Jakarta, TopBusiness – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menghentikan sementara kegiatan tambang di seluruh wilayah izin usaha pertambangan khusus (IUPK) perseroan awal tahun ini.
Langkah itu diambil lantaran perseroan belum mendapat persetujuan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) dari Kementerian ESDM untuk periode tahun ini.
“Keterlambatan persetujuan RKAB berdampak pada penundaan sementara kegiatan operasional perseroan di seluruh wilayah IUPK perseroan,” kata Corporate Secretary INCO Anggun Kara Nataya lewat keterbukaan informasi, Jumat (2/1/2026).
Kendati demikian, Anggun menegaskan, keterlambatan RKAB itu tidak menimbulkan dampak material langsung terhadap kondisi keuangan INCO saat ini.
Dia berharap permohonan RKAB INCO dapat diterbitkan otoritas mineral dan batu bara dalam waktu dekat.
“Perseroan meyakini keterlambatan ini tidak akan menganggu keberlanjutan operasional secara keseluruhan dan berharap persetujuan RKAB 2026 dapat diterbitkan dalam waktu dekat,” kata dia.
Untuk diketahui, Vale saat ini tengah mengembangkan tiga tambang besar tersebar di Bahodopi, Pomalaa, dan Sorowako yang dikombinasikan dengan pembangunan fasilitas smelter.
Tambang Bahodopi menjadi salah satu proyek strategis perseroan dalam diversifikasi produk. Dengan masuknya Bahodopi ke tahap produksi, INCO bisa meningkatkan eksposur penjualan saprolit, yang sebelumnya bertumpu pada nickel matte.
Penjualan saprolit dari tambang Bahodopi dilakukan pada Juli 2025, dengan total penjualan bijih nikel saprolit mencapai 896.263 metrik ton basah per September 2025.
Setelah itu, proyek Pomalaa dijadwalkan menyusul pada kuartal II-2026, sedangkan Sorowako akan menjadi tahap akhir dari rangkaian ekspansi tambang Vale Indonesia. Ketiga tambang tersebut sepenuhnya dimiliki oleh perusahaan.
Dalam pengembangan lini hilir, Vale bermitra dengan sejumlah pemain global untuk membangun fasilitas smelter berbasis high pressure acid leach (HPAL).
