TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Wait and See Data Inflasi AS, Ini Rekomendasi Analis Saham Ipot Pekan Ini

Achmad Adhito
10 August 2026 | 07:41
rubrik: Capital Market
Hari Ini, Transaksi Saham Bernilai Rp 6,7 Triliun

Bursa Efek Indonesia (Dhi/TopBusiness)

Jakarta, TopBusiness—Dalam sepekan terakhir Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 6.409 menguat kurang lebih 2,78% dibandingkan pekan sebelumnya. Di masa penguatan IHSG ini investor asing melakukan pembelian (inflow) mencapai Rp494 miliar di pasar reguler.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan menjelaskan dari sisi sentimen global perlu dicermati dinamika kebijakan suku bunga global yang saat ini berada di persimpangan jalan yang krusial.

“Bank sentral utama, seperti US Federal Reserve dan European Central Bank (ECB) terus menyeimbangkan antara upaya meredam ketahanan inflasi yang melandai secara bertahap dan risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi,” tegasnya dalam riset yang diterima pagi ini oleh Redaksi Majalah TopBusiness.

Ia menambahkan ketatnya pasar tenaga kerja serta persistensi inflasi sektor jasa mempertahankan narasi higher for longer, di mana suku bunga acuan diperkirakan tetap berada pada level tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama dari ekspektasi awal pasar.

“Sinyal kebijakan dari negara-negara maju ini secara langsung memicu gejolak pada imbal hasil obligasi pemerintah (bond yield), khususnya US Treasury. Lonjakan yield acuan global tersebut menyempitkan selisih (spread) yield dengan obligasi negara-negara berkembang (emerging markets). Alhasil, hal ini memicu tekanan capital outflow (aliran modal keluar) dari pasar berkembang menuju aset berisiko lebih rendah di negara maju.”

Sementara itu dari sisi sentimen domestik, realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia (PDB Q2 2026) sebesar 5,2% (yoy) pada kuartal II-2026 menegaskan solidnya resiliensi makroekonomi domestik di tengah ketidakpastian global disokong oleh kuatnya konsumsi rumah tangga akibat inflasi yang terjaga serta akselerasi pembentukan modal tetap bruto yang mencerminkan tingginya kepercayaan investor.

“Keberhasilan ini menjadi bukti efektivitas sinergi kebijakan moneter dan fiskal dalam menggerakkan sektor industri manufaktur, perdagangan, dan jasa, sekaligus memperkokoh posisi Indonesia sebagai salah satu motor pertumbuhan paling atraktif di kawasan emerging markets.”

BACA JUGA:   Terkoreksi Saat Pandemi, Acset Masih Dipercaya Pertamina

Proyeksi Market dan Rekomendasi Trading Saham Pekan Ini

Memasuki pekan 10-14 Agustus 2026, terang David, pergerakan pasar keuangan diproyeksikan akan berada dalam fase wait and see seiring tingginya intensitas rilis data ekonomi dari Amerika Serikat. Fokus utama para pelaku pasar akan tertuju pada rilis indikator inflasi kunci, yaitu Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI), serta data penjualan ritel (retail sales).

“Rangkaian data ini menjadi krusial karena akan memberikan sinyal yang lebih terang mengenai arah kebijakan moneter The Fed selanjutnya, apakah tekanan inflasi sudah benar-benar mendingin untuk memberi ruang bagi pelonggaran suku bunga atau justru masih cukup tangguh untuk mempertahankan narasi suku bunga tinggi lebih lama,” terangnya.

David kemudian merekomendasikan saham dan reksa dana ini.

Buy WIFI (Current Price: 2,020, Entry: 2,020, Target Price: 2,160 (6.93%), Stop Loss: 1,955 (-3.22%) dan Risk to Reward Ratio 1:2.2). Emiten PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) berpotensi breakout dari flag pattern dan dalam jangka pendek konsisten mempertahankan MA20-nya sehingga layak buy untuk trading pekan ini.

Buy IMPC (Current Price: 1,595, Entry: 1,595, Target Price: 1,700 (6.58%), Stop Loss: 1,550 (-2.82%) dan Risk to Reward Ratio 1:2.3). Saham PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) kayak ditradingkan pekan ini karena berpotensi golden cross dari MA60-nya dan AI Trade Flow di IPOT mengindikasi akumulasi konsisten dalam 5 hari terakhir.

Buy BRMS (Current Price: 615, Entry: 615, Target Price: 680 (10.57%), Stop Loss: 585 (-4.88%) dan Risk to Reward Ratio 1:2.2). Saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BUMI) layak ditradingkan pada pekan ini karena dalam jangka pendek konsisten di atas MA5, price action mengindikasikan breakout dan AI Trade Flow di IPOT memperlihatkan akumulasi konsisten dalam 5 hari terakhir.

BACA JUGA:   RUPST Garuda Sepakat tak Bagi Dividen

Buy Reksa Dana Saham Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD). Power Fund Series (PFS) XIHD menarik untuk dicermati karena portofolionya diisi oleh saham-saham berdividen dan relevan sebagai alternatif investasi defensif yang tetap menawarkan peluang imbal hasil di tengah dinamika pasar yang masih bergejolak.

Tags: ipotrekomendasi saham mingguan
Previous Post

GRC Sebagai Fondasi Keberlanjutan di Waskita Beton Precast

Next Post

Pasar bisa Berbalik Menguat, Analis Sarankan Buy Saham Ini: BMRI, BUMI, AMMN, BIPI, VKTR, dan BRPT

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR