Jakarta, TopBusiness – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengakhiri perdagangan akhir pekan di zona merah. Pada penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026), IHSG turun 2,81 poin atau 0,05 persen ke level 6.127,381.
Meski sempat menguat signifikan pada sesi pertama perdagangan, tekanan jual yang muncul menjelang penutupan membuat indeks berbalik arah dan ditutup melemah. Koreksi terutama dipicu oleh aksi jual pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi penopang utama pergerakan indeks.
Aktivitas perdagangan berlangsung cukup tinggi dengan nilai transaksi mencapai Rp50,15 triliun, volume perdagangan sebanyak 47,21 miliar saham, dan frekuensi transaksi mencapai 2,38 juta kali. Sementara itu, sebanyak 284 saham menguat, 430 saham melemah, dan 245 saham ditutup tidak berubah.
Tekanan terbesar terhadap IHSG datang dari kelompok saham perbankan besar yang mengalami koreksi cukup dalam.
| Kode | Perubahan | Harga Penutupan |
|---|---|---|
| BBCA | turun 4,60% | Rp5.700 |
| BBRI | turun 3,91% | Rp2.950 |
| BBNI | turun 3,65% | Rp3.700 |
| BMRI | turun 1,21% | Rp4.080 |
Di sisi lain, sejumlah saham kelompok energi dan konglomerasi berhasil mencatatkan kenaikan tajam sehingga menahan pelemahan indeks lebih lanjut.
| Kode | Perubahan | Harga Penutupan |
|---|---|---|
| BREN | naik 25,00% | Rp3.300 |
| PTRO | naik 24,87% | Rp4.670 |
| BRPT | naik 24,76% | Rp1.940 |
| CUAN | naik 24,75% | Rp630 |
| CDIA | naik 12,58% | Rp850 |
Pergerakan IHSG pada akhir pekan menunjukkan pasar masih berada dalam fase konsolidasi dengan volatilitas yang tinggi. Tekanan jual yang terjadi pada saham-saham perbankan besar memberikan dampak signifikan terhadap indeks karena sektor keuangan memiliki bobot terbesar dalam perhitungan IHSG.
Aksi profit taking dan penyesuaian portofolio investor menjelang implementasi sejumlah perubahan komposisi indeks global turut menjadi faktor yang membayangi perdagangan. Investor cenderung mengurangi eksposur pada saham-saham perbankan besar yang sebelumnya menjadi tujuan utama aliran dana asing.
Namun demikian, penguatan tajam pada saham-saham sektor energi, petrokimia, dan pertambangan menunjukkan masih adanya minat investor terhadap sektor yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan lebih baik di tengah ketidakpastian pasar.
Secara teknikal, area 6.100 menjadi level penopang penting bagi IHSG dalam jangka pendek. Selama indeks mampu bertahan di atas level tersebut, peluang terjadinya rebound masih terbuka. Sebaliknya, apabila tekanan jual berlanjut dan indeks menembus area tersebut, ruang koreksi yang lebih dalam berpotensi terjadi.
Untuk perdagangan pekan berikutnya, pelaku pasar diperkirakan akan mencermati pergerakan dana asing, perkembangan nilai tukar rupiah, serta sentimen global yang berpotensi memengaruhi arah pasar saham domestik. Kombinasi faktor-faktor tersebut akan menjadi penentu apakah IHSG mampu kembali ke jalur penguatan atau masih melanjutkan fase konsolidasinya.
Data AI
