TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Emas Mengilap, RI Diproyeksi Jadi Magnet Investasi Logam dan Pertambangan pada 2026

Nurdian Akhmad
26 November 2025 | 19:23
rubrik: Business Info
Emas Mengilap, RI Diproyeksi Jadi Magnet Investasi Logam dan Pertambangan pada 2026

Jakarta, TopBusiness – Prospek industri logam dan pertambangan terus mengilap, seiring bergesernya arah investasi global dan meningkatnya kebutuhan mineral untuk teknologi masa depan.

Dalam media briefing di Jakarta, Rabu (26/11/2025), Managing Director Global Head of Metals and Mining DBS Bank Ltd, Mike Zhang, menyebut emas sebagai komoditas mineral logam paling menguntungkan dalam jangka panjang. “Emas merupakan logam dengan kinerja terbaik dan yang paling menguntungkan,” ujarnya.

Tren investasi masyarakat global, termasuk di Indonesia, menjadi pendorong utama mengapa emas terus menjadi primadona. Mike memaparkan, berbagai perusahaan memproyeksikan belanja modal (capex) industri pertambangan mencapai US$ 3,5 triliun dalam 10 tahun ke depan.

Namun, bukan hanya emas yang mencuri perhatian. Komoditas lain seperti tembaga, timah, kobalt, dan bijih besi juga memiliki prospek cerah. Secara khusus, ia menyoroti banyaknya proyek-proyek besar bijih besi di Afrika yang digarap perusahaan-perusahaan Tiongkok. Sementara itu, aluminium dan tembaga diperkirakan mengalami peningkatan kebutuhan seiring perluasan adopsi teknologi dan manufaktur global.

Dari sisi harga, Mike memperkirakan perbaikan signifikan pada 2026. “Harga timah akan menguat lagi tahun depan. Kemudian harga nikel yang telah terpangkas di bawah US$ 15.000 per ton akan meningkat. Demikian juga untuk batu bara, aluminium dan tembaga,” katanya.

Indonesia menjadi pemain besar dalam dinamika nikel dunia. Pada 2020, sebanyak 30% suplai nikel global berasal dari Indonesia. Angkanya melonjak menjadi 70% pada 2025. “Pertumbuhannya tahun depan akan mencapai 75% dan akan berlanjut setiap tahun,” tutur Mike.

Senior Economist DBS Bank, Radhika Rao juga menilai, prospek penanaman modal asing (FDI) ke Indonesia tetap solid pada 2026. Ia memproyeksikan investasi masuk tahun depan bisa mencapai US$ 50–60 miliar, dengan 60–70% di antaranya mengalir ke sektor pengolahan logam dasar.

BACA JUGA:   Tak Mampu Ikuti Wall Street, Bursa Asia Dibuka Melemah

Dalam lima tahun terakhir, Indonesia secara konsisten mencetak rekor FDI baru setiap tahun, meski tahun ini terjadi sedikit moderasi pada tiga kuartal pertama. “Pandangan keseluruhan saya terhadap prospek FDI masih cukup optimistis,” kata Radhika.

Ia menggarisbawahi bahwa tren investasi global kini berubah. Jika sebelumnya banyak modal masuk ke Tiongkok, kini negara tersebut mencatat peningkatan signifikan dalam investasi ke luar negeri (outbound investment), terutama menuju negara-negara ASEAN. Pertumbuhan memang melambat, tetapi secara total nilainya masih besar, dan Indonesia menjadi salah satu tujuan utama.

Selain Tiongkok, negara seperti Singapura, Hong Kong, dan Jepang juga menjadi investor kunci dalam pembangunan industri logam di Indonesia. Hilirisasi menjadi daya tarik utama, seiring cadangan besar mineral strategis seperti nikel, bauksit, batu bara, hingga tembaga.

Radhika mengingatkan bahwa persaingan global di industri logam dan pertambangan semakin ketat. Tiongkok masih mendominasi kapasitas pengolahan mineral, sementara negara lain yang memiliki cadangan mulai mempercepat hilirisasi. Produk hilir logam kini banyak dibutuhkan untuk sektor teknologi tinggi, seperti baterai kendaraan listrik, semikonduktor, telekomunikasi, hingga data center.

Meski fokus bahan baku baterai global mulai bergerak dari nikel menuju lithium, Radhika menilai permintaan nikel tetap kokoh. “Kami tidak melihat nikel sebagai komoditas yang mengalami siklus boom and bust. Permintaan akan tetap kuat, baik dari kendaraan listrik, baterai, maupun industri lainnya,” tegasnya.

Tags: dbs bankindustri logamindustri pertambangan
Previous Post

Dirut BPR Bahteramas Konawe Ahmat jadi Ketua Perbamida Sultrasel Periode 2025-2030

Next Post

Menperin: Investasi Nasional kian Lirik Industri Manufaktur

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR