pilar yang menjadi kekuatan RAJA. Pertama, memiliki eksposur kontrak jangka panjang. Saat ini, kata dia, perseroan memiliki beberapa kontrak dengan durasi mid to long-term hingga sampai dengan 17 tahun. Selain itu, perseroan juga memiliki stable dan sustainable recuring income.
Kedua, profil keuangan yang kuat dengan pertumbuhan yang berkelanjutan. “Tentu dengan rasio keuangan yang solid dan pertumbuhan EBITDA yang kuat, RAJA terus menjaga kinerja keuangan untuk mendukung ekpsansi berkelanjutan di sektor energi,” katanya.
Ketiga, investasi strategis berama mitra energi terkemuka. Kemitraan strategis RAJA dengan perusahaan energi nasional dan global terkemuka, disebut Djauhar, mencerminkan komitmen Perseroan untuk bertumbuh secara berkelanjutan dan memperkuat posisinya sebagai mitra terpercaya dalam bisnis energi Indonesia.
Keempat, berinvestasi dengan tata kelola perusahaan yang solid. RAJA menjalankan tata kelola perusahaan yang kuat dengan penerapan manajemen risiko yang menyeluruh, memastikan setiap keputusan investasi dilakukan secara disiplin dan transparan.
“Dan kelima, tim manajemen berpengalaman dan memiliki kualifikasi tinggi. Ini didukung oleh manajemen dan dewan komsiaris yang berpengalaman lintas industri energi, keuangan, dan pemerintahan, RAJA memiliki kepemimpinan yang solid dan kredibel untuk mengakselerasi pertumbuhan berkelanjutan serta memperkuat tata kelola Perusahaan,” tandas Djauhar.
Ogi kembali menambahkan, terkait proyek energi baru terbarukan (EBT) lewat rencana akuisisi biomassa, biogas, serta proyek mini dan mikrohidro, Perseroan menegaskan, porsi pendapatannya bisa berkontribusi sekitar 10% pada 2026, dan meningkat secara bertahap di tahun-tahun berikutnya.
“Ini tentu kami hitung baik dari sisi keekonomian maupun potensi investasinya,” pungkas Ogi.
