Jakarta, TopBusiness – Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia pada perdagangan hari ini ditutup melemah, setelah sepanjang sesi bergerak fluktuatif. IHSG anjlok 124,37 poin atau 1,36% ke 9.010,33.
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak pada rentang 8.977 hingga 9.105, dengan tekanan jual meningkat pada paruh kedua sesi seiring aksi ambil untung investor di saham-saham berkapitalisasi besar.
Total volume perdagangan tercatat sekitar 52,25 miliar saham, dengan nilai transaksi harian mencapai sekitar Rp28,6 triliun. Adapun kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia berada di kisaran Rp16.000 triliun, sedikit menurun sejalan dengan pelemahan indeks.
Sejumlah saham unggulan menjadi penekan utama pergerakan IHSG, khususnya dari sektor perbankan dan telekomunikasi.
- BBCA (Bank Central Asia). Saham BBCA menjadi salah satu pemberat terbesar indeks. Nilai transaksi: ± Rp3,9 triliun, volume perdagangan: ± 215 juta saham, kapitalisasi pasar: ± Rp1.250 triliun.
- BMRI (Bank Mandiri) Tekanan jual di saham perbankan pelat merah turut menekan IHSG. Nilai transaksi: ± Rp2,8 triliun, volume perdagangan: ± 310 juta saham, dan kapitalisasi pasar: ± Rp640 triliun.
- BBRI (Bank Rakyat Indonesia). Saham BBRI juga bergerak di zona merah dengan aktivitas transaksi tinggi dengan nilai transaksi: ± Rp2,6 triliun, volume perdagangan: ± 980 juta saham, dan kapitalisasi pasar: ± Rp700 triliun.
- TLKM (Telkom Indonesia) Saham TLKM melemah seiring aksi jual di sektor telekomunikasi. Nilai transaksi: ± Rp1,4 triliun, volume perdagangan: ± 420 juta saham, dan kapitalisasi pasar: ± Rp370 triliun.
Di sisi lain, sejumlah saham sektor energi dan komoditas bergerak terbatas dan belum mampu mengimbangi tekanan dari saham-saham berkapitalisasi besar.
Pelemahan IHSG mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar setelah indeks mencatat kenaikan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Investor cenderung melakukan realisasi keuntungan, terutama pada saham big caps yang memiliki bobot besar terhadap pergerakan indeks.
Meski ditutup melemah, tingginya nilai transaksi dan volume perdagangan menunjukkan minat investor di pasar saham domestik masih relatif kuat, dengan pelaku pasar mencermati perkembangan sentimen global dan arah kebijakan ekonomi ke depan.
(Sumber data: AI)
