Jakarta, TopBusiness – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia ditutup menguat pada akhir perdagangan Senin (4/5/2026). IHSG naik sebesar 15,14 poin atau 0,22 persen ke level 6.971,95.
Penguatan indeks terjadi di tengah pergerakan saham yang cenderung variatif. Tercatat sebanyak 327 saham mengalami kenaikan, sementara 357 saham melemah dan 134 saham lainnya stagnan. Aktivitas perdagangan berlangsung cukup aktif dengan total volume transaksi mencapai 59,58 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp20,73 triliun.
Kenaikan IHSG terutama ditopang oleh penguatan sejumlah saham berkapitalisasi besar. Saham BBRI tercatat menguat Rp75 ke level Rp5.675 per saham, sementara BMRI naik Rp50 ke Rp6.325 per saham. Selanjutnya, TLKM juga mengalami kenaikan Rp30 ke posisi Rp3.980 per saham dan ASII menguat Rp25 ke Rp5.925 per saham. Penguatan saham-saham tersebut menjadi penopang utama indeks di tengah tekanan yang masih terjadi pada sebagian besar saham lainnya.
Di sisi lain, pergerakan IHSG tertahan oleh pelemahan beberapa saham berkapitalisasi besar. Saham BBCA turun Rp100 ke level Rp9.850 per saham, disusul ICBP yang melemah Rp75 ke Rp10.225 per saham. Sementara itu, UNVR juga terkoreksi Rp40 ke posisi Rp3.450 per saham. Pelemahan saham-saham tersebut membatasi ruang kenaikan IHSG pada perdagangan hari ini.
Secara keseluruhan, pergerakan pasar mencerminkan adanya tarik-menarik antara sentimen positif dan aksi ambil untung oleh investor. Kenaikan saham sektor perbankan menunjukkan bahwa pelaku pasar masih memiliki kepercayaan terhadap prospek fundamental sektor keuangan, terutama di tengah stabilitas kondisi ekonomi domestik. Namun, tekanan pada saham sektor konsumer dan sebagian saham unggulan lainnya mengindikasikan bahwa investor cenderung lebih selektif dalam mengambil posisi.
Tingginya nilai transaksi yang mencapai Rp20,73 triliun menunjukkan likuiditas pasar yang masih terjaga. Meski demikian, dominasi jumlah saham yang melemah dibandingkan yang menguat mengindikasikan bahwa penguatan IHSG lebih banyak ditopang oleh saham-saham berkapitalisasi besar.
Ke depan, pergerakan IHSG diperkirakan masih akan berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan menguat terbatas. Pelaku pasar diperkirakan akan mencermati berbagai sentimen, baik dari dalam negeri maupun global, termasuk arah kebijakan suku bunga, pergerakan nilai tukar rupiah, serta rilis kinerja emiten. Dalam kondisi seperti ini, strategi investasi yang selektif dan berbasis fundamental dinilai tetap menjadi pilihan utama bagi investor.
Data AI
