Jakarta, TopBusiness – Mandiri Sekuritas dalam laporan riset Investor Digest edisi 26 Februari 2026 mempertahankan pandangan positif terhadap sejumlah saham unggulan di tengah dinamika pasar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 0,5% ke level 8.322,23 pada 25 Februari 2026, dengan nilai transaksi Rp22,86 triliun dan kapitalisasi pasar Rp14.911 triliun.
Secara valuasi, agregat 87 saham dalam cakupan riset Mandiri Sekuritas diperdagangkan pada price to earnings ratio (PER) 14,9 kali untuk 2025F dan 13,0 kali untuk 2026F. Pertumbuhan laba (EPS growth) diproyeksikan berbalik positif menjadi 14,7% pada 2026, setelah terkontraksi 11,3% pada 2025. Return on equity (ROE) juga diperkirakan meningkat dari 12,9% menjadi 13,9%.
Mandiri Sekuritas menyoroti kinerja Januari 2026 PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau Bank Tabungan Negara (BBTN) yang mencatatkan lonjakan laba signifikan.
Pada 1M26, laba BBTN melonjak lebih dari dua kali lipat secara tahunan (YoY), ditopang oleh penurunan biaya dana (cost of fund) dan pertumbuhan beban operasional yang lebih terkendali. Beban bunga bulanan pada Januari 2026 tercatat sekitar Rp1,1 triliun, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata sekitar Rp1,5 triliun per bulan sepanjang 2025.
Perpanjangan penempatan dana SAL oleh Kementerian Keuangan selama enam bulan ke depan dinilai akan membantu menjaga biaya dana tetap rendah. Mandiri Sekuritas memperkirakan kondisi ini memungkinkan BBTN mempertahankan ROE minimal 10% pada 2026F. Rekomendasi Buy dipertahankan dengan target harga Rp1.500 dari harga Rp1.395.
Secara valuasi, BBTN diperdagangkan pada PER 6,0 kali (2025F) dan 5,5 kali (2026F), dengan proyeksi pertumbuhan laba masing-masing 8,2% dan 8,7%.
Target Presales 2026 BSDE
Dari sektor properti, Bumi Serpong Damai (BSDE) juga tetap mendapat rekomendasi Buy dengan target harga Rp1.360 dari harga Rp870.
Dalam paparan analis, manajemen BSDE memberikan panduan prapenjualan (presales) tahun buku 2026 sebesar Rp10 triliun, relatif datar dibanding target tahun sebelumnya. Penjualan masih akan ditopang oleh segmen residensial, sementara penjualan lahan joint venture diharapkan menjadi bantalan tambahan.
Belanja modal (capex) 2026 dipandu di kisaran Rp3–4 triliun, dengan potensi realisasi lebih tinggi seiring kelanjutan proyek jalan tol. Dari sisi valuasi, BSDE diperdagangkan pada PER 9,0 kali (2025F) dan 6,8 kali (2026F), dengan proyeksi pertumbuhan laba 32% pada 2026.
GOTO Fokus Pertumbuhan Berkelanjutan
Sementara itu, GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) dinilai terus mempertajam strategi pertumbuhan berkelanjutan di bawah kepemimpinan CEO baru, Hans Patuwo.
Mandiri Sekuritas mencatat strategi On-Demand Services (ODS) kini bergeser dari pendekatan berbasis diskon menuju segmentasi pelanggan yang lebih cerdas. Segmen fintech, khususnya pembiayaan (lending), diposisikan sebagai mesin pertumbuhan utama.
Dengan biaya yang mulai stabil pasca migrasi cloud, perseroan diharapkan memperoleh manfaat dari operating leverage yang mendukung perbaikan profitabilitas ke depan. Mandiri Sekuritas mempertahankan rekomendasi Buy dengan target harga Rp100 dari posisi Rp60.
Aliran Dana Asing dan Komoditas
Dari sisi aliran dana, investor asing membukukan net buy ekuitas sebesar US$163,4 juta pada 25 Februari, meski secara year-to-date masih tercatat net sell US$709,9 juta.
Harga komoditas menunjukkan tren positif, dengan minyak Brent di level US$70,85 per barel (+16,4% YTD), emas di US$5.164,78 per ons (+19,6% YTD), serta nikel spot menguat 7,3% YTD. Kondisi ini dinilai dapat menopang kinerja emiten berbasis komoditas dalam jangka menengah.
Dengan proyeksi pertumbuhan laba yang membaik pada 2026 serta valuasi yang relatif menarik (PER 13,0 kali 2026F), Mandiri Sekuritas melihat ruang penguatan lanjutan bagi pasar saham domestik, terutama pada saham-saham berfundamental kuat dengan momentum laba yang solid.
