Jakarta, TopBusiness – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai semakin menekan dunia usaha, khususnya sektor logistik dan transportasi yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap komponen impor.
CEO Lorena Group, Eka Surbakti, menilai pemerintah perlu lebih serius dalam menjaga stabilitas ekonomi makro di tengah pelemahan rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.535 per dolar AS pada 13 Mei 2026.
Menurut Eka, fluktuasi nilai tukar bukan sekadar persoalan angka di pasar keuangan, melainkan memiliki dampak langsung terhadap biaya operasional pelaku usaha.
“Industri logistik sangat terpengaruh fluktuasi dolar. Harga BBM bisa naik bukan hanya karena perang, tetapi juga karena rupiah terus turun. BBM kita impor, belinya memakai dolar, sementara jualnya menggunakan rupiah,” ujar Eka, dikutip dari media sosialnya, Kamis (14/5/2026).
“Dari dulu, dari jaman saya jadi Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat ORGANDA, saya selalu menyampaikan, industri logistik sangat terpengaruh fluktuasi dolar,” tandasnya lagi.
Ia menjelaskan, tekanan biaya tidak hanya berasal dari bahan bakar minyak, tetapi juga dari kenaikan harga suku cadang kendaraan yang mayoritas masih bergantung pada impor, khususnya komponen mesin.
“Komponen kendaraan dan suku cadang banyak yang impor, terutama bagian mesin. Ketika dolar naik, biaya operasional otomatis ikut meningkat,” katanya.
Eka menilai dunia usaha selama ini terus berupaya mencari solusi agar tetap bertahan di tengah tekanan ekonomi, mulai dari melakukan efisiensi hingga membuka pasar baru. Namun, menurut dia, upaya tersebut akan sulit optimal apabila kondisi ekonomi makro tidak stabil.
“Pengusaha terus mencari terobosan, mencari pasar, membuat efisiensi, dan berbagai cara untuk bertahan. Tapi kalau kondisi makro berantakan, hasilnya sami mawon (sama saja),” tegasnya.
Ia juga menyoroti dampak pelemahan rupiah terhadap daya saing produk nasional. Menurutnya, daya saing tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk atau desain, tetapi juga oleh biaya produksi yang ikut terdampak kenaikan harga bahan baku impor.
“Daya saing produk bukan hanya soal desain atau kualitas rasa, tetapi juga biaya produksi. Packaging misalnya, masih banyak menggunakan bahan impor seperti plastik. Kalau rupiah melemah dan harga plastik naik, produsen kehilangan daya saing,” ujar Eka.
Sebagai pelaku usaha, Eka berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih besar terhadap stabilitas ekonomi nasional demi menjaga keberlangsungan dunia usaha dan penciptaan lapangan kerja.
“Kami para pengusaha dan entrepreneur terus berusaha membuka lapangan pekerjaan dan mendukung pergerakan ekonomi. Karena itu pemerintah perlu membantu menjaga kondisi ekonomi agar tetap kondusif,” katanya.
