Jakarta, TopBusiness — PT Hutama Karya (Persero) mempercepat pembangunan Sekolah Rakyat (SR) Mamuju di Kecamatan Simboro dan Kepulauan, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat. Kompleks boarding school terpadu ini berdiri di atas lahan seluas 8,2 hektare dengan total luas bangunan mencapai 41.000 m², dan menjadi bagian dari penugasan strategis nasional yang digarap Hutama Karya secara serentak di empat provinsi: Banten, DKI Jakarta, Sulawesi Barat, dan Maluku Utara.
Per 3 Mei 2026, pembangunan Sekolah Rakyat Mamuju telah mencapai progres fisik sebesar 21,66 persen. Capaian ini terus didorong seiring penerapan strategi percepatan berlapis yang dijalankan Hutama Karya di lapangan dengan berbagai tantangan tersendiri bagi tim lapangan. Keterbatasan akses darat di kawasan pesisir mendorong Hutama Karya mengadopsi pendekatan logistik yang tidak konvensional — memadukan jalur udara dan laut untuk memastikan ketersediaan tenaga kerja dan material di lokasi proyek tetap terjaga sesuai kebutuhan.
Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo menegaskan bahwa kualitas konstruksi bukan hal yang bisa dikesampingkan demi mengejar waktu. “Tetap utamakan kualitas dalam pembangunannya, baik dari segi material maupun struktur bangunannya, karena bangunan sekolah ini harus bisa bertahan untuk dimanfaatkan minimal selama 20 tahun,” ujar Dody, dalam Siaran Pers Kementerian PU, Senin (27/4) lalu.
Hutama Karya menjalankan strategi percepatan secara terstruktur di empat lini sekaligus. Dari sisi tenaga kerja, sebanyak 750 pekerja dimobilisasi melalui charter pesawat untuk memastikan kecukupan sumber daya manusia di lapangan tetap optimal sepanjang pelaksanaan proyek.
Distribusi material berat dilakukan melalui jalur laut menggunakan kapal dan tongkang yang bersandar langsung di dermaga, sebagai respons atas keterbatasan akses darat menuju lokasi proyek di kawasan pesisir Mamuju. Suplai beton readymix dipasok dari batching plant dan batching plong yang diposisikan di sekitar lokasi, menjaga konsistensi mutu campuran beton sekaligus meminimalkan waktu distribusi di lapangan.
Pada sisi metode kerja, Hutama Karya membagi seluruh area proyek ke dalam zonasi yang terstruktur. Setiap zona dilengkapi supervisor dan hi-up crane untuk memastikan pengawasan menyeluruh, ritme kerja yang terjaga, serta respons teknis yang cepat tanpa kompromi terhadap aspek keselamatan.
Sekolah Rakyat Mamuju dirancang sebagai kompleks pendidikan terpadu yang mencakup jenjang SD, SMP, hingga SMA. Fasilitas yang disiapkan meliputi asrama putra dan putri, rumah susun guru, laboratorium, perpustakaan, gedung serbaguna, masjid, kantin, serta lapangan olahraga dan area lansekap.
Dari sisi struktur, bangunan menerapkan Sistem Rangka Pemikul Momen Menengah (SRPMM) untuk memastikan ketahanan terhadap gempa bumi — sebuah pertimbangan penting mengingat posisi Sulawesi Barat yang berada di zona seismik aktif. Koefisien Dasar Hijau (KDH) sebesar 60 persen menjadi salah satu penanda bahwa desain kompleks ini memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan sejak awal perencanaan. Penerapan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dijalankan konsisten di seluruh zonasi proyek, seiring pengawasan mutu material dan struktur yang berlangsung berlapis di setiap tahap pengerjaan.
Dalam kesempatan terpisah, Plt. Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan, PT Hutama Karya (Persero) Hamdani menyampaikan bahwa proyek Sekolah Rakyat Mamuju mencerminkan kemampuan Hutama Karya dalam mengelola kompleksitas lapangan di wilayah yang menuntut pendekatan adaptif. “Kami mengerahkan seluruh kapasitas teknis dan sumber daya yang kami miliki untuk memastikan Sekolah Rakyat Mamuju hadir tepat waktu dengan kualitas terbaik,” ujarnya.
Keterlibatan Hutama Karya secara serentak di empat provinsi ini merupakan kontribusi nyata perusahaan dalam mendukung pemerataan akses pendidikan berkualitas bagi seluruh anak bangsa. Sekolah Rakyat Mamuju adalah cerminan dari komitmen Hutama Karya bahwa infrastruktur pendidikan berkualitas menjadi hak seluruh anak Indonesia, dan perusahaan hadir untuk membuktikannya hingga ujung timur Nusantara.
