Jakarta, TopBusiness — Ketua Tim Pelaksana Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (Wantiknas), Dr. Ilham Akbar Habibie, menegaskan bahwa transformasi digital merupakan instrumen strategis bagi daya saing, kedaulatan, dan ketahanan nasional Indonesia. Transformasi digital bukan lagi pelengkap, tetapi prasyarat bagi negara untuk bersaing dan berkembang di masa depan.
Pesan itu ia sampaikan dalam keynote speech pada acara puncak TOP Digital Awards 2025 yang digelar di Dian Ballroom, Hotel Rafless, Jakarta, Kamis (5/12/2025). Acara ini dihadiri ratusan perusahaan dan institusi pemenang TOP Digital Awards 2025.
Ilham menekankan bahwa teknologi dan inovasi digital menjadi fondasi penting bagi upaya mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045. Empat pilar pembangunan nasional dalam visi tersebut, mulai dari pembangunan manusia yang menguasai IPTEK hingga penguatan ketahanan nasional, tidak mungkin dicapai tanpa penguasaan teknologi.
“Kemandirian bangsa hari ini tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengelola pangan dan energi, tetapi juga oleh kemampuan menjaga kedaulatan data dan mengembangkan teknologi sendiri,” ujar dia.
Sejak 2021, Wantiknas menerima mandat khusus dari pemerintah untuk mendampingi agenda transformasi digital nasional. Karena itu, lembaga ini terus memberikan rekomendasi, arah kebijakan, serta pengawalan terhadap berbagai program digitalisasi di tingkat pusat maupun daerah.
Ia juga menyoroti bahwa transformasi digital telah menjadi penggerak utama daya saing global. Digitalisasi bukan lagi sekadar penggunaan perangkat atau aplikasi, tetapi sebuah ekosistem yang menopang peningkatan industri, pelayanan publik, hingga pertumbuhan ekonomi.
Ilham mengingatkan bahwa kontribusi ekonomi digital secara global telah mencapai sekitar 15 persen dari PDB dunia. Indonesia, katanya, sedang menuju arah yang sama, tetapi membutuhkan penguatan infrastruktur, peningkatan literasi digital, perbaikan kurikulum pendidikan, serta integrasi sistem yang lebih baik agar mampu melompat lebih cepat.
Di bagian lain, Ilham menekankan bahwa era digital menuntut operational excellence sebagai fondasi utama. Pengambilan keputusan harus berbasis data, dianalisis secara cepat, bahkan real time, serta memanfaatkan kemampuan kecerdasan buatan. Pemimpin nasional maupun institusi, menurutnya, harus memiliki kepemimpinan digital yang kuat, ditopang tata kelola digital yang baik, serta ekosistem teknologi yang memadai.
“Ketiga hal tersebut harus melahirkan budaya kerja yang kolaboratif, adaptif, dan berbasis data. Dalam konteks pemerintahan, orientasi akhirnya harus selalu mengarah pada kualitas layanan publik dan peningkatan kepercayaan Masyarakat,” tuturnya.
Ilham juga mengingatkan tentang meningkatnya risiko keamanan siber. Semakin luas pemanfaatan teknologi cloud dan AI, semakin besar pula peluang terjadinya serangan siber. Ia menyebut bahwa rata-rata biaya kebocoran data global kini sudah mencapai 4,4 juta dolar AS per insiden.
Situasi ini membuat keamanan siber tidak lagi bersifat tambahan, melainkan menjadi prasyarat utama bagi transformasi digital. Tanpa keamanan, katanya, sulit membayangkan masyarakat dan institusi bisa merasa tenang dalam memanfaatkan teknologi secara intensif.
Ilham juga menyoroti sejumlah teknologi yang berpotensi menjadi pengubah permainan di masa depan, antara lain kecerdasan buatan, quantum computing, keamanan siber, robotika dan otomatisasi, konektivitas 5G, serta Internet of Things. Teknologi-teknologi ini, menurutnya, akan membentuk ulang cara industri bekerja dan menentukan kapasitas Indonesia untuk bersaing di kancah global.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya literasi digital, terutama karena mayoritas konten global masih didominasi bahasa Inggris. Keterampilan memahami bahasa tersebut dinilai penting agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi secara produktif, bukan sekadar konsumtif.
Menutup paparannya, Ilham jmenyampaikan selamat kepada para pemenang TOP Digital Awards 2025 dan mengajak semua pihak untuk tidak berhenti berinovasi demi membawa Indonesia menjadi negara unggul dan kuat pada 2045.
