Jakarta, TopBusiness — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia ditutup anjlok 2,86% atau turun 204,92 poin ke level 6.969,39 pada perdagangan saham Jumat (8/5/2026) akhir pekan ini. Koreksi tajam tersebut membawa IHSG kembali jatuh di bawah level psikologis 7.000 setelah sepanjang perdagangan bergerak di zona merah.
Tekanan jual terjadi hampir di seluruh sektor saham, terutama saham pertambangan, energi, material dasar, dan sejumlah saham berkapitalisasi besar (big caps). Kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya aksi profit taking dan kekhawatiran investor terhadap sentimen global maupun domestik.
Data perdagangan menunjukkan total volume transaksi mencapai 55,96 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp35,88 triliun. Sebanyak 575 saham ditutup melemah, 133 saham menguat, dan sisanya stagnan.
Sejumlah saham unggulan menjadi pemberat utama IHSG. Saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) anjlok 13,89% ke posisi Rp5.425 per saham. Saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) juga mengalami tekanan besar dan turun ke kisaran Rp1.980 per saham, sementara PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) merosot ke sekitar Rp336 per saham.
Di sektor konglomerasi dan petrokimia, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) terkoreksi ke level Rp5.850 per saham. Saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun ke kisaran Rp1.010, sedangkan saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) melemah ke area Rp7.000 per saham. Tekanan juga terjadi pada saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang turun ke sekitar Rp6.300 per saham.
Sementara itu, saham-saham sektor konsumsi dan ritel turut terkena aksi jual. Saham PT Astra International Tbk (ASII) turun menjadi Rp4.850 per saham. Saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) melemah ke kisaran Rp1.835, sedangkan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) terkoreksi ke area Rp1.455 per saham.
Meski mayoritas saham melemah, beberapa emiten masih mampu bertahan di zona hijau. Saham PT Indosat Tbk (ISAT) menguat ke level Rp2.240 per saham, sedangkan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) naik ke posisi Rp920 per saham seiring aksi beli investor pada saham defensif.
Analis menilai pelemahan IHSG dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari global, pasar merespons negatif ketidakpastian arah suku bunga Amerika Serikat, pelemahan harga komoditas, serta meningkatnya tensi geopolitik yang memicu aksi penghindaran risiko (risk off) di pasar negara berkembang.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan meningkatnya aksi jual investor asing turut memperburuk sentimen pasar. Investor cenderung mengurangi eksposur pada saham-saham berisiko tinggi, khususnya sektor komoditas dan saham yang sebelumnya sudah mengalami kenaikan signifikan.
Secara teknikal, penurunan IHSG ke bawah level 7.000 dipandang sebagai sinyal melemahnya momentum pasar dalam jangka pendek. Level tersebut sebelumnya menjadi area psikologis penting yang cukup kuat menahan tekanan jual.
Analis memperkirakan IHSG masih berpotensi bergerak volatil pada perdagangan pekan depan dengan rentang support di area 6.900 hingga 6.800. Namun peluang rebound tetap terbuka apabila tekanan eksternal mulai mereda dan investor kembali melakukan akumulasi pada saham-saham berfundamental kuat, terutama sektor perbankan besar, telekomunikasi, dan consumer goods.
Pelaku pasar kini menantikan perkembangan kebijakan suku bunga global, stabilitas nilai tukar rupiah, serta arah arus modal asing yang diperkirakan akan menjadi penentu utama pergerakan IHSG dalam jangka pendek.
Data AI
