Jakarta, TopBusiness — Indeks harga saham gabungan atau IHSG di PT Bursa Efek Indonesia hingga penutupan perdagangan Selasa (27/01/2026) bertambah sedikit 4,89 poin atau 0,05% ke 8.980,23.
Sejumlah sektor mengalami peningkatan, seperti teknologi 2,14 persen, diikuti konsumen siklikal (1,72) dan infrastruktur (1,59).
Perdagangan berlangsung marak dengan total volume perdagangan saham mencapai 58,18 miliar saham dengan total nilai Rp 27,07 triliun. Sebanyak 279 terlihat naik harga, 410 turun dan 117 stagnan.
Faktor Penguatan IHSG
- Penguatan Pasar Saham Global. Bursa saham Amerika Serikat (Wall Street) pada sesi sebelumnya ditutup kuat, terutama saham teknologi, sehingga memberi sentimen positif ke pasar Indonesia dan mendorong IHSG menguat.
- Sentimen Teknis dan Support dari Investor. IHSG sempat diproyeksikan bergerak dalam rentang support-resistance, di mana analis melihat potensi kelanjutan penguatan apabila indeks mampu bertahan di level support teknikalnya. Hal ini memberikan landasan teknikal kuat bagi pelaku pasar.
- Katalis dari Pergerakan Saham Tertentu. Saham-saham unggulan (misalnya BBCA, BMRI, BUMI, BBNI, MDKA) menjadi fokus investor dan memberikan kontribusi ke arah positif, meskipun masih terjadi aksi jual asing pada beberapa saham.
- Indikasi Oversold dan Rebound Teknis. Laporan analis menunjukkan struktur teknikal IHSG masih menunjukkan peluang rebound dari kondisi oversold di beberapa indikator, sehingga mendorong aktivitas beli.
- Sentimen Makro Global yang Mendukung Aset Risiko. Walaupun ada kekhawatiran valuta asing terkait rapat The Fed, ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan turut mendorong minat beli investor di pasar modal.
Sumber Data AI Diolah
