Jakarta, TopBusiness – Industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) diproyeksikan menjadi salah satu subsektor makanan dan minuman (mamin) yang paling diuntungkan dari stabilnya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026. Kebutuhan masyarakat terhadap air minum yang aman, higienis, dan mudah diakses dinilai akan terus menopang kinerja industri ini.
Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi Lukman mengatakan, permintaan produk makanan dan minuman secara umum masih menunjukkan tren positif, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kualitas dan keamanan produk.
“Sektor makanan dan minuman akan tetap menjadi salah satu motor penggerak industri manufaktur nasional pada 2026,” ujar Adhi dalam keterangannya, Selasa (6/1/2026).
Pemerintah sebelumnya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5,0–5,4 persen. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan peran konsumsi, investasi, dan reformasi struktural sebagai pendorong utama pertumbuhan. Sementara itu, Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani dan Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie menilai konsumsi domestik yang kuat serta stabilitas makroekonomi akan menjaga pertumbuhan tetap berada di atas 5 persen.
Dalam konteks tersebut, Adhi menegaskan industri AMDK sebagai bagian dari subsektor mamin diperkirakan turut menikmati dampak positif dari pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kebutuhan masyarakat terhadap air minum yang aman, higienis, dan mudah diakses menjadi faktor utama yang menopang kinerja industri ini,” katanya.
Sejalan dengan itu, Ketua Umum Asosiasi Produsen Air Kemasan Nusantara (Amdatara) Karyanto Wibowo menilai 2026 akan menjadi periode krusial bagi industri AMDK nasional untuk menunjukkan ketahanan sekaligus kontribusinya terhadap perekonomian Indonesia.
“Pertumbuhan ekonomi yang stabil harus diiringi dengan peningkatan efisiensi produksi, penguatan rantai pasok, serta inovasi produk,” ujar Karyanto.
Ia menambahkan, kehadiran Amdatara sebagai asosiasi baru di industri AMDK bertujuan memperkuat konsolidasi pelaku usaha.
“Amdatara menjadi wadah kolaborasi produsen air kemasan untuk membangun industri yang berdaya saing, bertanggung jawab, dan berkelanjutan, sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah,” katanya.
Secara historis, industri AMDK Indonesia mencatat pertumbuhan yang relatif konsisten dalam satu dekade terakhir. Menurut Karyanto, pertumbuhan tersebut didorong oleh sejumlah faktor, antara lain pertumbuhan jumlah penduduk, urbanisasi yang semakin masif, serta meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya akses terhadap air minum yang aman.
Dengan kombinasi pertumbuhan ekonomi yang solid, meningkatnya kebutuhan air minum berkualitas, serta peran aktif Amdatara dalam mengonsolidasikan pelaku usaha, industri AMDK diproyeksikan terus tumbuh dan menjadi salah satu pilar penting sektor makanan dan minuman Indonesia pada 2026.
