TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Cakra Lumaku, Ketika Limbah Ternak Menghidupkan Ekonomi Desa

Teguh Imam Suyudi
11 March 2026 | 07:34
rubrik: Business Info, CSR, Event
Cakra Lumaku, Ketika Limbah Ternak Menghidupkan Ekonomi Desa

Program CSR PT PLN Indonesia Power UBP Kamojang PLTP Gunung Salak mengembangkan pertanian sirkular berbasis biogas dan pupuk organik untuk memperkuat ketahanan pangan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Jakarta, TopBusiness — Di kaki pegunungan kawasan Gunung Salak, kehidupan masyarakat Desa Pulosari, Kabupaten Sukabumi, sejak lama bertumpu pada pertanian dan peternakan. Hamparan sawah dan ladang menjadi sumber penghidupan, sementara kandang-kandang domba berdiri di pekarangan rumah warga.

Namun, di balik potensi tersebut, masyarakat menghadapi berbagai tantangan. Pola beternak masih dilakukan secara tradisional, limbah ternak belum dimanfaatkan secara optimal, dan sebagian petani masih bergantung pada tengkulak untuk menjual hasil panennya. Di sisi lain, persoalan sosial seperti stunting pada balita dan risiko kekurangan gizi pada ibu hamil masih menjadi perhatian.

Dari realitas inilah lahir sebuah inisiatif pemberdayaan masyarakat bernama Cakra Lumaku (Circular Agriculture Lumbung Pangan Mandiri Karaharjaan Urang), program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang dikembangkan oleh PT PLN Indonesia Power UBP Kamojang PLTP Gunung Salak.

Program tersebut dipaparkan dalam ajang Penjurian TOP CSR Awards 2026 yang berlangsung secara daring pada Selasa, 10 Maret 2026.

Manajer Unit PT PLN Indonesia Power UBP Kamojang PLTP Gunung Salak, Mulyadi Kusumah, menjelaskan bahwa program ini berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.

“Kami melihat potensi pertanian dan peternakan yang besar, tetapi belum dikelola secara optimal. Dari situ muncul gagasan untuk mengintegrasikan pertanian, peternakan, energi, dan kesehatan masyarakat dalam satu sistem yang saling mendukung,” ujar Mulyadi.

Dalam sesi penjurian tersebut, Mulyadi didampingi oleh Vicky Apriandana selaku Assistant Manager, Muchtar sebagai Officer CSR, serta dua Community Development Officer (CDO), yakni M. Sulchan Fathoni dan Tabita Titah D.

BACA JUGA:   Transaksi Multilateral ICDX Tumbuh Bagus

Sementara itu, dewan juri yang hadir dalam penilaian antara lain Nurdizal Rachman dari CoreBest, Prof. Satya Arinanto dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Dwinda Ruslan dari Yayasan Pakem, serta Teguh Imam Suyudi dari TopBusiness.

TOP CSR Awards sendiri merupakan ajang penghargaan yang diselenggarakan Majalah Top Business yang diterbitkan oleh PT Madani Solusi Internasional (MSI Group), bekerja sama dengan berbagai asosiasi CSR, praktisi tata kelola perusahaan, akademisi, serta para pakar di bidang keberlanjutan.

Tahun ini, ajang tersebut mengusung tema “Aligning CSR and ESG for Long-Term Corporate Value and Sustainable Development”, yang menekankan pentingnya penyelarasan CSR dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) guna menciptakan nilai jangka panjang perusahaan sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan.

Dari Limbah Menjadi Energi

Program Cakra Lumaku mengusung pendekatan circular agriculture atau pertanian sirkular—sebuah konsep yang mengintegrasikan berbagai aktivitas produksi sehingga limbah dari satu sektor dapat dimanfaatkan kembali oleh sektor lainnya.

Di Desa Pulosari, pendekatan ini diwujudkan melalui pengolahan limbah ternak menggunakan biodigester yang menghasilkan energi biogas dan bioslurry.

Ilustrasi Cakra Lumaku Program CSR PT PLN Indonesia Power UBP Kamojang PLTP Gunung Salak

Biogas kemudian dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari penerangan kandang, pengoperasian mesin pencacah rumput, hingga dapur sehat posyandu. Sementara bioslurry diolah menjadi pupuk organik yang digunakan kembali di lahan pertanian.

Melalui sistem ini, limbah ternak yang sebelumnya tidak termanfaatkan kini menjadi sumber energi dan bahan baku pupuk organik.

Dalam dokumen pemaparan program disebutkan bahwa sekitar 450 kilogram limbah ternak per hari sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.

Kini, limbah tersebut menjadi bagian dari sistem produksi yang saling terhubung.

BACA JUGA:   Menilik Apiknya ‘Kaliandra’, CSR Unggulan Pertamina Patra Niaga RU V Balikpapan

“Konsepnya adalah siklus tertutup. Limbah tidak lagi menjadi masalah, tetapi menjadi sumber daya baru,” kata Mulyadi.

