Jakarta, TopBusiness — Memiliki ambisi untuk mengoperasikan 300 properti hotel pada 2027, Artotel Group berkomitmen untuk memperkuat fondasi sumber daya manusia (SDM) melalui program STAR (Selection, Transform, Align, Retain).
STAR ini merupakan program pengembangan human capital yang dirancang agar karyawan tidak hanya kompeten, tetapi juga selaras dengan nilai dan filosofi kreatif perusahaan.
“Kami percaya bahwa pertumbuhan bisnis hanya akan berkelanjutan bila diimbangi dengan penguatan people dan culture. STAR kami rancang sebagai strategi terintegrasi untuk membangun talenta yang adaptif, kompetitif, dan memiliki sense of belonging yang kuat terhadap Artotel Group,” ujar Harry Florentinus, Direktur Human Resources Artotel Group, dalam sesi presentasi penjurian TOP Human Capital Awards 2025 yang dilakukan secara daring, Jumat (24/10/2025).
Hadir pula dalam penjurian ini, Laxmi Agustina (General Manager HR), Tri Setyo Nugroho (Learning & Development Manager), Ismail Budiartho (Learning & Development Coordinator), Chintya Adhitya (Talent Acquisition Coordinator), Vanesha Hershinta (HR Officer), serta Ahmad Fajar (HR Officer).
Didirikan oleh Erastus Radjimin dan Christine Radjimin pada 2012 saat keduanya masih berusia 20-an, Artotel Group tumbuh dari semangat muda dan visi besar untuk menjadi local hero di industri hospitality.
Dengan mengusung konsep creative hospitality, grup ini kini telah mengelola 106 properti dari Aceh hingga Jayapura, dan terus memperluas jangkauan melalui akuisisi brand-brand hotel lokal seperti Dafam, Maxone, dan Kyriad.
Menurut Harry, ekspansi Artotel Group justru berkembang saat pandemi atau di kala ekonomi sedang menurun. “Saat orang lain pada tutup hotel, kami malah aktif untuk mengakuisisi dan mengembangkan diri kami menjadi sebesar sekarang. Di tahun 2017, sebelum pandemi, kami hanya memiliki 14 properti, dan semua itu adalah brand-nya Artotel. Tapi begitu quantum leap kami lakukan di tahun 2021, di saat pandemi, kami berkembang menjadi 40 properti. Dan di tahun 2023, setelah kami mengakuisisi Dafam, Kyriad, dan juga Maxone atau MPHG, kami berkembang menjadi 100 properti,” tuturnya.
Ekspansi Artotel Group terus berlanjut dengan target memiliki 300 properti pada 2027. “Challenge kami adalah di tahun ini, kita sedang menghadapi opening lebih dari 28 properti. Masih ada sekitar 18 lagi yang masih harus kami opening hingga akhir tahun 2025 ini,” ujar Harry.
Dalam ekspansinya yang cepat, Artotel menghadapi tantangan besar dalam menyatukan beragam kultur kerja dari berbagai brand hasil akuisisi. Maka sejak awal Artotel Group berupaya membangun sistem dan budaya kerja yang menyatukan seluruh brand di bawah satu nilai yang disebut ARTIST, atau Act, Rehearse, Transformative, Influence, Sustainability, dan Thrive.
“Makanya kami buatkan ‘Pancasila’ yang bisa disepakati oleh seluruh brand. Kami menyebutnya sebagai ARTIST, karena kami menganggap bahwa kami ini seolah-olah berada di atas panggung, yang memberikan suatu performance, yang memberikan experience bagi seluruh tamu ataupun pelanggan kami, sehingga mereka bisa mendapatkan experience yang unik,” ujar Harry.
Filosofi ARTIST ini juga menjadi dasar dalam program pengembangan SDM, di mana setiap karyawan diarahkan untuk menjadi pribadi yang kreatif, kolaboratif, dan berdampak.
“Kami bukan sekadar hotel operator. Kami adalah creative hospitality company. Karena itu, karyawan kami tidak hanya dituntut bisa mengelola kamar ataupun FnB, tapi juga memahami empat pilar utama bisnis kami, yaitu stay, dine, play, dan shop. Dari sinilah program STAR kami lahir untuk memastikan semua aspek itu berjalan dengan baik,” jelasnya.
Progam STAR
Program STAR menjadi inti dari manajemen human capital Artotel Group. Empat komponen utamanya – Selection, Transform, Align, dan Retain — dirancang untuk memastikan proses SDM berjalan menyeluruh, mulai dari rekrutmen hingga retensi.
- Selection
Artotel menempatkan proses seleksi sebagai fase paling krusial.
