Jakarta, TopBusiness – Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (IDX: TPIA) dinilai dilingkupi banyak sentimen positif untuk bisa melejitkan valuasi sahamnya itu. Beberapa hal seperti buyback saham, rencana free float ke 15% seperti instruksi regulator, pembangunan pabrik baru, dan tren kinerja yang sudah positif itu bakal mendongkrak saham TPIA.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menyebut, saham milik grup Prajogo Pangestu itu bakal kian positif. Terlebih adanya pembangunan pabrik chlor alkali-ethylene dichloride (CA-EDC) di Cilegon terus berjalan dan ditargetkan beroperasi komersial pada kuartal pertama 2027.
“Hal ini akan mendiversifikasi produk ke sektor hilir, seperti bahan baku alumina dan nikel misalnya, yang marginnya lebih baik,” tegas Nafan dalam diskusi bertajuk ‘Menakar Transformasi Chandra Asri Group di Tengah Dinamika Dunia Industri,’ di Jakarta, Selasa (24/2/2026).
Menurutnya, TPIA tengah melakukan transformasi bisnis melalui sejumlah akuisisi strategis, termasuk Aster Chemicals and Energy Pte Ltd yang sebelumnya dimiliki Shell Energy and Chemicals Park Singapore, serta jaringan SPBU Esso milik ExxonMobil di Singapura.
Selain itu, kepemilikan di sektor pelabuhan, energi, dan air memberi pendapatan berulang yang menopang keuangan. Kinerja TPIA juga mulai pulih pada kuartal III-2025 setelah sebelumnya merugi.
Perseroan turut mengumumkan buyback saham hingga Rp 2 triliun pada 6 Februari–5 Mei 2026 serta memperoleh peringkat idAA- dari Pefindo untuk obligasi berkelanjutan V senilai Rp 6 triliun.
Meski begitu, Nafan juga memberikan beberapa catatan. Kata dia, TPIA ada beberapa tantangan, salah satunya marjinnya yang tetap dipengaruhi fluktuasi harga minyak mentah dan produk kimia global.
Sementara di sisi lain, lanjut dia, industri petrokimia global masih mengalami kelebihan pasokan (oversupply) dari Tiongkok. “Ini yang menekan harga jual produk TPIA,” ujar dia.
Nafan kembali melanjutkan, secara fundamental, TPIA kini jauh lebih kuat dibandingkan 1–2 tahun lalu seusai bertambahnya aset di Singapura tersebut.
Akan tetapi, dia mengatkan, karena lonjakan laba lebih banyak didorong faktor non-operasional, investor perlu mencermati apakah perseroan mampu menjaga profitabilitas operasional secara konsisten pada 2026 ini atau tidak.
“Namun secara teknikal, pergerakan saham TPIA sering dipengaruhi aliran dana institusi besar serta sentimen aksi korporasi, seperti akuisisi maupun rencana IPO anak usaha,” ujar Nafan.
Makanya, dengan kondisi demikian, Nafan menyebut, saham TPIA sangat cocok bagi investor dengan profil risiko moderat-agresif yang percaya pada katalis ekspansi jangka panjang grup Barito.
“Saya merekomendasikan kepada investor untuk akumulasi beli saham TPIA dengan target harga jangka pendek ke Rp 7.400 dan jangka panjang ke Rp 8.700,” kata dia di ujung pemaparannya.
Di tempat yang sama, Direktur Sumber Daya Manusia & Urusan Korporat TPIA, Suryandi mengakui, perusahaan akan memenuhi batas ketentuan free float dari OJK tersebut. Pihaknya akan menambahan sekitar 5% dan diharapkan bisa diserap dengan baik untuk investor ritel.
Untuk diketahui, per tanggal 31 Januari 2026, posisi free float saham TPIA masih berada di angka 10,68% yang beredar di publik.
“Yang penting buat kami sekarang adalah kami akan mematuhi arahan dan kami akan rencanakan dengan baik tentu pada waktunya kami akan sampaikan (ke public),” jelas Suryandi.
Dia menuturkan, saat ini TPIA tengah fokus pada proyek yang telah masuk dalam pipeline pengembangan perusahaan. Seperti rencana pengembangan pabrik baru CA-EDC TPIA di Cilegon, Banten yang akan beroperasi di awal 2027 nanti.
“Proyek CA-EDS menjadi prioritas utama untuk diselesaikan tepat waktu sesuai dengan target. Dan proyek-proyek yang lain juga yang kecil-kecil kami akan selesaikan dalam tepat waktu,” tandas Suryandi.