Inovasi dari Desa

Salah satu inovasi penting yang lahir dari program ini adalah pupuk organik BIOS+, yang diproduksi dari bioslurry hasil pengolahan biogas.

Produk ini bahkan telah memperoleh paten sederhana dari Kementerian Hukum dan HAM.

Penggunaan pupuk tersebut membantu memperbaiki kondisi tanah yang sebelumnya mengalami degradasi akibat penggunaan pupuk kimia berlebihan.

Program ini juga berhasil memulihkan kualitas tanah pada lahan seluas sekitar 16,48 hektar.

Di sisi lain, para peternak juga mendapatkan pendampingan untuk meningkatkan kualitas ternak domba melalui sistem pencatatan silsilah dan manajemen breeding.

Melalui pelatihan dan demplot yang dilakukan bersama akademisi serta pemerintah daerah, pemahaman peternak mengenai standar breeding meningkat hingga sekitar 80 persen.

Menggerakkan Ekonomi Warga

Selain berdampak pada lingkungan, program ini juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Petani dapat menghemat biaya pemupukan lahan hingga sekitar Rp2,5 juta per orang per tahun. Pendapatan anggota kelompok tani juga meningkat rata-rata sekitar Rp2 juta per bulan.

Diversifikasi usaha melalui penjualan pupuk organik, penggemukan ternak, hingga pengolahan limbah juga membuka sumber pendapatan baru bagi kelompok tani.

Energi biogas yang dihasilkan turut membantu menghemat biaya listrik dan gas untuk berbagai kegiatan kelompok.

“Dengan sistem ini, masyarakat tidak hanya memproduksi pangan, tetapi juga menghasilkan energi dan pupuk sendiri,” ujar Mulyadi.

Intervensi Kesehatan Masyarakat

Program Cakra Lumaku juga menyentuh aspek kesehatan masyarakat, khususnya bagi ibu hamil dan balita.

Melalui Dapur Sehat Posyandu, masyarakat memanfaatkan energi biogas untuk memasak makanan bergizi yang dibagikan kepada balita dan ibu hamil.

Program ini juga melibatkan kader posyandu serta agen muda desa dalam kegiatan edukasi kesehatan dan gizi.

BACA JUGA:   Inovasi CSR PLTA Saguling: Ubah Sampah Jadi Berkah, Ubah Krisis Lingkungan Jadi Kekuatan Ekonomi

Hasilnya cukup menggembirakan. Sebanyak 36 balita yang sebelumnya terindikasi stunting mengalami peningkatan berat badan rata-rata 1,5 kilogram dan tinggi badan sekitar 3,4 sentimeter dalam waktu tiga bulan.

Menjadi Model Pembelajaran

Keberhasilan program ini juga mendorong terbentuknya Raksamala Learning Center, sebuah pusat pembelajaran yang menjadi ruang berbagi pengetahuan tentang pertanian dan peternakan berkelanjutan.

Di tempat ini, masyarakat dapat belajar mengenai pengolahan pupuk organik, manajemen peternakan, hingga pemanfaatan energi biogas.

Program ini bahkan mulai direplikasi di beberapa wilayah lain di Kecamatan Pamijahan dan Kabandungan.

Bagi PLN Indonesia Power, keberlanjutan program menjadi hal yang penting.

“Kami ingin program ini tidak berhenti sebagai bantuan, tetapi berkembang menjadi sistem yang mandiri dan dapat direplikasi,” kata Mulyadi.

Kontribusi bagi Bisnis Berkelanjutan

Bagi perusahaan, program Cakra Lumaku juga memberikan nilai strategis.

Selain membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, program ini turut memperkuat social license to operate perusahaan di wilayah operasional.

Program ini juga berkontribusi pada berbagai target Sustainable Development Goals (SDGs), termasuk pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan, energi bersih, serta aksi terhadap perubahan iklim.

Lebih jauh, inisiatif ini sejalan dengan komitmen PLN Group dalam mendukung transisi energi dan target Net Zero Emission 2060.

Melalui pendekatan circular agriculture, PT PLN Indonesia Power UBP Kamojang PLTP Gunung Salak menunjukkan bahwa praktik bisnis berkelanjutan dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat.

Di Desa Pulosari, siklus itu kini terus berputar—mengubah limbah menjadi energi, memperkuat ekonomi warga, dan menumbuhkan harapan baru bagi masa depan desa.

Tags: TOP CSR Awards 2026Unit PT PLN Indonesia Power UBP Kamojang PLTP Gunung Salak
Previous Post

BEI Cabut Suspensi LUCY di Pasar Reguler dan Tunai

Next Post

Waspada Profit Taking, Koleksi Saham EMAS, BULL, MEDC, AADI, SCMA, dan AMRT

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR