Jakarta, BusinessNews Indonesia – Meskipun tekanan eksternal membuat penguatan dolar AS pada kuartal I-2018 hampir menyentuh level Rp 14.000/US$, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menilai bahwa sistem stabilitas keuangan dalam kondisi terkendali. Sejauh ini, rasio permodalan bank masih terjaga dan tidak ada gejala rush money.
Demikian salah satu kesimpulan hasil rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang digelar di Jakarta, Senin malam (30/4/2018).
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, risiko dampak pelemahan rupiah dan bertambahnya bank sistemik telah diantisipasi. Pihaknya memastikan, akan mempersiapkan langkah yang diperlukan untuk memperkuat koordinasi antar anggota KSSK.
“Untuk memastikan lembaga jasa keuangan telah melakukan langkah mitigasi yang memadai, sehubungan dengan peningkatan risiko di pasar keuangan, termasuk koordinasi pengawasan terhadap transaksi valas oleh perbankan,” katanya.
Jika menggunakan skenario terburuk di mana nilai tukar rupiah terus terpuruk, OJK mengaku optimistis rasio permodalan bank masih terjaga. Apalagi data OJK Maret 2018 menunjukan, rasio kecukupan modal (CAR) berada di atas 22%.
Namun, OJK pun tak memungkiri, bahwa jumlah bank sistemik pada April 2018 bertambah menjadi 15 bank, dari yang sebelumnya pada September 2017 hanya sekitar 11 bank sistemik. Bertambahnya jumlah bank sistemik, tak lepas karena adanya penambahan kapasitas bank.
Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Halim Alamsyah mengatakan, kondisi ekonomi domestik masih cukup stabil yang tercermin dari jumlah simpanan masyarakat di perbankan. LPS memandang, saat ini belum ada tanda-tanda penarikan dana simpanan secara besar-besaran (rush money) di perbankan. “Tidak ada gejala pergerakan tarik dana,” tegas dia.
LPS akan bersinergi bersama seluruh anggota KSSK untuk terus memantau dan mencermati pergerakan simpanan masyarakat, dan tingkat bunga simpanan sebagai dampak potensi peningkatan kebutuhan dana untuk penyaluran kredit, serta dampak eksternal.
Sri Mulyani Indrawati selaku Ketua KSSK juga menegaskan, Fundamental ekonomi yang dianggap baik-baik saja tercermin dari tingkat inflasi yangn terjaga, kondisi kas keuangan negara yang terjaga baik itu dari sisi defisit anggaran hingga defisit keseimbangan primer, sampai dengan defisit transaksi berjalan yang masih dalam batas aman.
Meski demikian, KSSK memahami masih ada sejumlah tantangan yang akan dihadapi, dan berpotensi menganggu sistem stabilitas keuangan Indonesia baik itu yang berasal dari gejolak eksternal maupun internal. Hal itu, akan diantisipasi oleh KSSK.
