TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Kenaikan BI Rate Tekan Permintaan Kredit, Industri Perbankan Hadapi Tantangan Likuiditas

Nurdian Akhmad
1 August 2026 | 13:24
rubrik: Business Info, Ekonomi
Kenaikan BI Rate Tekan Permintaan Kredit, Industri Perbankan Hadapi Tantangan Likuiditas

Direktur Utama BNC Eri Budiono


Jakarta, TopBusiness – Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang berlangsung cukup agresif dalam beberapa bulan terakhir mulai memberikan tekanan terhadap industri perbankan nasional. Selain meningkatkan biaya dana (cost of fund), kondisi tersebut juga berdampak pada melambatnya permintaan kredit dari masyarakat maupun pelaku usaha.

Direktur Utama PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC), Eri Budiono, mengatakan dampak kenaikan suku bunga tidak hanya dirasakan dari sisi penghimpunan dana, tetapi juga memengaruhi keputusan masyarakat dan dunia usaha dalam melakukan pembiayaan.

“Kalau suku bunga naik dan likuiditas di pasar cukup ketat, perusahaan maupun individu tentu akan mempertimbangkan kembali apakah perlu melakukan investasi atau pembelian dengan pembiayaan,” ujar Eri dalam Media Gathering Bank Neo Commerce di Jakarta, Jumat (31/7/2026).

Sepanjang Mei hingga Juni 2026, Bank Indonesia menaikkan BI-Rate secara bertahap hingga 100 basis poin. Pada Mei 2026, BI-Rate naik 50 basis poin dari 4,75% menjadi 5,25%.

Selanjutnya, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) mingguan pada 9 Juni 2026, BI kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%. Pada RDG Juni 2026, BI kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%. Sementara itu, dalam RDG Juli 2026, Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI-Rate di level 5,75%.

Menurut dia, dunia usaha cenderung menunda rencana ekspansi ketika biaya pendanaan meningkat. Sementara itu, masyarakat juga menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan konsumsi yang membutuhkan fasilitas kredit.

“Kalau dari sisi korporasi, mereka akan melihat lagi apakah perlu melakukan ekspansi atau menambah kapasitas produksi. Dari sisi individu juga sama, keputusan pembelian akan semakin selektif,” katanya.

Eri menilai kondisi tersebut tidak terlepas dari daya beli masyarakat yang masih menghadapi tekanan, sehingga permintaan pembiayaan belum sepenuhnya pulih.

BACA JUGA:   Kualitas Layanan di Atas Standar, RSUD Labuha Masuk Finalis Peraih TOP BUMD Award 2025

Di sisi lain, likuiditas yang semakin ketat turut memicu persaingan penghimpunan dana antarbank. Sejumlah bank mulai menawarkan bunga deposito yang lebih tinggi untuk menarik dana masyarakat.

Meski demikian, Bank Neo Commerce memilih tidak ikut bersaing secara agresif dalam menaikkan bunga simpanan.

“Beberapa bank memang sudah menawarkan bunga deposito hingga di atas 8 persen. Kami tentu merespons, tetapi tidak langsung mengikuti secara agresif. Kami melihat dulu kondisi likuiditas dan respons nasabah sehingga kenaikan suku bunga deposito dilakukan secara bertahap,” ujar Eri.

Menurutnya, strategi tersebut dilakukan agar biaya dana tetap terjaga sehingga tidak menggerus margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) perseroan.

Sebagai bank digital, BNC juga lebih mengoptimalkan pertumbuhan dana murah (CASA) melalui peningkatan transaksi nasabah dibandingkan mengandalkan deposito berbunga tinggi.

“Kami ingin menjaga struktur pendanaan tetap sehat. Yang kami dorong adalah peningkatan aktivitas transaksi nasabah sehingga komposisi dana murah semakin besar,” katanya.

Meski menghadapi tekanan likuiditas, Eri menilai kondisi perbankan nasional secara fundamental masih cukup kuat. Namun, ia berharap berbagai kebijakan pemerintah dapat mendorong kembali aktivitas ekonomi sehingga permintaan kredit dapat meningkat.

Menurut dia, pasar saat ini menantikan berbagai katalis positif, mulai dari membaiknya likuiditas, meningkatnya daya beli masyarakat, hingga masuknya kembali investasi ke Indonesia.

“Kami berharap semakin banyak good news bagi perekonomian. Kalau investor kembali masuk, dunia usaha kembali berekspansi, dan masyarakat mulai meningkatkan konsumsi, tentu penyaluran kredit perbankan juga akan tumbuh lebih baik,” ujarnya.

Ia juga berharap kebijakan pemerintah ke depan mampu memperkuat kepercayaan pelaku usaha dan investor sehingga aktivitas ekonomi nasional kembali bergairah.

“Yang paling penting adalah bagaimana purchasing power masyarakat bisa membaik. Kalau konsumsi meningkat, investasi bergerak, dan likuiditas membaik, industri perbankan akan lebih leluasa menjalankan fungsi intermediasinya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi,” pungkas Eri.

BACA JUGA:   Kementerian PUPR Terima Penghargaan Subroto Bidang Efisiensi Energi Tahun 2021

Tags: Eri Budionokenaikan bi rate
Previous Post

ANP Timor Leste Tinjau Fasilitas IDTC Pertamina Drilling, Siapkan SDM Migas Masa Depan

Next Post

Jembatan Gantung Sikundo Siap Bangkit dengan Desain Baru yang Lebih Tinggi dan Aman

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR