Selain ekspansi melalui akuisisi, TRIS juga menjalankan program buyback saham dengan total dana maksimal Rp 15 miliar.
Jakarta, TopBusiness – PT Trisula International Tbk (IDX: TRIS) memperkuat strategi pertumbuhan jangka panjang melalui dua aksi korporasi sekaligus, yakni mengakuisisi 75% saham PT Lifestyle Pratama senilai Rp 20 miliar serta melaksanakan program pembelian kembali saham (buyback) dengan anggaran maksimal Rp 15 miliar.
Direktur Utama TRIS Widjaya Djohan mengatakan, kedua langkah tersebut merupakan bagian dari upaya Perseroan untuk memperkuat fundamental bisnis sekaligus meningkatkan nilai bagi para pemegang saham.
Akuisisi dilakukan melalui pengambilalihan 75% saham PT Lifestyle Pratama dengan nilai transaksi Rp 20 miliar. Transaksi tersebut dilakukan melalui mekanisme kompensasi pemotongan piutang (set off) dari PT Inti Nusa Damai yang merupakan entitas afiliasi TRIS.
Perseroan menjelaskan bahwa nilai transaksi tersebut hanya sekitar 2,38% dari total ekuitas perusahaan sehingga tidak tergolong sebagai transaksi material dan tidak memerlukan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Manajemen TRIS menilai akuisisi ini menjadi bagian dari strategi diversifikasi usaha untuk memperkuat sinergi bisnis serta memperluas kapabilitas perusahaan. Langkah tersebut diharapkan mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi Perseroan dan para pemegang saham dalam jangka panjang.
Selain ekspansi melalui akuisisi, TRIS juga menjalankan program buyback saham dengan total dana maksimal Rp 15 miliar. Program tersebut akan berlangsung selama tiga bulan, mulai 6 Juli hingga 5 Oktober 2026.
Dalam aksi korporasi tersebut, Perseroan menargetkan pembelian kembali maksimal 94 juta saham atau sekitar 3% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Anggaran buyback telah mencakup biaya transaksi dan biaya lain yang terkait dengan pelaksanaannya.
Menurut manajemen, buyback dilakukan untuk menjaga stabilitas harga saham di tengah dinamika pasar modal sekaligus menunjukkan keyakinan Perseroan terhadap prospek bisnis ke depan.
Berdasarkan proforma keuangan per 31 Maret 2026, pelaksanaan buyback diperkirakan tidak akan memengaruhi laba tahun berjalan Perseroan yang tetap sebesar Rp 17,23 miliar. Namun, jumlah saham beredar diproyeksikan berkurang dari 3,09 miliar saham menjadi 2,99 miliar saham sehingga berpotensi meningkatkan laba per saham (earning per share/EPS) dari Rp 5,57 menjadi Rp 5,75.
“Kami meyakini prospek kinerja TRIS ke depan akan tetap positif. Sebagai pemain industri garmen dan tekstil terintegrasi, kami optimistis dengan strategi yang telah kami jalankan. Hal ini tercermin dari kinerja kuartal I-2026 yang mencatat pertumbuhan penjualan double digit, didominasi oleh pasar ekspor yang tumbuh 17% secara tahunan di tengah berbagai dinamika global,” ujar Widjaya dalam siaran persnya, Rabu (15/7/2026).
Ia menambahkan, aksi korporasi buyback dan akuisisi diharapkan dapat semakin memperkuat posisi TRIS di industri tekstil dan garmen nasional.
“Kami berharap untuk memperkuat strategi jangka panjang Perseroan melalui aksi korporasi buyback dan akuisisi ini. Selain memperkuat kinerja, kami juga percaya bahwa posisi TRIS di tanah air akan menjadi semakin kokoh,” katanya.
Pada kuartal I-2026, TRIS membukukan penjualan sebesar Rp 455,33 miliar, meningkat 13% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 402,34 miliar. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh penjualan ekspor yang naik 17% secara tahunan menjadi Rp276,24 miliar, sementara sisanya berasal dari pasar domestik.
