Jakarta, TopBusiness — Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai capaian kinerja sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM) sepanjang tahun 2025 belum menunjukkan kemajuan berarti dalam mendorong transisi energi dan memperkuat ketahanan energi nasional. Evaluasi IESR terhadap laporan Kementerian ESDM menunjukkan masih dominannya energi fosil, lambannya pengembangan energi terbarukan, serta meningkatnya berbagai risiko struktural di sektor energi.
Chief Executive Officer IESR, Fabby Tumiwa, menyampaikan bahwa meskipun beberapa indikator kinerja ESDM terlihat memenuhi target, kualitas target dan arah kebijakannya justru menunjukkan kemunduran. Salah satunya tercermin dari capaian lifting minyak bumi tahun 2025 yang dilaporkan sebesar 605,3 ribu barel per hari, sedikit di atas target APBN 2025.
“Target lifting minyak 2025 sangat rendah dan terus menurun sejak 2020. Selain itu, perhitungan lifting minyak yang memasukkan Natural Gas Liquid (NGL) berpotensi menutupi kondisi riil produksi minyak bumi nasional,” ujar Fabby.
IESR juga menyoroti perbedaan data lifting minyak antara Kementerian ESDM dan SKK Migas pada semester pertama 2025. Kondisi ini dinilai semakin menjauhkan Indonesia dari target produksi minyak satu juta barel per hari serta memperkuat ketergantungan terhadap impor minyak mentah dan BBM yang rata-rata mencapai sekitar satu juta barel per hari.
Dari sisi energi terbarukan, Kementerian ESDM melaporkan bauran energi terbarukan sebesar 15,75 persen pada 2025, naik dibandingkan 2024. Namun, IESR menilai capaian tersebut masih berada di bawah target Kebijakan Energi Nasional yang telah direvisi. Penambahan kapasitas energi terbarukan sepanjang 2025 juga dinilai minim, yakni hanya sekitar 1,3 GW.
IESR mencatat bahwa peningkatan kapasitas energi terbarukan pada 2025 sebagian besar ditopang oleh pemasangan PLTS atap oleh konsumen listrik. Sementara itu, realisasi proyek energi terbarukan yang direncanakan dalam RUPTL PLN belum berjalan sesuai target.
Berdasarkan kajian Indonesia Energy Transition Outlook (IETO) 2026, IESR menegaskan bahwa percepatan transisi energi sangat menentukan arah emisi gas rumah kaca dan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. Tanpa upaya tambahan, emisi diproyeksikan terus meningkat hingga 2060. Sebaliknya, peningkatan signifikan energi terbarukan dapat menurunkan emisi secara substansial tanpa menghambat pertumbuhan ekonomi.
Di bidang investasi, realisasi investasi energi baru terbarukan dan konservasi energi pada 2025 tercatat melampaui target. Namun demikian, IESR menilai investasi energi terbarukan Indonesia masih tertinggal dibandingkan tren global. Untuk mendorong investasi, diperlukan perbaikan kebijakan, konsistensi implementasi, pemberian insentif fiskal, serta percepatan proyek-proyek energi terbarukan yang telah direncanakan.
Sementara itu, produksi batu bara nasional pada 2025 kembali melampaui target. IESR menilai kondisi ini menunjukkan masih kuatnya ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil. Dalam konteks transisi energi global dan potensi penurunan harga batu bara, IESR mendorong pemerintah untuk segera menyiapkan skenario mitigasi risiko terhadap penerimaan negara, stabilitas fiskal, serta potensi aset terbengkalai di sektor keuangan.
Terkait kebijakan mandatori biodiesel B40, IESR mengingatkan pentingnya perhitungan trade-off penggunaan crude palm oil (CPO) sebagai bahan baku bahan bakar nabati. Peningkatan penggunaan CPO untuk BBN berpotensi menekan pasokan bagi sektor pangan, industri, dan ekspor, serta berisiko melemahkan keberlanjutan skema subsidi BBN.
Di sisi lain, IESR mengapresiasi capaian program listrik desa yang telah menjangkau puluhan ribu pelanggan di berbagai wilayah. Namun, IESR menekankan bahwa kualitas akses listrik, khususnya di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar, masih perlu ditingkatkan. Pemanfaatan energi terbarukan yang bersifat modular dan dikelola secara berkelanjutan dinilai dapat mempercepat elektrifikasi desa sekaligus meningkatkan keandalan pasokan listrik.
IESR menegaskan bahwa transparansi target, rencana aksi, serta indikator capaian menjadi kunci untuk meningkatkan kredibilitas kebijakan energi nasional dan membangun kepercayaan publik serta investor terhadap komitmen transisi energi Indonesia.
(Catatan: Penggunaan ChatGpt)
