Jakarta, BusinessNews Indonesia – PT PP Properti Tbk (PPRO) akan fokus mengembangkan proyek-proyek eksisting dan meluncurkan proyek baru pada landbank yang sudah dimiliki. Tahun ini, PPRO akan menggarap proyek di 25 titik.
PP Propertii menegaskan tidak akan mengakuisisi lahan karena perusahaan sudah cukup banyak membeli lahan pada tahun lalu.
Direktur Utama PP Properti Taufik Hidayat mengatakan, dengan fokus melakukan produksi, PPRO membutuhkan modal kerja yang besar. Sebab itu, PP Properti tahun ini berencana menjual surat utang dengan target dana sekitar Rp 1,6 triliun. Sekitar Rp 1 triliun akan ditargetkan dari penerbitan obligasi dan Rp 600 miliar lagi akan dicari lewat penerbitan medium term notes (MTN).
“Selain sebagai modal kerja, dana dari penerbitan surat utang itu akan digunakan juga untuk refinancing utang dan melakukan pelunasan terhadap lahan-lahan yang dibeli tahun lalu. Sebagian lahan yang kami beli tahun lalu, ada pembanyarannya dilakukan tahun ini,” kata Taufik di Jakarta, Selasa (17/4).
Sementara itu, Direktur Keuangan PPRO Indaryanto menambahkan, penerbitan obligasi tersebut merupakan bagian dari rencana Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) senilai Rp 2 triliun. “Rencana obligasi ini akan menggunakan buku Desember 2017,” kata Indaryanto.
PPRO saat ini sudah mulai memproses penerbitan obligasi tersebut dan masih menunggu perizinan dari otoritas pasar modal. Perseroan sudah menunjuk Danareksa Sekuritas, Indo Premier Sekuritas, CIMB Sekuritas dan Trimegah Sekuritas sebagai underwriter.
Dengan menggunakan buku Desember 2017, maka penerbitan obligasi tersebut akan dilakukan pada kuartal II-2018. Sedangkan penerbitan MTN direncanakan pada paruh kedua 2018.
Tahun ini, PPRO menargetkan bisa membukukan pendapatan Rp 3,2 triliun dan laba bersih Rp 528 miliar.
