Jakarta, TopBusiness – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Selasa pagi dibuka melemah 20,19 poin atau 0,33 persen ke posisi 6.096,50 dari penutupan sebelumnya di level 6.116,69.
Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 2,01 poin atau 0,34 persen ke posisi 597,19.
Pada awal perdagangan, pergerakan IHSG berada di zona merah seiring masih kuatnya aksi jual pada sejumlah saham berkapitalisasi besar. Investor juga cenderung berhati-hati mencermati perkembangan sentimen global dan domestik yang berpotensi memengaruhi arah pasar keuangan.
Hingga beberapa menit setelah pembukaan perdagangan, aktivitas transaksi di BEI tercatat mencapai sekitar 220 ribu kali transaksi dengan volume perdagangan sekitar 2,9 miliar saham dan nilai transaksi mencapai Rp2,75 triliun. Sebanyak 225 saham tercatat melemah, 268 saham menguat, dan 162 saham tidak mengalami perubahan harga.
Pelemahan IHSG terutama dipengaruhi oleh turunnya sejumlah saham berkapitalisasi besar. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun Rp125 menjadi Rp7.825 per saham, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melemah Rp70 menjadi Rp3.670 per saham, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turun Rp100 menjadi Rp4.520 per saham, dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) terkoreksi Rp40 menjadi Rp2.560 per saham.
Selain itu, saham PT Astra International Tbk (ASII) turun Rp75 menjadi Rp4.600 per saham, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) melemah Rp85 menjadi Rp3.820 per saham, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) turun Rp200 menjadi Rp5.900 per saham, serta PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) terkoreksi Rp150 menjadi Rp7.550 per saham.
Analis menilai pelemahan IHSG pada awal perdagangan mencerminkan sikap wait and see investor terhadap berbagai sentimen yang berkembang di pasar global. Ketidakpastian terkait prospek pertumbuhan ekonomi dunia, arah kebijakan suku bunga bank sentral utama, serta pergerakan harga komoditas masih menjadi faktor yang membatasi minat beli investor.
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati sejumlah indikator ekonomi dan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Di sisi lain, aksi ambil untung setelah penguatan pada sesi sebelumnya turut memberikan tekanan terhadap pergerakan indeks.
Secara teknikal, IHSG masih bergerak dalam fase konsolidasi dengan area support berada pada kisaran 6.050 hingga 6.000, sedangkan area resistance berada di rentang 6.150 hingga 6.200. Selama belum mampu kembali menembus level resistance tersebut, pergerakan indeks berpotensi bergerak terbatas dengan kecenderungan melemah.
Investor diperkirakan akan terus mencermati arus dana asing serta perkembangan sentimen global sebagai penentu arah pergerakan IHSG sepanjang perdagangan hari ini.
Data AI
