TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Pemerintah Fokus Investasi Energi Terbarukan, Hilirisasi, dan Perumahan

Nurdian Akhmad
15 January 2026 | 15:38
rubrik: Ekonomi
Pelindo Percepat Pengembangan Kawasan Industri Kuala Tanjung

Jakarta, TopBusiness – Pemerintah menatap 2026 dengan optimisme tinggi terhadap realisasi investasi nasional, meski ketidakpastian global diperkirakan masih berlanjut.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P Roeslani menegaskan, arah kebijakan investasi tahun ini akan difokuskan pada sektor-sektor yang memiliki daya ungkit tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

“Di tengah ketidakpastian global, justru selalu ada peluang. Indonesia menawarkan kejelasan arah, stabilitas, dan konsistensi kebijakan untuk investasi jangka panjang,” ujar Rosan dalam Konferensi Pers Capaian Realisasi Investasi 2025 di Kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM di Jakarta, Kamis (15/1/2025).

Salah satu fokus utama investasi 2026 adalah pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT). Pemerintah menargetkan bauran energi nasional ke depan didominasi energi bersih, sejalan dengan rencana PLN yang memproyeksikan sekitar 76% pasokan energi berasal dari EBT.

Rosan menyebut potensi energi terbarukan Indonesia sangat besar, mencapai sekitar 3.700 gigawatt, namun kapasitas terpasang saat ini baru sekitar 15,1 gigawatt. Potensi tersebut tersebar di berbagai wilayah, mulai dari tenaga surya, hidro, hingga panas bumi (geothermal).

“Geothermal menjadi salah satu yang paling menarik bagi investor. Tahun ini sudah ada proyek geothermal dari Jepang senilai sekitar US$900 juta yang mulai dibangun, termasuk di Aceh,” katanya.

Hilirisasi Meluas ke Non-Mineral

Selain energi, pemerintah akan melanjutkan percepatan hilirisasi pada 2026. Jika sebelumnya hilirisasi identik dengan mineral, ke depan kebijakan ini diperluas ke sektor pertanian, perkebunan, perikanan, minyak dan gas, serta batu bara.

Sepanjang 2025, realisasi investasi hilirisasi telah mencapai Rp584,1 triliun dan tumbuh lebih dari 40% secara tahunan. Pemerintah menilai tren ini akan berlanjut pada 2026, dengan fokus penangkapan nilai tambah di dalam negeri.

BACA JUGA:   Berikut, 3 Faktor Pendorong Ekonomi RI 2022

“Hilirisasi bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga penciptaan lapangan kerja, penguatan industri manufaktur, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui transfer teknologi,” ujar Rosan.

Sektor perikanan dan perkebunan diperkirakan menjadi kontributor baru investasi hilirisasi, mengingat daya serap tenaga kerjanya yang tinggi dan keterkaitannya langsung dengan ekonomi masyarakat.

Perumahan dan Kawasan Industri

Pemerintah juga memproyeksikan peningkatan signifikan investasi di sektor perumahan dan kawasan industri pada 2026. Hal ini sejalan dengan implementasi program perumahan nasional dan meningkatnya kebutuhan kawasan industri baru di luar Jawa.

“Investasi perumahan dan kawasan industri sudah terlihat di pipeline dan akan meningkat cukup signifikan tahun ini,” kata Rosan.

Pertumbuhan kawasan industri dipandang krusial untuk menopang ekspansi sektor manufaktur dan hilirisasi, sekaligus mempercepat pemerataan investasi ke luar Jawa.

Sektor ekonomi digital, khususnya pembangunan pusat data (data center), juga menjadi magnet investasi pada 2026. Pemerintah mencatat meningkatnya minat investor global, termasuk hyperscaler, yang melihat Indonesia sebagai pasar strategis kawasan Asia Tenggara.

“Investasi data center akan meningkat sangat signifikan. Ini berkaitan dengan kebutuhan ekonomi digital dan juga pengembangan energi bersih sebagai penopang operasionalnya,” ujar Rosan.

Investasi Luar Jawa Terus Didorong

Dari sisi wilayah, pemerintah akan memperkuat insentif investasi di luar Jawa. Sepanjang 2025, investasi luar Jawa mencapai 51,3% dari total realisasi nasional. Tren ini diharapkan berlanjut pada 2026, terutama di Sulawesi, Maluku, dan Kalimantan.

Rosan mencontohkan Sulawesi Tengah yang pertumbuhan ekonominya mampu mencapai sekitar 8%, jauh di atas rata-rata nasional, berkat investasi hilirisasi di Morowali dan Morowali Utara.

“Kami ingin investasi tidak hanya besar dari sisi nilai, tetapi juga merata dan berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi daerah,” katanya.

BACA JUGA:   DTS Indonesia 2023 Siap Digelar, Catat Tanggalnya

Menghadapi 2026, pemerintah menegaskan komitmen untuk terus mereduksi ketidakpastian regulasi. Menurut Rosan, investor dapat menerima risiko bisnis, namun membutuhkan kepastian kebijakan dan kejelasan data.

“Kami tidak menjanjikan dunia tanpa risiko, tetapi kami menawarkan kejelasan, konsistensi, dan arah yang jelas,” tegasnya.

Dengan fokus pada energi terbarukan, hilirisasi yang lebih luas, perumahan, kawasan industri, dan ekonomi digital, pemerintah optimistis investasi akan tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dan tahun-tahun berikutnya. (AI)

Tags: kepala BKPMrealisasi investasiRosan P Roeslani
Previous Post

Realisasi Investasi 2025 Tembus Rp 1.931,2 Triliun, Serap 2,7 Juta Tenaga Kerja

Next Post

Percepatan Pemulihan Akses Padang–Bukittinggi Pascabencana Longsor

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR