Jakarta, BusinessNews Indonesia – PT Bank BRI Syariah berencana untuk menawarkan saham perdananya kepada publik atau Initial Public Offering (IPO) pada pertengahan 2018 ini.
Berdasarkan prospektus yang diterima dari manajemen, Rabu (4/4/2018), anak usaha Bank BRI ini bakal melepas sebanyak 2.623.350.600 saham baru atau sebesar 27% dengan nilai nominal Rp 500 per saham. Jadi total dana yang diharapkan masuk dari IPO ini sekitar Rp 1,3 triliun.
Dengan adanya pelepasan saham ke publik tersebut, saham BRI akan turun dari dari 99,99% menjadi 72,99%. Sisanya, sebesar 26,32% dilepas ke investor publik dan 0,62% diberikan pada karyawan dan Yayasan Kesejahteraan Pekerja BRI.
Menurut rencana, sekitar 80% dana dari hasil IPO akan digunakan untuk pembiayaan. Sebanyak 12,5% untuk pengembangan teknologi informasi dan 7,5% untuk pengembangan jaringan kantor.
Direktur Utama BRI Syariah Hadi Santoso sebelumnya mengatakan, dasar dari rencana IPO perusahaan tahun ini adalah agar ekspansi perusahaan menjadi lebih mudah. “Pokoknya kami kepingin jadi BUKU III, sekarang masih BUKU II,” kata Hadi.
Untuk menjadi BUKU III, BRI Syariah harus memiliki modal inti minimal Rp 5 triliun. Sementara hingga akhir Desember 2017 lalu, modal inti perusahaan baru mencapai Rp 2,45 triliun. Beberapa waktu lalu, perusahaan juga telah menerima suntikan dana dari induk usahanya, PT Bank BRI Tbk (BBRI) senilai Rp 1 triliun. Dengan asumsi demikian, maka perusahaan masih membutuhkan dana kurang lebih sebesar Rp 1,5 triliun.
Sedangkan laba bersih perseroan sepanjang 2017 mencapai Rp 101,09 miliar. Angka ini menurun 40% dari periode 2016 yang sebesar Rp 170,2 miliar.
Beban usaha perseroan tercatat mengalami kenaikan dari Rp 1,16 triliun di 2016 menjadi Rp 1,17 triliun di 2018. Laba usaha perseroan turun drastis dari Rp 239,2 miliar menjadi Rp 139,59 miliar di 2017.
Perseroan mengalokasikan beban cadangan kerugian sebesar Rp 453 miliar di 2017. Total aset perseroan di 2016 tercatat meningkat dari Rp 27,68 triliun menjadi Rp 31,54 triliun di 2017.
