Elektrifikasi armada dan pemanfaatan energi surya menjadi strategi DAMRI menekan emisi sektor transportasi di Jakarta, kota yang masih bergulat dengan persoalan kualitas udara.
Jakarta, TopBusiness — Pada banyak pagi di Jakarta, langit kerap tampak berkabut tipis. Bukan kabut alam, melainkan campuran polusi yang terbentuk dari jutaan kendaraan bermotor yang setiap hari bergerak di jalanan ibu kota. Transportasi darat menjadi salah satu penyumbang utama emisi di kota ini.
Dalam konteks itulah, elektrifikasi transportasi publik menjadi semakin mendesak.
Perusahaan Umum (Perum) DAMRI, salah satu operator transportasi milik negara, mulai menempuh jalur itu melalui program “Green Transformation DAMRI 2026” yang menggabungkan dua pendekatan sekaligus: pengadaan bus listrik dan pemanfaatan energi surya untuk operasional perusahaan.
Program tersebut dipaparkan dalam penjurian TOP CSR Awards 2026 yang berlangsung secara daring, Kamis (12/3/2026).
Dalam forum tersebut, P. Septian Adri S., Assistant Vice President Komunikasi Perusahaan, TJSL, dan Protokoler Perum DAMRI, memaparkan arah transformasi perusahaan menuju transportasi rendah emisi.
“Transportasi publik memiliki peran penting dalam mendukung kota rendah emisi. Karena itu, transformasi menuju energi bersih menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan,” ujarnya.
Ia didampingi Herdiana, staf Komunikasi Perusahaan, TJSL, dan Protokoler Perum DAMRI.
Penjurian dilakukan oleh dewan juri yang terdiri dari Nurdizal M. Rachman (CoreBest Indonesia), Al Hadhy (LKN Asta Cita), Puteri Rahsilaputeri (Sinergi Daya Prima), dan Teguh Imam Suyudi (TopBusiness).
TOP CSR Awards tahun ini mengangkat tema “Aligning CSR and ESG for Long-Term Corporate Value and Sustainable Development”, yang menekankan pentingnya penyelarasan tanggung jawab sosial perusahaan dengan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).
Mengurangi Emisi dari Jalan Raya
Bagi kota seperti Jakarta, persoalan polusi udara tidak dapat dilepaskan dari sektor transportasi.
Pertumbuhan kendaraan bermotor yang pesat selama dua dekade terakhir membuat jalan raya menjadi salah satu sumber emisi utama. Karena itu, transformasi transportasi publik menuju kendaraan listrik dipandang sebagai langkah strategis.
“DAMRI mulai menempuh langkah tersebut dengan pengadaan 200 unit bus listrik untuk layanan transportasi perkotaan di Jakarta,” ungkap Septian.
Hingga awal 2026, 170 unit bus listrik telah beroperasi, sementara 30 unit lainnya ditargetkan mulai beroperasi pada Maret hingga April 2026.

Foto: Bus Skywell Transjakarta Perum DAMRI (Foto: Dok. Wikipedia)
Armada tersebut digunakan pada layanan koridor TransJakarta yang melayani mobilitas warga ibu kota.
Setiap hari, sekitar 40.000 penumpang menggunakan layanan bus listrik DAMRI dalam sistem transportasi TransJakarta.
Bus listrik yang digunakan merupakan merek Skywell. Kendaraan tersebut dirakit di Indonesia oleh karoseri Laksana dengan target tingkat komponen dalam negeri hingga 70 persen.
Bagi DAMRI, elektrifikasi armada tidak hanya menjadi bagian dari modernisasi transportasi publik, tetapi juga langkah konkret untuk menekan emisi dari sektor transportasi.
Selain tidak menghasilkan emisi gas buang secara langsung, bus listrik juga memiliki tingkat kebisingan yang jauh lebih rendah dibandingkan bus diesel konvensional.
Tantangan Transisi Energi
Namun, transformasi menuju transportasi listrik tidak sepenuhnya tanpa tantangan.
Salah satu persoalan yang muncul adalah keberadaan armada bus diesel yang relatif masih baru tetapi berpotensi menjadi tidak terpakai karena peralihan teknologi.
“Beberapa bus diesel yang berusia sekitar satu dekade kini berstatus tidak aktif, meskipun secara teknis masih layak beroperasi,” kata Septian.
Selain itu, elektrifikasi transportasi juga memerlukan investasi infrastruktur yang tidak kecil, mulai dari stasiun pengisian daya hingga sistem pengelolaan energi.
Dalam sistem transportasi perkotaan seperti TransJakarta, kebutuhan subsidi operasional juga berpotensi meningkat seiring peralihan menuju kendaraan listrik.
Meski demikian, sejumlah kota besar di dunia menunjukkan bahwa transisi menuju transportasi listrik tetap menjadi arah yang sulit dihindari dalam jangka panjang.
Energi Surya sebagai Pendukung
Selain mengubah armada kendaraan, DAMRI juga mulai mengembangkan pemanfaatan energi terbarukan.
Perusahaan memulai proyek percontohan pemasangan panel surya atau Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di fasilitas operasionalnya.
Septian mengatakan proyek awal dilakukan di Stasiun DAMRI Kemayoran, yang menjadi bagian dari peta jalan transisi energi perusahaan hingga 2030.
Pemanfaatan energi matahari diharapkan dapat menekan konsumsi listrik dari jaringan konvensional sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.
Langkah ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya TPB 7 tentang energi bersih dan terjangkau.
Dalam jangka panjang, integrasi kendaraan listrik dengan energi terbarukan dipandang sebagai model transportasi yang lebih berkelanjutan.
Kolaborasi Transportasi Kota
Transformasi menuju transportasi hijau juga memerlukan koordinasi lintas lembaga.
Dalam implementasinya, DAMRI bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, PT Transportasi Jakarta, serta berbagai mitra teknis lainnya.
Septian menjelaskan bahwa perencanaan elektrifikasi armada dilakukan melalui koordinasi lintas pemangku kepentingan dan forum diskusi dengan para ahli untuk memastikan kesiapan sistem transportasi.
Di tingkat internal, perusahaan membentuk tim lintas fungsi yang melibatkan divisi operasional, teknik, keuangan, serta tim tanggung jawab sosial dan ESG.
Pelatihan teknis bagi pengemudi juga dilakukan untuk memastikan kesiapan sumber daya manusia dalam mengoperasikan kendaraan listrik.
Lebih dari Sekadar CSR
Dalam forum TOP CSR Awards, program transformasi hijau DAMRI diposisikan sebagai bagian dari strategi tanggung jawab sosial perusahaan.
Namun dalam praktiknya, langkah tersebut juga mencerminkan perubahan yang lebih mendasar dalam sektor transportasi.
Bagi perusahaan transportasi publik, upaya menekan emisi tidak hanya menyangkut reputasi atau tanggung jawab sosial, tetapi juga keberlanjutan sistem transportasi di masa depan.
Di kota besar seperti Jakarta—yang kerap masuk daftar kota dengan kualitas udara buruk—perubahan dalam sektor transportasi menjadi semakin mendesak.
“Elektrifikasi armada, pemanfaatan energi terbarukan, serta peningkatan layanan transportasi publik menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk menciptakan kota yang lebih sehat dan layak huni,” pungkas Septian.
Bagi DAMRI, langkah tersebut mungkin baru tahap awal.
Namun di tengah kepadatan lalu lintas dan polusi udara yang masih menjadi persoalan sehari-hari di Jakarta, setiap upaya menuju transportasi yang lebih bersih menjadi langkah yang tidak bisa ditunda lagi.
