Jakarta, TopBusiness – Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) menegaskan bahwa keberhasilan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tidak dapat dipisahkan dari keberlangsungan rumah sakit swasta.
Saat ini, sekitar dua dari tiga rumah sakit yang melayani peserta JKN merupakan rumah sakit swasta, sehingga keberlanjutan keduanya merupakan satu kesatuan yang saling bergantung.
Rumah sakit swasta memegang peran strategis dalam keberhasilan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Berdasarkan data BPJS Kesehatan per 30 April 2026, sekitar 66,53% fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan (FKRTL) merupakan rumah sakit swasta.
Hal ini menegaskan bahwa keberlanjutan JKN dan rumah sakit swasta merupakan satu kesatuan yang saling mendukung.
Melalui Seminar Nasional XIII & Healthcare Expo XI, ARSSI mengangkat berbagai tantangan yang dihadapi rumah sakit, mulai dari Implementasi Permenkes Nomor 6 Tahun 2026, Keberlanjutan Pembiayaan JKN, hingga Percepatan Transformasi Digital.

Ketiga aspek tersebut dinilai harus berjalan beriringan agar pelayanan kesehatan tetap optimal bagi masyarakat.
ARSSI menegaskan komitmennya untuk meningkatkan kualitas pelayanan melalui penurunan angka pending claim, penguatan tata kelola klaim, penerapan clinical pathway, pencegahan fraud, serta pengembangan rumah sakit sebagai wahana pendidikan dokter spesialis.
Dalam kesempatan ini, ARSSI juga menyampaikan sejumlah rekomendasi strategis kepada pemerintah dan BPJS Kesehatan.
Di antaranya percepatan regulasi turunan Permenkes Nomor 6 Tahun 2026, pembentukan satuan tugas transisi nasional, penyusunan sistem pending klaim yang transparan dan seragam, peninjauan tarif berbasis biaya riil pelayanan, serta implementasi value-based payment pada layanan prioritas.
Lebih jauh, ARSSI mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk membangun kolaborasi yang lebih kuat.
Tantangan rumah sakit tidak dapat diselesaikan hanya oleh regulator dan penyelenggara jaminan kesehatan. Perbankan, industri, dan seluruh ekosistem kesehatan perlu hadir sebagai mitra strategis dalam mendukung pembiayaan, transformasi digital, serta keberlanjutan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
“Rumah sakit membutuhkan mitra ekosistem, bukan hanya regulator. Dengan kolaborasi yang kuat, sistem kesehatan Indonesia akan semakin tangguh dalam menghadapi tantangan masa depan,” tandas Ketum ARSSI, Dr. drg. Iing Ichsan Hanafi, MARS., MH, di acara tersebut, Rabu (22/7/2026).
