Jakarta, TopBusiness – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam pada akhir perdagangan Jumat (26/6/2026). Indeks terkoreksi 102,90 poin atau 1,72% ke posisi 5.896,13, dari posisi penutupan sebelumnya di kisaran 5.999,03.
Pelemahan tersebut mencerminkan tekanan jual yang terjadi hampir di seluruh sektor perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. Hingga penutupan sesi kedua, aktivitas perdagangan mencatat total volume transaksi mencapai 20,32 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp12,35 triliun.
Dari sisi pergerakan saham, sebanyak 562 saham ditutup melemah, sementara hanya 123 saham berhasil menguat dan 129 saham bergerak stagnan. Komposisi tersebut menunjukkan dominasi aksi jual yang cukup kuat sehingga membebani pergerakan indeks secara keseluruhan.
Secara nominal, IHSG turun dari level sekitar 5.999,03 poin menjadi 5.896,13 poin, atau kehilangan sekitar 102,90 poin dalam satu hari perdagangan. Penurunan tersebut menandai berlanjutnya tekanan terhadap pasar saham domestik setelah indeks gagal mempertahankan level psikologis 6.000.
Tekanan terhadap IHSG pada perdagangan hari ini menunjukkan sentimen pelaku pasar masih cenderung berhati-hati (risk-off). Dominasi 562 saham yang terkoreksi mengindikasikan aksi jual berlangsung secara luas (broad-based selling), bukan hanya pada saham-saham berkapitalisasi besar.
Nilai transaksi sebesar Rp12,35 triliun tergolong cukup tinggi, yang mengindikasikan pelemahan indeks disertai aktivitas perdagangan yang ramai. Kondisi ini menunjukkan banyak investor memilih melakukan realisasi keuntungan (profit taking) maupun mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Dari sisi teknikal, penutupan IHSG di level 5.896,13 juga memiliki arti penting karena indeks kembali berada di bawah level psikologis 6.000 poin. Apabila tekanan jual masih berlanjut pada perdagangan berikutnya, IHSG berpotensi menguji area support berikutnya di kisaran 5.850–5.800. Sebaliknya, untuk memulihkan tren penguatan, indeks perlu kembali menembus area 6.000–6.050 sebagai level resistensi awal.
Lebarnya selisih antara jumlah saham yang turun dan naik—yakni 562 berbanding 123 saham—menunjukkan pelemahan pasar bersifat menyeluruh. Artinya, tekanan tidak hanya berasal dari beberapa emiten berkapitalisasi besar, tetapi juga meluas ke saham-saham lapis kedua dan ketiga.
Ke depan, arah pergerakan IHSG diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global, pergerakan nilai tukar rupiah, dinamika suku bunga, serta aksi investor asing. Selama sentimen eksternal belum membaik dan minat beli belum kembali menguat, volatilitas di pasar saham domestik diperkirakan masih akan tetap tinggi.
Data AI
