Jakarta, TopBusiness—PT Dahana (Persero) menargetkan pertumbuhan bisnis dalam nilai tertentu. Dalam hal itu, pendapatan BUMN (badan usaha milik negara) tersebut ditargetkan senilai Rp7 triliun di tahun 2030. Kemudian, laba bersih di tahun itu ditargetkan di Rp1 triliun.
“Kami pun menargetkan bahwa, di tahun 2030, total aset perusahaan sudah melebihi Rp10 triliun,” kata General Manager Manajemen Risiko dan Tata Kelola Dahana, Fahni Irfansyah, dalam presentasi untuk Dewan Juri Top GRC (Governance, Risk, and Compliance) Awards 2026 gelaran Majalah TopBusiness (7/8/2026).
Fahni pun memaparkan bahwa perusahaan tersebut sudah mengidentifikasi beberapa tantangan dan isu strategis yang perlu dikelola menggunakan instrumen GRC. Yang pertama, adalah situasi ekonomi nasional yang juga berpengaruh ke bisnis Dahana.
Kedua, pasar batu bara pun berpengaruh ke bisnisnya Dahana. “Yang berikutnya, pergerakan harga anomia global pun berpengaruh ke bisnis kami,” Fahni menjelaskan.
Dalam presentasi tersebut, Fahni disertai oleh jajarannya. Mereka adalah Senior Manager Corporate Governance Dahana, Richo Erwansyah; Manajer Manajemen Risiko Dahana, M. Zaib Athoullah; Manajer Kepatuhan Dahana, Kukuh Herdiansyah.
Richo Erwansyah menjelaskan bahwa, buat Dahana, setiap keputusan bisnis haruslah memertimbangkan manajemen risiko. Juga, harus memertimbangkan aspek ‘kepatuhan’ dan aspek pertumbuhan jangka panjang. “Jadi, buat Dahana, keputusan bisnis bukan sekadar profit. Tapi, harus menimbang aspek lain itu,” kata Richo.
Buat Dahana, GRC menjadi enabler daya saing dan inovasi perusahaan. “Kami tak sekadar menggelar GRC untuk manajemen risiko, namun juga menjadikan GRC sebagai value creation,” Richo menambahkan.
Adapun Zain Athoullah memaparkan bahwa selain memerhitungkan risiko bisnis, Dahana pun memerhitungkan pentingnya aspek ESG (environment, social, governance) dalam praktik bisnis.
“Hal itu penting karena bisnis kami terhubung dengan pengadaan bahan peledak yang terkait dengan isu lingkungan,” Zain menjelaskan.
Sementara itu, Kukuh Herdiansyah mengatakan bahwa Dahana sudah menggunakan WBS (whistle blowing system) yang terintegrasi. “Nantinya, sistem tersebut bisa diakses langsung oleh para stake holder atau pemangku kepentingan,” Kukuh berkata.
