Jakarta, TopBusiness – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup di zona merah pada perdagangan Senin (29/6/2026). IHSG melemah 75,34 poin atau 1,28% ke level 5.820,79 seiring masih derasnya aksi jual yang terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Sepanjang perdagangan, total volume transaksi mencapai 14,72 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp8,69 triliun. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 449 saham ditutup melemah, 214 saham menguat, dan 149 saham bergerak stagnan. Komposisi tersebut menunjukkan tekanan jual masih mendominasi hampir seluruh sektor perdagangan.
Pelemahan IHSG terutama berasal dari saham-saham unggulan yang memiliki bobot besar terhadap indeks. Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjadi kontributor terbesar setelah turun Rp150 ke level Rp6.025 per saham. Selanjutnya, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) terkoreksi Rp30 menjadi Rp2.840 per saham, sedangkan saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) turun Rp40 ke posisi Rp3.950 per saham.
Dominasi pelemahan pada saham-saham bank bukan tanpa alasan. Sektor perbankan memiliki kapitalisasi pasar terbesar di BEI sehingga setiap penurunan harga saham BBCA, BBRI, maupun BMRI memberikan pengaruh signifikan terhadap pergerakan indeks. Koreksi yang terjadi pada ketiga saham tersebut menjadi faktor utama yang menyeret IHSG turun lebih dari satu persen pada akhir perdagangan.
Dari sisi aktivitas perdagangan, nilai transaksi sebesar Rp8,69 triliun tergolong belum mencerminkan minat beli yang kuat. Kondisi tersebut mengindikasikan investor masih cenderung berhati-hati dan memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di tengah sentimen pasar yang belum kondusif.
Secara teknikal, penutupan IHSG di level 5.820,79 menempatkan indeks semakin dekat dengan area support psikologis 5.800. Apabila tekanan jual berlanjut dan level tersebut ditembus, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan menuju kisaran 5.750 hingga 5.780. Sebaliknya, peluang pemulihan baru akan terbuka apabila indeks mampu kembali menembus level 5.900 dengan dukungan peningkatan nilai transaksi dan kembali masuknya dana investor ke saham-saham berkapitalisasi besar.
Analis menilai pelemahan yang terjadi masih didominasi oleh sentimen jangka pendek, termasuk aksi profit taking setelah pergerakan pasar yang fluktuatif dalam beberapa pekan terakhir. Di sisi lain, investor juga masih menunggu berbagai katalis baru, baik dari perkembangan ekonomi global maupun kondisi makroekonomi domestik, sebelum kembali meningkatkan akumulasi pada saham-saham unggulan.
Selama tekanan pada saham-saham perbankan dan emiten berkapitalisasi besar masih berlanjut, ruang penguatan IHSG diperkirakan masih terbatas. Namun, apabila aksi jual mulai mereda dan minat beli kembali meningkat, peluang rebound tetap terbuka mengingat fundamental sebagian besar emiten blue chip masih relatif solid.
Data AI
