Jakarta, TopBusiness—Perekonomian RI perlu terus mencermati lima tantangan global. Hal itu adalah berlanjutnya kebijakan tarif AS, melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia, tingginya utang Pemerintah dan suku bunga negara maju, tingginya kerentanan dan risiko sistem keuangan dunia.
“Juga, ada maraknya uang kripto dan stablecoins pihak swasta,” kata Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, dalam keterangan resmi, akhir pekan kemarin.
Sinergi merupakan prasyarat dalam memerkuat transformasi ekonomi nasional agar pertumbuhan dapat lebih tinggi dan berdaya tahan. Sinergi kebijakan perlu terus diperkuat untuk menghadapi berbagai tantangan yang semakin kompleks. Dalam hal itu, kata Perry, ada lima area penting, yakni: memerkuat stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan; mendorong pertumbuhan lebih tinggi dan berdaya tahan;c meningkatkan pembiayaan perekonomian dan pasar keuangan.
Lalu, mengakselerasi digitalisasi ekonomi-keuangan nasional; memerkuat kerjasama ekonomi bilateral dan regional.
Sinergi kebijakan transformasi sektor riil untuk meningkatkan modal, tenaga kerja, dan produktivitas, diperlukan untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi dan berdaya tahan.
Kebijakan transformasi sektor riil ditempuh baik melalui kebijakan industrial maupun kebijakan reformasi struktural, yang saling melengkapi.
Kebijakan industrial diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah produksi dari sektor-sektor prioritas nasional, termasuk diantaranya hilirisasi khususnya berbasis sumber daya alam, industri teknologi, serta indusri padat karya.
Sementara itu, kebijakan struktural diarahkan untuk perbaikan iklim investasi, persaingan usaha yang sehat, konektivitas infrastruktur, serta penguatan kebijakan perdagangan dan investasi, termasuk melalui Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sebagai pusat-pusat pertumbuhan.
“Bauran kebijakan Bank Indonesia pada tahun 2026 akan terus diarahkan untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas, dalam sinergi erat dengan bauran kebijakan ekonomi nasional,” kata Perry pula.
