Jakarta, TopBusiness — Platform pinjaman daring (pindar) berizin AdaKami tercatat memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional melalui penyaluran pembiayaan kepada masyarakat.
Riset terbaru Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mengestimasi bahwa pada 2024 AdaKami berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sebesar Rp6,95 triliun hingga Rp10,96 triliun.
Wakil Kepala LPEM FEB UI, Mohamad Dian Revindo, mengatakan kontribusi tersebut berasal dari efek berganda (ripple effect) penyaluran pinjaman yang tidak hanya dirasakan oleh peminjam, tetapi juga mendorong aktivitas ekonomi lokal di berbagai sektor.
“Setidaknya terdapat 185 sektor ekonomi nasional yang memperoleh nilai tambah dari aktivitas ekonomi yang dipicu oleh pendanaan AdaKami,” ujar Dian dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (27/2/2026).
Ia merinci, tiga sektor dengan porsi dampak terbesar adalah jasa lembaga keuangan lainnya (21,34%), jasa pendidikan pemerintah (10,03%), serta perdagangan selain mobil dan sepeda motor (9,30%). Dampak tersebut kemudian menyebar ke sektor lain secara langsung maupun tidak langsung.
Besaran kontribusi tersebut disebut setara dengan PDB negara kepulauan seperti Tonga yang pada 2024 tercatat sebesar USD 558 juta atau sekitar Rp9,38 triliun dengan kurs saat ini.
Selain terhadap PDB, penyaluran pinjaman AdaKami juga diestimasi membuka kesempatan kerja bagi 47 ribu hingga 78 ribu orang di 17 sektor industri. Tiga sektor dengan kontribusi tenaga kerja terbesar yakni perdagangan besar dan eceran (19,84%), jasa pendidikan (18,63%), serta pertanian, kehutanan, dan perikanan (15,11%).
Menurut Dian, pembiayaan yang disalurkan mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga, baik rutin maupun non-rutin, sehingga menggerakkan sektor ritel, grosir, transportasi, manufaktur, hingga sektor primer.
“Dengan demikian, dukungan terhadap sektor ekonomi riil terjadi melalui penguatan permintaan barang dan jasa produktif yang memicu aktivitas ekonomi dan produksi, setidaknya dalam jangka pendek,” katanya.
Chief of Public Affairs AdaKami, Karissa Sjawaldy, menyatakan pihaknya berkomitmen menghadirkan solusi pembiayaan yang inklusif dan dikelola secara prudent serta bertanggung jawab.
“Kami percaya bahwa akses pembiayaan yang inklusif dan dikelola secara prudent dapat membawa manfaat luas bagi masyarakat. Kontribusi positif ini mendorong kami untuk terus menghadirkan layanan berkelanjutan serta meningkatkan literasi keuangan pengguna,” ujar Karissa.
Bantalan Keuangan Rumah Tangga
Hasil riset LPEM FEB UI juga menunjukkan pinjaman AdaKami berperan sebagai bantalan keuangan (financial buffer) yang membantu rumah tangga menjaga tingkat konsumsi (consumption smoothing), terutama dalam situasi mendesak seperti pemutusan hubungan kerja, sakit keras, maupun peristiwa meninggal dunia dalam keluarga.
Sebanyak 24,51% pengguna menyatakan tanpa pinjaman daring mereka harus menggunakan tabungan atau menjual aset untuk memenuhi kebutuhan. Temuan ini menunjukkan peran pindar sebagai mekanisme penyangga agar rumah tangga tidak mengambil langkah yang berpotensi merugikan kondisi keuangan jangka panjang.
Kelompok peminjam AdaKami tercatat memiliki rata-rata pengeluaran total Rp4,8 juta per bulan, lebih tinggi dibanding kelompok lainnya. Mereka juga memiliki rata-rata tabungan hampir Rp700 ribu, yang disebut lebih tinggi dibanding kelompok pembanding.
Pendanaan AdaKami juga dimanfaatkan untuk pengembangan usaha mikro dan perorangan. Sebanyak 53,1% pengguna yang memanfaatkan pinjaman untuk usaha menggunakannya untuk menambah stok barang, sementara 28,1% responden menyatakan terjadi peningkatan omzet.
Sektor usaha utama yang memanfaatkan pendanaan meliputi perdagangan (53,1%), penyediaan akomodasi dan makan minum (18,8%), serta pertanian (18,8%). Hasil wawancara mendalam menunjukkan pembiayaan membantu pelaku usaha meningkatkan skala usaha secara bertahap seiring peningkatan kapasitas produksi dan penjualan.
Literasi Keuangan dan Tantangan
Survei juga mencatat tingkat literasi keuangan pengguna relatif tinggi. Sebanyak 89,2% responden memahami konsep bunga, biaya, dan tenor pinjaman, serta memiliki pemahaman lebih baik mengenai inflasi, investasi, dan pembelian saham dibanding kelompok lainnya.
Meski demikian, studi tersebut menemukan masih diperlukan penguatan edukasi untuk mengatasi potensi kerentanan perilaku, seperti overconfidence dalam memperkirakan kemampuan membayar dan kecenderungan mementingkan manfaat jangka pendek (present-biased) dalam pengambilan keputusan keuangan.
LPEM FEB UI merekomendasikan penguatan pengawasan regulator, penertiban pinjaman ilegal, serta peningkatan pelindungan konsumen melalui standar penagihan beretika dan mekanisme pengaduan yang transparan. Pelaku industri juga didorong meningkatkan transparansi beban pinjaman dan mengembangkan fitur simulasi kemampuan bayar sebelum pencairan dana.
Data riset diperoleh melalui survei primer pada Oktober–November 2025 terhadap 615 responden di tujuh provinsi dengan pengguna AdaKami terbesar, menggunakan metode kombinasi wawancara langsung dan pengisian mandiri. Kontribusi ekonomi dihitung dengan pendekatan Input-Output untuk mengestimasi dampak langsung, tidak langsung, serta efek pengganda terhadap sektor-sektor ekonomi nasional.
