Jakarta, TopBusiness — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup tahun 2025 dengan kinerja positif yang kuat.
Menurut data resmi, IHSG mencatatkan kenaikan sekitar 22,1 persen secara year-to-date dan menutup perdagangan di level 8.644,26, sementara kapitalisasi pasar melonjak ke Rp15.810 triliun di akhir Desember 2025. Penguatan itu mencerminkan meningkatnya partisipasi investor domestik sepanjang tahun lalu.
Memasuki 2026, sejumlah analis pasar modal melihat momentum positif pasar saham Indonesia berlanjut.
Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia memproyeksikan IHSG dapat menembus level 10.500 di tahun ini, didorong oleh kinerja sektor perbankan, energi, dan telekomunikasi.
“Mirae Asset Sekuritas Indonesia memproyeksikan IHSG pada 2026 berada pada 10.500,” ucap Nafan, belum lama ini, dikutip Kamis (8/1/2026).
Sejalan dengan proyeksi tersebut, Nafan menyebutkan 10 saham yang memiliki potensi cuan tinggi di 2026 berdasarkan fundamental dan sentimen pasar:
- BBRI – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (perbankan besar)
- BBCA – PT Bank Central Asia Tbk (perbankan besar)
- BMRI – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (perbankan besar)
- BBNI – PT Bank Negara Indonesia Tbk (perbankan besar)
- ADRO – PT Adaro Energy Indonesia Tbk (energi/pertambangan)
- INCO – PT Vale Indonesia Tbk (pertambangan nikel)
- ISAT – PT Indosat Tbk (telekomunikasi)
- PGAS – PT Perusahaan Gas Negara Tbk (energi utilitas)
- UNVR – PT Unilever Indonesia Tbk (konsumer)
- WIFI – PT Solusi Sinergi Digital Tbk (teknologi/digital)
Menurut Nafan, saham-saham tersebut dipilih karena fundamental masing-masing emiten yang solid, potensi pertumbuhan laba, serta peran sektor strategis dalam pendorong IHSG 2026.
“Sektor perbankan diproyeksikan tetap menjadi tulang punggung pasar domestik, didukung oleh permintaan kredit yang stabil. Sektor energi juga akan mendapat dukungan dari permintaan komoditas global, sementara telekomunikasi akan terus didorong oleh pertumbuhan data dan layanan digital,” katanya.
Sementara untuk kinerja saham tahun lalu, berdasarkan catatan Bursa Efek Indonesia (BEI), saham-saham dengan kenaikan tertinggi sepanjang 2025 didominasi emiten berkapitalisasi kecil dan menengah, terutama dari sektor teknologi, energi, dan investasi.
Beberapa saham yang mencatatkan lonjakan harga tertinggi antara lain PT Indokripto Koin Semesta Tbk (IDX: COIN), PT Multi Makmur Lemindo Tbk (IDX: PIPA), PT Cakra Buana Resources Energi PT Tbk (IDX: CBRE), PT Mitra International Resources Tbk (IDX: MIRA), PT DCI Indonesia Tbk (IDX: DCII), Chandra Daya Investasi Tbk (IDX: CDIA), PT Pradiksi Gunatama Tbk (IDX: PGUN), PT Solusi Sinergi Digital Tbk (IDX: WIFI), PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (IDX: COCO), serta PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (IDX: PADI).
Kenaikan saham-saham tersebut dipicu kombinasi sentimen kinerja keuangan, aksi korporasi, serta tingginya minat investor ritel.
Risiko dan Tantangan
Meski proyeksi IHSG dan potensi saham berpotensi cuan tetap optimistis, kata dia, investor tetap berhati-hari terhadap risiko eksternal, seperti dinamika suku bunga global, potensi volatilitas nilai tukar, dan pergeseran arus modal asing. Sentimen global juga dapat memengaruhi likuiditas dan arah pasar dalam jangka pendek.
Secara keseluruhan, langkah strategis emiten besar dan pola pertumbuhan ekonomi domestik menjadi faktor utama yang akan menentukan arah pasar modal Indonesia sepanjang 2026, seiring IHSG bergerak menuju level yang lebih tinggi dan mencerminkan fundamental pasar yang mendukung. (AI)