“Kami percaya 50% pekerjaan HR selesai jika kami bisa menyeleksi orang yang tepat, sesuai dengan company value dan kompetensi yang dibutuhkan,” kata Harry.
Dalam praktiknya, proses rekrutmen dilakukan dengan pendekatan multidimensi, bukan hanya oleh HR dan atasan langsung, tetapi juga melibatkan lintas departemen agar tercipta konsensus dan rasa memiliki sejak awal.
- Transform
Setelah terpilih, karyawan menjalani proses transformasi selama enam bulan. Proses ini meliputi onboarding, pelatihan lintas properti, dan internalisasi budaya kerja.
“Transformasi bukan sekadar pelatihan teknis, tapi juga pembentukan karakter dan mindset. Kami bahkan menggunakan teknologi AI untuk mendukung self-learning melalui program ARMS (Artist Manual Standard), yang menghubungkan coach dan mentee dalam proses pembelajaran digital dan evaluasi kinerja secara langsung,” terang Harry.
- Align
Tahap berikutnya adalah menyelaraskan kompetensi individu dengan kebutuhan kompetisi bisnis. Artotel mengembangkan sistem sertifikasi internal yang menjadi dasar promosi dan mobilitas talenta.
“Kami ingin semua karyawan siap bersaing, bukan hanya di level operasional, tapi juga dalam leadership. Karena itu kami bekerja sama dengan Universitas Trisakti, BINUS, dan Prasetiya Mulya untuk menghadirkan program pelatihan dan sertifikasi yang terstruktur,” ujarnya.
- Retain
Tahap terakhir adalah mempertahankan talenta terbaik. Artotel memberikan beasiswa S2, penghargaan kinerja, hingga program kesejahteraan seperti wellness dan life balance.
“Kami punya retention rate 97%. Angka ini menunjukkan bahwa orang betah bukan karena uang, tapi karena lingkungan kerja yang sehat, kesempatan belajar, dan kultur yang menghargai kreativitas,” tegas Harry.
Investasi Besar di Learning Center dan AI
Untuk memperkuat penerapan STAR, Artotel Group berinvestasi membangun Learning Center di bawah payung “Artotel Learning Institute” yang berlokasi di Jakarta. Fasilitas ini menjadi pusat pelatihan bagi seluruh karyawan dari berbagai brand di bawah Artotel Group.
Pada 2023, Artotel Group mengalokasikan training cost Rp1,15 miliar. Tapi tahun 2024 naik menjadi Rp 5,12 miliar karena perusahaan membangun learning center dan memperluas program sertifikasi.
“Kami ingin menjadi perusahaan hospitality lokal pertama yang memiliki sistem pengembangan SDM terintegrasi dengan universitas dan teknologi AI,” ungkap Harry.
AI juga dimanfaatkan untuk mempercepat proses onboarding dan performance management. Melalui sistem ARMS, setiap atasan berperan sebagai coach dan mentor langsung bagi bawahannya, sementara evaluasi dilakukan secara digital dan otomatis tersimpan dalam intranet internal.
“Dengan AI, karyawan bisa belajar mandiri kapan pun. Tapi tetap ada supervisi manusia, karena kami percaya keseimbangan antara teknologi dan sentuhan personal adalah kunci dalam industri hospitality,” tambahnya.
Apresiasi dan Penghargaan untuk SDM
Untuk menjaga motivasi, Artotel rutin memberikan penghargaan kepada karyawan berprestasi dalam berbagai bentuk, mulai dari paket umrah, beasiswa pendidikan, hingga employee recognition award di tingkat nasional. Setiap kuartal juga diadakan employee meeting yang terbuka untuk seluruh staf, agar komunikasi vertikal tetap transparan.
Selain itu, Artotel juga aktif menjalankan CSR inklusif, dengan mempekerjakan karyawan penyandang disabilitas. Program ini telah berjalan lebih dari tiga tahun.
“Kami ingin hospitality tidak hanya tentang melayani tamu, tapi juga menciptakan kesempatan bagi semua,” ujar Harry.
Bagi Artotel Group, pengembangan SDM bukan hanya alat untuk ekspansi, tetapi juga fondasi untuk menjadikan perusahaan sebagai ikon hospitality lokal yang mampu bersaing dengan jaringan hotel global.
“Kami ini local hero. Kami ingin membuktikan bahwa brand lokal bisa bersaing dengan big brand hotel lainnya” ujar dia.
Keberhasilan manajemen dalam mengembangkan human capital inilah yang membuat Artotel Group terpilih menjadi kandidat peraih TOP Human Capital Awards 2025.
