TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Bangun Ekosistem Plasma Nasional, Takeda Investasi Rp 539 Miliar

Nurdian Akhmad
13 July 2026 | 14:28
rubrik: Business Info
Bangun Ekosistem Plasma Nasional, Takeda Investasi Rp 539 Miliar

Jakarta, TopBusiness – Perusahaan biofarmasi global, Takeda, menggandeng Pemerintah Indonesia untuk membangun ekosistem industri plasma nasional guna memperluas akses terhadap plasma-derived therapies (PDT/PODP), terapi berbasis plasma yang digunakan untuk menangani berbagai penyakit serius dan langka.

Kemitraan strategis tersebut melibatkan Kementerian Kesehatan, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), serta Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Sebagai bagian dari kerja sama tersebut, Kementerian Kesehatan menetapkan Takeda sebagai industri farmasi yang dapat menyelenggarakan fraksionasi plasma untuk memproduksi terapi berbasis plasma di Indonesia.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan langkah tersebut menjadi tonggak penting dalam memperkuat ketahanan kesehatan nasional sekaligus mendukung pengembangan industri biofarmasi dalam negeri.

“Inisiatif ini mencerminkan komitmen Pemerintah Indonesia untuk membangun industri strategis di sektor kesehatan dan memastikan masyarakat memiliki akses yang lebih baik terhadap pengobatan penting dan inovatif,” ujar Budi dalam keterangannya, Senin (13/7/2026).

Melalui kemitraan tersebut, Takeda akan melakukan pengumpulan plasma dan proses fraksionasi secara bertahap sebagai bagian dari pembangunan rantai industri plasma nasional. Program ini juga menjadi yang pertama di Asia Tenggara yang berfokus pada pengembangan sistem pengumpulan plasma berkualitas tinggi secara berkelanjutan sekaligus mendukung manufaktur terapi berbasis plasma dalam skala besar.

Sebagai tahap awal, Takeda menyiapkan investasi hingga US$ 30 juta atau sekitar Rp 539 miliar dalam dua tahun ke depan untuk membangun sejumlah bank plasma di Indonesia. Hasil implementasi tahap awal tersebut akan menjadi dasar evaluasi bagi Takeda dan Kementerian Kesehatan sebelum dikembangkan menjadi jaringan bank plasma nasional.

Bank plasma pertama ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 dan akan menjadi bagian dari jaringan bank plasma BioLife milik Takeda yang telah beroperasi di berbagai negara.

BACA JUGA:   Perumahan Panorama Danau Ini Mulai Dibangun

President Plasma-Derived Therapies Takeda, Ramy Riad, mengatakan perusahaan berkomitmen mendukung pembangunan ekosistem plasma yang berkelanjutan sekaligus memperluas akses pasien Indonesia terhadap terapi berbasis plasma.

“Kerja sama ini menunjukkan komitmen Takeda untuk memperluas akses terhadap PODP sekaligus mendukung pembangunan ekosistem plasma yang berkelanjutan di Indonesia,” kata Ramy.

Menurut dia, investasi yang dilakukan Takeda tidak hanya mencakup pembangunan infrastruktur pengumpulan plasma, tetapi juga pengembangan sumber daya manusia melalui pelatihan tenaga kesehatan dan transfer pengetahuan.

Selain membangun bank plasma, Takeda juga akan mengkaji potensi pembangunan fasilitas manufaktur terapi berbasis plasma berteknologi tinggi di Indonesia. Fasilitas tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus membuka peluang ekspor ke pasar internasional.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P. Roeslani menilai kerja sama tersebut memiliki nilai strategis karena tidak hanya menghadirkan investasi baru, tetapi juga mendorong transfer teknologi dan peningkatan kapasitas tenaga kerja nasional.

“Investasi ini merupakan investasi strategis. Selain menghadirkan investasi baru, kemitraan ini juga membuka peluang transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia nasional, dan penciptaan lapangan kerja,” ujar Rosan.

Ia menambahkan, pengembangan industri plasma dan manufaktur terapi berbasis plasma berpotensi memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global sektor kesehatan sekaligus mendukung ambisi Indonesia menjadi pusat inovasi kesehatan dan manufaktur obat berteknologi maju di kawasan.

Permintaan global terhadap terapi berbasis plasma terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, masih menghadapi tantangan dalam menjamin ketersediaan terapi tersebut akibat keterbatasan pasokan plasma, rendahnya tingkat diagnosis, dan minimnya kesadaran terhadap penyakit yang dapat ditangani dengan terapi berbasis plasma.

Melalui kemitraan ini, pemerintah dan Takeda berharap dapat membangun pasokan plasma yang lebih berkelanjutan, meningkatkan kapasitas industri kesehatan nasional, serta memperluas akses pasien terhadap terapi yang menyelamatkan dan menopang kehidupan.

BACA JUGA:   Ritel Modern di Zona Hijau dan Kuning Bisa Beroperasi

Sementara fasilitas fraksionasi plasma di Indonesia masih dalam tahap kajian, plasma yang berhasil dikumpulkan akan diproses melalui jaringan manufaktur global Takeda dengan tetap mengutamakan pemenuhan kebutuhan pasien di Indonesia sesuai ketentuan yang berlaku.

Tags: Takeda
Previous Post

Investor Retail Serbu Saham UVCR Berkat Free Float dan Kinerja Solid

Next Post

Danantara Garap 26 Proyek Hilirisasi senilai Rp 225 Triliun

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR