Jakarta, TopBusiness – Dewan Juri TOP CSR Awards 2026 sekaligus konsultan CSR nasional, Nurdizal M. Rachman menegaskan bahwa implementasi Corporate Social Responsibility (CSR) di Indonesia harus bergerak melampaui sekadar kegiatan sosial dan filantropi perusahaan. Menurutnya, CSR saat ini harus menjadi bagian dari transformasi fundamental perusahaan dalam membangun bisnis yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan Nurdizal saat menyampaikan keynote speech dalam Webinar TOP CSR Awards 2026 bertema “Aligning CSR and ESG for Long-Term Corporate Value and Sustainable Development”, Selasa (19/5/2026).
Dalam paparannya, Nurdizal mengungkapkan bahwa penyelenggaraan TOP CSR Awards yang dimulai sejak 2017 telah mengalami perkembangan signifikan dalam pendekatan penilaian. Jika pada tahap awal fokus lebih banyak diarahkan pada inisiatif program CSR perusahaan, kini penilaian berkembang ke arah transformasi bisnis dan integrasi tanggung jawab sosial ke dalam strategi korporasi.
“CSR bukan lagi sekadar inisiatif atau kegiatan tambahan perusahaan. CSR harus menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk bertumbuh secara berkelanjutan,” ujar Nurdizal dalam webinar yang diikuti sekitar 200 peserta yang mewakili perusahaan finalis TOP CSR Awards 2026.
Ia menilai masih banyak pihak yang memandang ajang CSR sebatas kompetisi program sosial perusahaan atau bahkan sekadar “lomba kebaikan hati”. Padahal, menurutnya, esensi utama CSR modern justru terletak pada bagaimana perusahaan bertransformasi menjadi entitas bisnis yang bertanggung jawab terhadap dampak sosial dan lingkungan dari seluruh aktivitas usahanya.
“Masih banyak yang menangkap event CSR yang kita lakukan ini adalah lomba kebaikan hati saja. Padahal sebenarnya, kita ingin menjelaskan bagaimana perusahaan bertransformasi menjadi entitas bisnis yang bertanggung jawab,” kata Nurdizal.
Menurut dia, perusahaan saat ini tidak bisa lagi hanya berorientasi pada pencapaian keuntungan ekonomi semata. Dunia usaha juga dituntut mampu menghadirkan nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan secara berkelanjutan.
Karena itu, CSR tidak boleh diposisikan hanya sebagai program bantuan sosial yang sifatnya reaktif atau sekadar respons terhadap persoalan sesaat. Sebaliknya, CSR harus menjadi pendekatan strategis perusahaan dalam merespons tantangan sosial, lingkungan, dan ekspektasi para pemangku kepentingan di masa depan.
“CSR bukan hanya tindakan reaksioner, tetapi tindakan terencana untuk merespons berbagai isu sosial dan lingkungan yang menjadi tantangan perusahaan hari ini dan masa depan,” ujarnya.
Nurdizal menjelaskan, perusahaan pada dasarnya merupakan entitas sosial sekaligus entitas ekonomi. Karena itu, seluruh proses bisnis perusahaan semestinya dijalankan dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat, lingkungan, konsumen, pekerja, hingga rantai pasok usaha.
Ia bahkan menekankan bahwa tujuan tertinggi implementasi CSR adalah menjadikan perusahaan sebagai responsible company, yakni perusahaan yang bertanggung jawab secara fundamental dalam setiap keputusan bisnis dan operasionalnya.
“Kalau setiap entitas bisnis bertanggung jawab, maka berbagai masalah di negeri ini akan terselesaikan dengan sendirinya. Tidak ada pencemaran lingkungan, tidak ada konflik sosial, tidak ada keracunan pada konsumen,” katanya.
Dalam konteks tersebut, Nurdizal menilai transformasi CSR harus dimulai dari level kepemimpinan tertinggi perusahaan. Komitmen pimpinan perusahaan menjadi faktor penting agar nilai-nilai tanggung jawab sosial tidak berhenti sebagai slogan atau program jangka pendek semata.
Menurutnya, kepemimpinan yang kuat akan melahirkan perubahan budaya organisasi, membentuk sistem kerja baru, hingga mengintegrasikan prinsip tanggung jawab sosial ke dalam kebijakan dan strategi perusahaan.
“CSR harus menjadi DNA perusahaan. Jadi ketika direktur atau manajer berganti, perilaku bertanggung jawab itu tetap berjalan karena sudah melekat pada sistem perusahaan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti masih banyak program CSR yang berjalan baik, namun belum benar-benar melekat sebagai budaya perusahaan. Akibatnya, program tersebut sering kali berhenti ketika terjadi pergantian pimpinan atau perubahan kebijakan internal.
Karena itu, perusahaan didorong membangun sistem yang lebih kuat melalui pembentukan struktur organisasi, kebijakan, SOP, hingga indikator kinerja yang mendukung implementasi CSR dan ESG secara konsisten.
Nurdizal menambahkan, integrasi CSR juga harus tercermin dalam pengelolaan risiko dan operasional perusahaan. Misalnya, perusahaan mulai mengubah teknologi produksi menjadi lebih ramah lingkungan, mengurangi emisi, menggunakan energi terbarukan, hingga memastikan rantai pasok mematuhi standar sosial dan lingkungan.
“CSR mestinya menjadi shifting dalam pengelolaan operasional dan pengelolaan risiko perusahaan,” ujarnya.
Ia mencontohkan, perusahaan yang benar-benar menerapkan prinsip keberlanjutan tidak hanya sibuk membuat program sosial eksternal, tetapi juga melakukan perubahan nyata dalam cara perusahaan beroperasi.
“Bukan hanya membuat program stunting atau bantuan sosial saja. Intinya adalah bagaimana operasional perusahaan berubah menjadi lebih bertanggung jawab,” katanya.
Selain itu, perusahaan juga dinilai perlu membangun budaya kerja bertanggung jawab melalui edukasi dan sosialisasi kepada seluruh karyawan. Bahkan, perilaku bertanggung jawab seharusnya mulai dimasukkan ke dalam sistem Key Performance Indicator (KPI) perusahaan.
“Kalau perilaku bertanggung jawab belum menjadi KPI, maka perubahan budaya itu belum akan terdorong secara kuat,” ujar Nurdizal.
Dalam paparannya, ia juga menekankan pentingnya perusahaan membangun hubungan inklusif dengan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pekerja, masyarakat sekitar, vendor, hingga konsumen. Pendekatan tersebut dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang.
Menurut Nurdizal, perusahaan yang mampu mengelola hubungan dengan stakeholder secara baik akan memperoleh dukungan sosial yang kuat, sehingga bisnis dapat tumbuh lebih stabil dan berkelanjutan.
Di akhir paparannya, Nurdizal menegaskan bahwa TOP CSR Awards tidak hanya bertujuan memberikan apresiasi, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran dan transformasi bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia agar semakin siap menghadapi tantangan keberlanjutan global.
“Tujuan utama kita adalah mendorong transformasi perusahaan, menjadikan CSR sebagai DNA bisnisnya, dan membangun perusahaan yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan,” tuturnya.
Webinar TOP CSR Awards 2026 ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan TOP CSR Awards 2026 yang puncak acaranya akan diselenggarakan pada Senin, 25 Mei 2026 di Dian Ballroom, Hotel Raffles Jakarta.
