Jakarta, TopBusiness – PT Krakatau Steel Tbk (IDX: KRAS) bersiap menangkap peningkatan permintaan baja nasional seiring dimulainya sejumlah Proyek Strategis Nasional (PSN) periode 2025–2029. Proyek-proyek tersebut diproyeksikan mendorong konsumsi baja secara signifikan dalam jangka menengah hingga panjang, terutama dari sektor kawasan industri dan konektivitas.
Pengamat Industri Baja dan Pertambangan Widodo Setiadharmaji menilai, implementasi PSN dalam lima tahun ke depan akan membentuk struktur permintaan baja yang lebih luas dan berkelanjutan. Menurutnya, PSN tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga menciptakan efek berantai bagi pertumbuhan industri manufaktur dan logistik nasional.
“PSN 2025–2029 tidak sekadar membangun proyek publik, tetapi membuka struktur permintaan baja baru yang berasal dari tumbuhnya kawasan industri, logistik, manufaktur, dan hilirisasi. Ketika infrastruktur publik terhubung dengan kawasan industri, multiplier konsumsi baja akan bergerak bertahap menuju level negara industri,” ujar Widodo dalam keterangannya, Rabu (14/1/2025).
Widodo menjelaskan, pembangunan PSN dilakukan secara bertahap dan mencakup tujuh kelompok strategis, yakni pangan, air, energi, hilirisasi, transformasi digital, pembangunan manusia, kawasan industri, serta konektivitas. Dari seluruh kelompok tersebut, pengembangan kawasan industri dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) diperkirakan menjadi penyerap baja terbesar.
Ia mencatat, kebutuhan baja untuk kawasan industri dan KEK diproyeksikan mencapai sekitar 12,4 juta ton. Sementara proyek konektivitas—meliputi jalan, rel kereta api, pelabuhan, bandara, serta utilitas kawasan, diperkirakan menyerap sekitar 8,9 juta ton baja. Kedua sektor tersebut dinilai menjadi fondasi utama bagi ekspansi manufaktur dan distribusi barang nasional.
Dalam proyeksinya, konsumsi baja nasional pada periode 2026–2029 diperkirakan meningkat dari sekitar 23 juta ton menjadi 32 juta ton. Tren kenaikan ini diprediksi berlanjut pada 2030–2034 dengan rata-rata konsumsi 36 juta ton per tahun, kemudian melonjak menjadi 59,5 juta ton per tahun pada 2035–2039. Bahkan, pada periode 2040–2045, konsumsi baja nasional berpotensi menembus 100 juta ton per tahun.
Menanggapi proyeksi tersebut, Direktur Utama PT Krakatau Steel Tbk Akbar Djohan menyatakan bahwa perseroan memandang PSN sebagai peluang strategis untuk memperkuat peran industri baja nasional. Menurutnya, KRAS tengah menyiapkan langkah transformasi dan peningkatan kapasitas guna merespons kebutuhan pasar domestik yang terus membesar.
“Kami siap bertransformasi dan memperluas kapasitas agar Indonesia tidak lagi bergantung pada baja impor,” ujar Akbar.
Ia menambahkan, peningkatan konsumsi baja akibat PSN perlu diimbangi dengan penguatan industri hulu nasional agar manfaat pembangunan dapat terserap maksimal di dalam negeri. Dalam konteks tersebut, keberlanjutan PSN dinilai tidak hanya menentukan arah pembangunan infrastruktur, tetapi juga masa depan industri baja nasional dalam jangka panjang.
