Jakarta, TopBusiness – Usai dua kali berturut-turut mengalami kerugian, yakni tahun 2023 dan 2024, PT Pelat Timah Nusantara Tbk (IDX: NIKL) atau Latinusa berhasil mencatatkan laba bersih di tahun 2025. Pencapaian ini suatu hal yang luar biasa, mengingat kondisi pasar atau industru juga masih sangat tertekan.
Hal ini bisa terjadi karena Perseroan berhasil melakukan beberapa langkah yang positif. Antara lain, selain adanya efisiensi, NIKL juga bisa menekan harga bahan baku yang lebih murah. Hal ini pada akhirnya mempengaruhi rugi kurs yang juga bisa ditekan serta berhasil menekan beban bunga.
“Salah satu yang berhasil kita lakukan itu terkait bahan baku. Dalam hal ini, kami berhasil menjaga rugi kurs yang selama ini sangat besar. Kita juga berupaya menekan beban bunga. Dan Langkah tetap akan kita lakukan di tahun 2026 ini, sehingga akan lebih baik dari tahun sebelumnya,” tutur Direktur Utama NIKL, Jetrinaldi saat paparan publik Perseroan usai menggelar RUPST di Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Seperti diketahui, NIKL mencatatkan penurunan penjualan menjadi USD 139,82 juta per 31 Desember 2025 dari sebelumnya sebesar USD 155,72 juta pada periode yang sama tahun 2024. Namun demikian, Perseroan berhasil mencatatkan laba tahun berjalan sebesar USD 973,38 ribu. Setelah sebelumnya, NIKL mencatatkan rugi tahun berjalan USD 18,85 ribu di tahun 2024. Dengan Laba bersih per saham tercatat USD 0,00039 naik dari USD 0,00001.
Dan untuk tahun ini, kendati tantangannya lebih berat dengan adanya isu geopolitik di Timur Tengah, Perseroan optimistis target penjualan dan laba bersih dapat tercapai.
“Target penjualan kami di angka USD 160 juta dan untuk laba sekitar USD 3 juta. Ini sebetulnya angka laba (usaha) tidak jauh bebeda dengan angka di tahun 2025. Jadi semoga bisa mencapai angka itu. Mohon doanya,” harap dia.
Raihan laba ini, kata Jetrinaldi, tak lepas dari kerja keras semua pihak, dari top management, seperti dewan komisaris dan jajaran direksi hingga para karyawan semua.
Dia menegaskan, adanya tensi geopolitik di Timur Tengah yang masih tinggi dengan ditutupnya Selat Hormuz ini berdampak terhadap dua peluang besar yang terkait dengan kinerja Perseroan.
Yakni, akan berdampak terhadap harga plastik yang naik signifikan. Selama ini plastik sebagai barang substitusi dan demand nasional juga tinggi. Dan kedua terkait ongkos antar negara. Maka secara otomatis jika tarif ongkos angkut itu meningkat, maka akan menjadi peluang dan menguntungkan Perseroan.
“Jadi, laba tahun ini secara angka relatif sama dengan yang ditargetkan di tahun 2025 lalu, dengan pengalaman tadi, maka kami bekeyakinan akan lebih baik dari tahun lalu,” pungkas dia.
