Jakarta, TopBusiness—Sektor pergudangan modern di Jabodetabek mencatat performa yang konsisten positif pada kuartal pertama 2026, dengan tingkat hunian stabil di 96%.
Pertumbuhan ini didorong oleh investasi manufaktur Tiongkok yang kuat, mencakup permintaan untuk pergudangan modern, sewa pabrik siap pakai, maupun lahan industrial.
“Dari sisi harga, pertumbuhan sewa berlanjut secara moderat,” kata Country Head and Head of Logistics and Industrial JLL Indonesia, Farazia Bazarah, dalam keterangan yang diterima Redaksi Majalah TopBusiness, hari ini.
Proyek-proyek premium dengan spesifikasi unggulan, lokasi strategis, dan menawarkan fleksibilitas, mampu menetapkan harga premium, yang kemudian menciptakan efek rambat pada kenaikan sewa pergudangan di kawasan sekitarnya.
Farazia pun menjelaskan bahwa permintaan tetap didominasi oleh sektor logistik dan jasa pengiriman, diikuti sektor-sektor lain baik dari pemain baru yang masuk pasar maupun ekspansi perusahaan eksis.
Dinamika pasar tidak hanya terpusat di Jabodetabek, namun juga menunjukkan permintaan di kota-kota lain seperti Bandung, Subang, dan Surabaya.”Secara keseluruhan, sektor pergudangan modern dan logistik menjadi segmen dengan performa terkuat di pasar properti pada periode ini,” kata Farazia.
Adapun Head of Research JLL Indonesia, James Taylor, mengatakan bahwa pasar perkantoran CBD Jakarta mempertahankan momentum pemulihannya di awal tahun2026, dengan tingkat okupansi stabil di 72%.
Angka permintaan pada kuartal pertama lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, mencerminkan kepercayaan yang berkelanjutan di pasar sewa.
Tidak adanya pasokan baru di kawasan CBD terus mendukung permintaan pada inventori eksis. Aktivitas penyewa tetap terfokus pada strategi perpindahan ke gedung dengan kualitas yang lebih baik.
Sementara itu, Taylor menjelaskan, pasar non-CBD mencatat penyerapan positif yang didorong oleh penyelesaian proyek baru di TB Simatupang, meskipun beberapa gedung yang telah eksis mengalami tekanan okupansi akibat penyewa yang melakukan pengurangan ruang atau perpindahan ke CBD.
Beralih ke pasar ritel di Jakarta, permintaan ruang sewa pusat perbelanjaan di Jakarta mencatat angka positif pada kuartal pertama tahun 2026, yaitu sekitar 10.000 meter persegi. Aktivitas kuartal ini didukung oleh sektor makanan dan minuman khususnya produk teh asal Tiongkok yang mendominasi pergerakan ekspansi di Jakarta. Kontribusi besar terhadap permintaan juga berasal dari beberapa produk parfum mewah luar negeri yang membuka toko pertamanya di pusat perbelanjaan premium Jakarta.
“Hal ini berdampak positif pada tingkat okupansi pusat perbelanjaan Jakarta yang saat ini berada di angka 86%,” Taylor menjelaskan.
