Jakarta, TopBusiness – PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau Injourney Tourism Development Corporation (ITDC) memperkuat penerapan Governance, Risk, and Compliance (GRC) sebagai upaya membangun tata kelola perusahaan yang semakin kuat, meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, serta mendorong pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Sebagai BUMN yang saat ini mengelola 3 anak dan 1 cucu perusahaan, ITDC menjalankan bisnis inti ekosistem pariwisata berkelanjutan melalui pengelolaan terintegrasi, inovasi berkelanjutan, dan kemitraan strategis guna menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.
Penguatan GRC menjadi semakin penting seiring dengan kompleksitas bisnis ITDC yang mencakup pengelolaan kawasan pariwisata, aset, investasi, hingga penyelenggaraan berbagai event berskala internasional. Melalui tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan yang terintegrasi, ITDC berupaya memastikan setiap keputusan bisnis diambil secara terukur dengan tetap memperhatikan peluang, risiko, serta manfaat jangka panjang bagi perusahaan dan pemangku kepentingan.
Pelaksana Tugas Direktur Utama ITDC, Ahmad Fajar, mengatakan, penerapan GRC mencerminkan tata kelola perusahaan yang baik dan profesional dalam mengelola bisnis pariwisata berstandar internasional.
“ITDC merupakan perusahaan besar yang mengelola berbagai entitas di industri pariwisata, termasuk kawasan Mandalika dengan bisnis sirkuit balap dan MICE bertaraf internasional. Tata kelola yang mumpuni diperlukan agar kinerja perusahaan mampu meningkatkan nilai bagi pemegang saham sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Ahmad Fajar saat pemaparan kepada Dewan Juri TOP GRC Awards 2026, Kamis (6/8/2026).
Menurutnya, penguatan Good Corporate Governance (GCG) akan meningkatkan kinerja dan daya saing perusahaan di tengah persaingan industri pariwisata yang semakin ketat. Karena itu, kualitas sumber daya manusia atau Human Capital (HC) menjadi faktor penting dalam mendukung pengelolaan bisnis perusahaan.
Ahmad Fajar menambahkan, ITDC menargetkan terciptanya pendapatan berulang (recurring income), peningkatan nilai aset yang dikelola, sertainovasi yang terus tumbuh agar bisnis tetap dinamis mengikuti kebutuhan pasar.
Perkuat Manajemen Risiko
Penguatan GRC di ITDC dilakukan melalui manajemen risiko yang terintegrasi dalam proses pengambilan keputusan perusahaan. Dalam aspek risiko, ITDC membentuk berbagai komite untuk memastikan pengendalian berjalan efektif di seluruh lini organisasi. “Kami membangun Komite Manajemen Risiko, Komite Audit, Komite Anti Penyuapan, Komite Pengendalian Internal, Komite Kepatuhan, dan beberapa komite lainnya. Seluruh kebijakan strategis harus mendapat persetujuan pimpinan dan manajemen,” katanya.
Perusahaan juga menerapkan strategi yang transparan melalui penyusunan RKAP berbasis risiko, Risk Appetite Statement, Rapat Direksi, dan Forum Manajemen Risiko. Seluruh mekanisme tersebut dikontrol secara berkala agar arah perusahaan tetap sesuai keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Pendekatan tersebut menempatkan GRC bukan semata sebagai mekanisme pengendalian, tetapi sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan bisnis.
Dengan pengelolaan risiko yang lebih terukur, perusahaan dapat mengidentifikasi potensi risiko sekaligus mempertimbangkan peluang bisnis secara lebih prudent, sehingga keputusan yang diambil dapat mendukung keberlangsungan dan pertumbuhan perusahaan.

The Mandalika, Cerminan Kompleksitas Bisnis ITDC
Implementasi GRC tercermin dalam pengelolaan The Mandalika yang punya karakter bisnis dan stakeholders yang kompleks. Sebagai sportstainment destination, The Mandalika mengelola Pertamina Mandalika International Circuit yang menjadi lokasi berbagai event olahraga internasional, termasuk Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 (seri MotoGP di Indonesia), serta aktivitas MICE, hospitality, investasi, dan pengembangan kawasan.
Kompleksitas tersebut membutuhkan tata kelola dan manajemen risiko yang kuat untuk memastikan berbagai aktivitas bisnis dapat berjalan secara terukur, mulai dari operasional kawasan, pengelolaan aset dan infrastruktur, koordinasi dengan investor dan mitra, hingga penyelenggaraan event olahraga kelas dunia seperti MotoGP.
Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 menjadi salah satu contoh konkret bagaimana pengelolaan peluang bisnis di The Mandalika butuh pengambilan keputusan yang mempertimbangkan berbagai aspek secara terintegrasi. Sebagai salah satu agenda olahraga internasional yang berlangsung di kawasan, MotoGP dak hanya memperkuat daya tarik The Mandalika sebagai sportstainment destination, tapi juga membuka peluang tumbuhnya aktivitas pariwisata, hospitality, MICE, dan ekonomi di sekitar kawasan.
Melalui penerapan GRC, sejumlah peluang tersebut dikelola dengan mempertimbangkan aspek risiko, kepatuhan, keberlangsungan operasional dan pengembangan kawasan. Dengan demikian, tata kelola yang kuat tidak hanya berfungsi untuk mengendalikan risiko, tetapi juga mendukung perusahaan menangkap peluang dan menciptakan nilai yang lebih besar.
Roadmap Penyehatan 2024–2035
ITDC telah menyusun Roadmap Penyehatan Perusahaan 2024–2035 dengan penguatan penerapan GRC yang terbagi dalam empat tahap.
1. Initial Transformation (2024–2025) Tahap awal, perusahaan mulai mengembangkan bisnis realty sebagai sumber monetisasi baru, mengurangi sebagian utang untuk memperkuat struktur permodalan, serta mengeksplorasi peluang investasi dan aktivasi kawasan.
2. Financial Stabilization & Portfolio Refocusing (2026–2027) Tahap kedua difokuskan pada dukungan tambahan modal pemegang saham untuk memenuhi kewajiban strategis, deleveraging, penguatan likuiditas, dan belanja modal prioritas. Selain itu dilakukan pengalihan aset Pullman dan sirkuit, penataan anak usaha, efisiensi operasional, serta rejuvenasi kawasan Nusa Dua.
3. Destination Monetization & Profitability Turnaround (2028–2031) Perusahaan mempercepat monetisasi kawasan dan penguatan pendapatan inti dari Nusa Dua, Mandalika, dan Golo Mori. Lapangan golf ditargetkan beroperasi penuh pada 2030 dengan penguatan arus kas dan profitabilitas, serta pencapaian laba usaha dan laba bersih positif pada 2031.
4. Sustainable Growth & Acceleration Tahap akhir diarahkan pada pertumbuhan berbasis recurring income, kemitraan investor, dan monetisasi aset berkelanjutan. Belanja modaldilakukan secara selektif dengan mengutamakan pendanaan dari arus kas operasional sambil menjaga tingkat leverage dan likuiditas perusahaan. Rangkaian tahapan tersebut menunjukkan bahwa penguatan GRC berjalan seiring dengan agenda transformasi bisnis ITDC.
Tata kelola dan manajemen risiko menjadi fondasi untuk memastikan proses transformasi dilakukan secara terarah, terukur, dan tetap memperhatikan keberlanjutan perusahaan. “Kami ingin memperkuat posisi ITDC sebagai pengembang kawasan pariwisata yang sehat dan berkelanjutan,” ujar Ahmad Fajar.
Bangun Budaya Kerja Berbasis GRC
Komisaris Independen ITDC, Ekos Albar, mengatakan, perusahaan tengah membangun budaya kerja berbasis GRC secara menyeluruh. Transformasi kepemimpinan juga terus dilakukan untuk menyiapkan talenta-talenta terbaik sebagai pemimpin masa depan perusahaan.
“Kami sedang membangun budaya kerja berbasis GRC dan transformasi kepemimpinan berjalan dengan baik. Talenta-talenta unggul dipersiapkan untuk melanjutkan kepemimpinan masa depan agar ITDC terus tumbuh dan memberikan kontribusi besar bagi pemegang saham,” kata Ekos Albar.
Penguatan budaya GRC menjadi bagian penting dalam memastikan prinsip tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan tidak hanya berjalan melalui kebijakan dan mekanisme formal, tetapi juga menjadi bagian dari cara insan ITDC mengambil keputusan dan menjalankan bisnis.
Dengan demikian, GRC menjadi bagian dari rantai penciptaan nilai ITDC: tata kelola yang kuat mendukung pengambilan keputusan yang lebih baik, pengelolaan risiko yang lebih terukur, dan fundamental bisnis yang semakin kuat.
Tahap berikutnya, hal itu diharapkan memperkuat kepercayaan investor dan mitra, mendukung pengembangan destinasi, memperluas aktivitas ekonomi, dan mampu mendorong pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Dengan penguatan tata kelola, manajemen risiko, kepatuhan, dan pengembangan kepemimpinan, ITDC optimis mampu menopang daya saing industri pariwisata nasional sekaligus menciptakan pertumbuhan perusahaan yang berkelanjutan.
