Jakarta, TopBusiness – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengawali perdagangan Senin pagi di zona hijau. IHSG dibuka naik 35,90 poin atau 0,61 persen ke level 5.932,03, setelah pada perdagangan sebelumnya berada di posisi 5.896,13. Sementara itu, Indeks LQ45 yang berisi saham-saham berkapitalisasi besar turut menguat 0,98 poin atau 0,17 persen menjadi 584,70.
Pada awal perdagangan, aktivitas transaksi menunjukkan minat beli yang cukup solid. Dalam beberapa menit pertama perdagangan tercatat lebih dari 500 juta lembar saham berpindah tangan dengan frekuensi sekitar 50 ribu kali transaksi, sedangkan nilai transaksi mencapai sekitar Rp390 miliar. Sebagian besar saham bergerak di zona hijau dengan jumlah saham naik lebih banyak dibandingkan saham yang melemah.
Penguatan IHSG pada awal sesi ditopang oleh kenaikan sejumlah saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan, telekomunikasi, energi, dan komoditas. Saham-saham yang menjadi motor penguatan indeks antara lain:
| Saham | Perubahan | Posisi Harga |
|---|---|---|
| BBCA | +1,2% | Rp8.975 per saham |
| BBRI | +1,4% | Rp3.990 per saham |
| BMRI | +1,1% | Rp5.150 per saham |
| TLKM | +0,9% | Rp2.770 per saham |
| ANTM | +2,1% | Rp2.020 per saham |
| ASII | +1,0% | Rp4.850 per saham |
Saham-saham tersebut memiliki kapitalisasi pasar besar sehingga setiap kenaikan harga memberikan kontribusi signifikan terhadap pergerakan IHSG.
Dari sisi sektoral, saham energi dan bahan baku memimpin penguatan seiring membaiknya sentimen harga komoditas global. Di sisi lain, saham perbankan kembali diminati investor karena ekspektasi stabilnya fundamental industri keuangan domestik.
Analis menilai penguatan IHSG pada awal perdagangan didorong kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari luar negeri, penguatan bursa saham Amerika Serikat dan sebagian besar pasar Asia meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko. Sementara dari dalam negeri, pelaku pasar masih mencermati prospek inflasi, nilai tukar rupiah, serta kebijakan suku bunga yang diperkirakan tetap kondusif bagi pasar modal.
Meski demikian, pelaku pasar masih mewaspadai potensi volatilitas akibat dinamika ekonomi global, termasuk pergerakan harga minyak dunia, arah kebijakan bank sentral utama, serta arus dana investor asing. Selama tekanan eksternal tidak meningkat signifikan, IHSG diperkirakan masih memiliki peluang melanjutkan penguatan dengan kisaran pergerakan pada area 5.900–5.980, sedangkan level 5.880 menjadi area penopang (support) terdekat.
Secara teknikal, keberhasilan IHSG bertahan di atas level psikologis 5.900 memperlihatkan masih adanya akumulasi beli pada saham-saham unggulan. Apabila momentum tersebut berlanjut disertai peningkatan volume transaksi, indeks berpotensi menguji area resistensi berikutnya di sekitar 5.980 hingga 6.000. Sebaliknya, aksi ambil untung jangka pendek tetap berpotensi muncul mengingat investor masih akan menunggu perkembangan sentimen global dan arah aliran dana asing.
Data AI
