Jakarta, TopBusiness — Indeks harga saham gabungan atau IHSG di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup anjlok tajam pada akhir perdagangan Senin (2/02/2026). Indeks komposit Jakarta ini merosot 406,87 poin atau setara 4,88 persen ke level 7.922,73, seiring tekanan jual yang mendominasi hampir seluruh sektor saham.
Sepanjang perdagangan, aktivitas pasar menunjukkan volatilitas tinggi. Jumlah transaksi tercatat mencapai sekitar 1,45 juta kali, dengan volume perdagangan sebanyak 21,8 miliar saham. Adapun nilai transaksi harian mencapai sekitar Rp18,6 triliun. Seiring koreksi indeks, kapitalisasi pasar BEI turut menyusut dan tercatat berada di kisaran Rp14.250 triliun pada penutupan perdagangan.
Pelemahan IHSG terjadi merata di hampir seluruh sektor, dengan sektor saham berkapitalisasi besar menjadi penekan utama pergerakan indeks. Saham-saham perbankan, energi, dan barang konsumsi primer mengalami tekanan signifikan akibat aksi jual investor.
Penurunan tajam IHSG dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Dari sisi eksternal, sentimen negatif global masih membayangi pergerakan pasar saham regional, seiring meningkatnya kehati-hatian investor terhadap arah kebijakan moneter global dan perlambatan ekonomi di beberapa negara utama. Kondisi tersebut mendorong investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.
Dari dalam negeri, kekhawatiran investor terhadap stabilitas dan persepsi pasar modal Indonesia turut memicu aksi jual, khususnya oleh investor asing. Tekanan jual asing tercermin dari nilai jual bersih yang signifikan pada saham-saham unggulan, sehingga mempercepat pelemahan indeks sepanjang sesi perdagangan.
Selain itu, fluktuasi harga komoditas global turut memberikan tekanan pada saham-saham sektor terkait, terutama emiten energi dan pertambangan. Ketidakpastian arah harga komoditas membuat pelaku pasar memilih untuk mengurangi eksposur risiko dalam jangka pendek.
Analis pasar menilai pelemahan IHSG kali ini lebih dipengaruhi oleh sentimen dan faktor psikologis pasar dibandingkan oleh fundamental emiten secara langsung. Investor saat ini cenderung menunggu kejelasan kebijakan dan perkembangan sentimen global sebelum kembali masuk ke pasar saham.
Ke depan, pergerakan IHSG diperkirakan masih akan diwarnai volatilitas tinggi. Pelaku pasar diimbau untuk mencermati perkembangan global serta kebijakan domestik, sembari tetap selektif dalam memilih saham dengan fundamental yang kuat dan likuiditas yang baik.
(Sumber Data AI)
