Jakarta, TopBusiness – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Kamis (11/6/2026) di zona merah. Pada pembukaan sesi pertama, IHSG di PT Bursa Efek Indonesia turun 3,11 poin atau 0,05 persen ke level 5.899,27 dari posisi penutupan sebelumnya di 5.902,38.
Berbeda dengan IHSG, indeks saham unggulan LQ45 justru dibuka menguat 0,83 poin atau 0,14 persen ke posisi 590,31, mencerminkan masih adanya minat beli pada sejumlah saham berkapitalisasi besar.
Aktivitas perdagangan pada awal sesi berlangsung cukup ramai. Hingga beberapa menit setelah pembukaan, frekuensi transaksi tercatat sekitar 55.000 kali transaksi dengan volume perdagangan mencapai sekitar 1,2 miliar saham dan nilai transaksi mendekati Rp850 miliar.
Tekanan terhadap IHSG terutama berasal dari pelemahan sejumlah saham berkapitalisasi besar yang memiliki bobot signifikan terhadap pergerakan indeks. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun ke kisaran Rp7.050 per saham, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melemah ke sekitar Rp3.820 per saham, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turun ke level Rp4.640 per saham, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) bergerak turun ke kisaran Rp4.850 per saham, serta PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) terkoreksi ke sekitar Rp6.300 per saham.
Di sisi lain, penguatan pada beberapa saham sektor telekomunikasi, energi, dan barang konsumsi berhasil menopang kinerja indeks LQ45 sehingga tetap bergerak positif pada awal perdagangan.
Secara sektoral, investor masih cenderung melakukan aksi ambil untung setelah penguatan signifikan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut membuat pergerakan pasar cenderung konsolidatif dengan tekanan jual yang relatif terbatas.
Dari sisi teknikal, level 5.900 menjadi area psikologis penting bagi IHSG. Pergerakan indeks yang masih bertahan di sekitar area tersebut menunjukkan bahwa pasar sedang mencari katalis baru untuk melanjutkan penguatan. Apabila mampu kembali menembus dan bertahan di atas level 5.900, peluang penguatan menuju area 5.950 hingga 6.000 masih terbuka.
Namun demikian, apabila tekanan jual meningkat terutama pada saham-saham perbankan besar dan saham berbasis komoditas, IHSG berpotensi bergerak menuju area support terdekat di kisaran 5.850–5.870.
Pelaku pasar juga masih mencermati perkembangan sentimen global, termasuk arah suku bunga bank sentral utama dunia, pergerakan harga komoditas, serta arus dana asing yang masih menjadi faktor penentu arah perdagangan. Dengan kondisi tersebut, pergerakan IHSG pada perdagangan hari ini diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan konsolidasi di rentang 5.850 hingga 5.950.
Data AI
