Jakarta, TopBusiness — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali ditutup di zona merah pada perdagangan Selasa (28/7/2026). IHSG merosot 55,19 poin atau 0,89 persen ke level 6.130,58 dari posisi penutupan sebelumnya sekitar 6.185,77.
Pelemahan indeks terjadi seiring tekanan jual yang masih mendominasi mayoritas saham berkapitalisasi besar. Aktivitas perdagangan tercatat cukup ramai dengan total volume transaksi mencapai 24,87 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp10,70 triliun.
Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 360 saham melemah, 265 saham menguat, dan 172 saham stagnan.
Penurunan IHSG terutama dipicu pelemahan saham-saham berkapitalisasi besar sektor perbankan, konsumer, dan telekomunikasi. Pada penutupan perdagangan Selasa (28/7/2026), beberapa saham yang menjadi penekan utama indeks antara lain:
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun sekitar 1,2 persen ke kisaran Rp8.400-an per saham.
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melemah sekitar 1,5 persen ke kisaran Rp4.100-an per saham.
- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) terkoreksi sekitar 1,3 persen ke kisaran Rp5.200-an per saham.
- PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) turun sekitar 0,8 persen ke kisaran Rp2.800-an per saham.
- PT Astra International Tbk (ASII) melemah sekitar 1,0 persen ke kisaran Rp4.700-an per saham.
Di sisi lain, penguatan terbatas pada beberapa saham komoditas dan energi belum mampu menahan laju penurunan indeks.
Secara teknikal, penurunan 55,19 poin menunjukkan IHSG gagal mempertahankan area psikologis 6.200. Penutupan di level 6.130,58 mengindikasikan tekanan jual masih lebih kuat dibanding minat beli investor.
Nilai transaksi yang mencapai Rp10,70 triliun menandakan pelemahan terjadi dengan partisipasi pasar yang cukup tinggi, sehingga koreksi indeks tidak hanya bersifat teknikal sesaat.
Analis pasar modal menilai pelemahan IHSG dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari sisi global, pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral utama dunia dan pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat yang cenderung meningkat. Kondisi tersebut mendorong investor mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang.
Dari dalam negeri, aksi ambil untung pada saham-saham unggulan setelah penguatan beberapa hari sebelumnya turut memperbesar tekanan jual. Sektor perbankan yang memiliki bobot terbesar dalam pergerakan IHSG menjadi faktor utama penurunan indeks hari ini.
Rasio saham turun yang lebih banyak dibanding saham naik juga mencerminkan sentimen pasar yang masih negatif. Investor cenderung bersikap hati-hati sambil menunggu katalis baru, baik dari rilis data ekonomi domestik maupun perkembangan pasar global.
Untuk perdagangan selanjutnya, IHSG diperkirakan bergerak pada rentang support 6.080–6.100 dan resistance 6.180–6.220. Apabila tekanan jual berlanjut dan indeks menembus area support, peluang pelemahan menuju kisaran 6.000 masih terbuka. Sebaliknya, rebound jangka pendek berpotensi terjadi apabila muncul aksi beli pada saham-saham perbankan dan saham unggulan lain yang telah terkoreksi cukup dalam.
Pelaku pasar disarankan tetap mencermati pergerakan rupiah, arus dana asing, serta sentimen global yang masih menjadi penentu utama arah IHSG dalam jangka pendek.
Data AI
