Jakarta, TopBusiness – PT Chandra Asri Pacific Tbk (IDX: TPIA) atau Chandra Asri Group membukukan kinerja keuangan yang solid sepanjang semester pertama 2026.
Perseroan mencatat pendapatan sebesar USD5,35 miliar, meningkat sekitar 83,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar USD2,91 miliar. Sementara itu, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai USD371,2 juta.
Berdasarkan laporan keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Rabu (29/7/2026), peningkatan pendapatan ditopang oleh ketahanan platform bisnis terintegrasi Perseroan di sektor energi, kimia, dan infrastruktur, disertai eksekusi operasional yang disiplin serta keberhasilan integrasi berbagai aset strategis.
Selain membukukan laba bersih, Chandra Asri Group juga mencatatkan EBITDA operasional sebesar USD802,6 juta, yang disebut sebagai rekor bagi Perseroan pada semester pertama.
Kinerja tersebut sekaligus memperkuat transformasi perusahaan menuju pemain regional di sektor energi, kimia, dan infrastruktur.
Kontribusi terbesar terhadap pendapatan masih berasal dari segmen energi yang membukukan pendapatan USD3,33 miliar, melonjak 184,4% dibandingkan semester I-2025. Sementara segmen kimia menyumbang USD1,96 miliar dan segmen infrastruktur memberikan kontribusi USD64,6 juta.
Perseroan menjelaskan, pada bisnis energi, integrasi pascaakuisisi jaringan SPBU Esso beserta fasilitas cold storage terus berjalan dan menjadi fondasi penguatan platform mobility sekaligus meningkatkan efisiensi operasional dan ketahanan rantai pasok.
Di sisi lain, proyek revitalisasi Condensate Splitter Unit (CSU) dan Single Buoy Mooring (SBM) di Pulau Bukom juga tetap berjalan sesuai rencana dan ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV-2026. Proyek tersebut diperkirakan mampu memberikan tambahan EBITDA sekitar USD20 juta per bulan setelah beroperasi penuh.
Pada segmen kimia, Chandra Asri Group melanjutkan pengembangan proyek Chlor Alkali–Ethylene Dichloride (CA-EDC) yang progres konstruksinya telah mencapai 72% dan ditargetkan beroperasi secara komersial pada 2027.
Selain itu, Perseroan juga telah mengambil Final Investment Decision (FID) untuk proyek ekspansi ekspor C2 senilai USD80 juta guna meningkatkan kapasitas ekspor dan memperkuat integrasi operasi regional.
Di sektor infrastruktur, perusahaan terus memperluas platform bisnis melalui pengembangan PT Chandra Daya Investasi (CDI), termasuk pembentukan joint venture Aster Power bersama Sembcorp dan CDI serta proses carve-out Aster Ports & Terminals. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi memperkuat platform infrastruktur regional Perseroan.
Dari sisi struktur keuangan, Chandra Asri Group juga mempertahankan posisi likuiditas yang kuat. Hingga akhir Juni 2026, Perseroan memiliki kas, setara kas, dan surat berharga sebesar USD3,87 miliar.
Di samping itu, perusahaan berhasil menyelesaikan penerbitan Obligasi Berkelanjutan V senilai total Rp6 triliun yang mengalami kelebihan permintaan (oversubscription), sehingga memperkuat fleksibilitas pendanaan untuk mendukung operasional maupun ekspansi bisnis ke depan.
Perseroan juga mencatat peningkatan porsi saham publik (free float) menjadi sekitar 25,7% melalui transaksi penyeimbangan kepemilikan saham oleh salah satu pemegang saham strategis. Langkah tersebut diharapkan meningkatkan likuiditas perdagangan saham serta memperluas akses investor domestik maupun internasional terhadap saham TPIA.
Dalam keterbukaan informasi, manajemen menyatakan bahwa capaian semester pertama 2026 mencerminkan kemampuan Chandra Asri Group dalam mengeksekusi strategi pertumbuhan secara konsisten sekaligus menciptakan nilai jangka panjang melalui platform bisnis yang semakin terintegrasi di sektor energi, kimia, dan infrastruktur.
