Jakarta, TopBusiness—Sebagai bagian dari industri agro, sektor pulp dan kertas memiliki kontribusi signifikan terhadap ekonomi nasional. Sepanjang 2024, nilai ekspor industri pulp dan kertas Indonesia mencapai USD 8,09 miliar dengan volume 11,98 juta ton.
“Sementara impor tercatat USD 3,42 miliar,” kata Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Putu Juli Ardika, dalam keterangan resmi, hari ini.
Hingga pertengahan 2025, terdapat 113 perusahaan pulp dan kertas dengan total kapasitas produksi 11,43 juta ton pulp dan 21,31 juta ton kertas.
“Sektor ini juga berkontribusi 3,68 persen terhadap PDB nonmigas,” kata Putu saat membuka Seminar Pembukaan Rapat Kerja Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Tahun 2025.
Secara global, Indonesia menempati peringkat tujuh produsen pulp dunia dan peringkat enam produsen kertas terbesar dunia, dengan kapasitas industri yang terus berkembang.
“Industri ini menyerap lebih dari 288 ribu tenaga kerja langsung dan sekitar 1,2 juta tenaga kerja tidak langsung,” ungkap Putu.
Meski mencatatkan kinerja positif, industri pulp dan kertas dihadapkan pada tantangan global untuk memercepat transformasi menuju industri berkelanjutan.
Sektor industri menyumbang sekitar 34 persen emisi nasional, dengan kontribusi industri pulp dan kertas mencapai 15,55 persen dari total emisi sektor industri.
Pemerintah menegaskan komitmennya untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) sektor industri pada 2050, serta mendukung target NZE Indonesia 2060 atau lebih cepat, melalui penyusunan roadmap dekarbonisasi industri pulp dan kertas nasional.
Roadmap tersebut mencakup peningkatan efisiensi energi, pemanfaatan energi terbarukan, penguatan bauran energi bersih, pengelolaan limbah terintegrasi, hingga adopsi teknologi maju seperti CCS/CCUS dan pemanfaatan biomassa berkelanjutan.
Putu mengatakan, pihaknya juga mendorong penerapan ekonomi sirkular, antara lain melalui pemanfaatan kertas daur ulang (KDU) sebagai bahan baku. Model ini dinilai mampu menghemat energi hingga 60 persen dibandingkan produksi pulp dari bahan baku primer. “Ekonomi sirkular tidak hanya menurunkan emisi dan limbah, tetapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi, mengurangi ketergantungan impor, serta membuka peluang green jobs di berbagai daerah,” tegasnya.