TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Tanpa Orientasi Ekspor, Pertumbuhan Ekonomi RI akan Mentok di 5%

Nurdian Akhmad
10 August 2026 | 11:49
rubrik: Ekonomi
Tarif Impor 1.147 Produk Dinaikkan Hingga 10 Persen

aktivitas ekspor dan impor barang di pelabuhan/foto: istimewa

Jakarta, TopBusiness – Ketergantungan pada konsumsi domestik dan belanja pemerintah dinilai tidak lagi cukup untuk membawa pertumbuhan ekonomi Indonesia ke level yang lebih tinggi. Pemerintah perlu mulai mengalihkan fokus kebijakan dari penguatan ekonomi domestik menuju penguatan sektor luar negeri dengan menjadikan ekspor dan daya saing industri sebagai mesin pertumbuhan baru.

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Didik J. Rachbini menilai orientasi kebijakan ekonomi yang terlalu berfokus ke dalam (inward looking) selama ini membuat sektor luar negeri belum memperoleh perhatian yang memadai. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berkutat di sekitar 5%.

“Kelemahan, kekurangan atau bahkan kesalahan kebijakan ekonomi terkait upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi utamanya hanya satu yakni mengabaikan sektor luar negeri,” kata Didik dalam keterangannya, Senin (10/8/2026).

Menurut dia, berbagai upaya pemerintah selama ini lebih banyak diarahkan untuk menggerakkan sektor domestik. Namun, pendekatan tersebut belum mampu menghasilkan akselerasi pertumbuhan yang signifikan.

“Seluruh upaya dan dinamika selama ini terlalu inward looking. Hanya sektor dalam negeri yang dikemas dengan berbagai kontroversi kebijakan, tetapi hasilnya tetap bertumbuh moderat sekitar 5 persen,” ujarnya.

Belanja Pemerintah Tak Bisa Jadi Andalan

Didik menilai salah satu persoalan dalam strategi pertumbuhan saat ini adalah terlalu besarnya harapan terhadap belanja pemerintah sebagai penyangga ekonomi.

Belanja pemerintah, kata dia, memang dapat membantu menjaga aktivitas ekonomi agar tidak mengalami perlambatan yang lebih dalam. Namun, kebijakan tersebut tidak dapat dijadikan sumber pertumbuhan dalam jangka panjang.

Menurutnya, kemampuan fiskal pemerintah juga menghadapi persoalan, baik dari sisi penerimaan maupun pengeluaran. Kondisi tersebut membuat belanja negara hanya dapat berfungsi sebagai penopang dalam jangka pendek.

“Belanja pemerintah tidak akan langgeng karena hanya menjadi penyangga agar pertumbuhan ekonomi tidak jatuh di bawah 5 persen,” katanya.

Di sisi lain, konsumsi masyarakat juga dinilai tidak lagi dapat sepenuhnya diandalkan untuk mendorong pertumbuhan. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah tergerusnya kelompok kelas menengah yang selama ini menjadi salah satu motor konsumsi domestik.

Indonesia memang memiliki pasar domestik yang besar karena ditopang jumlah penduduk yang sangat besar. Namun, menurut Didik, keunggulan tersebut tidak seharusnya membuat pemerintah hanya berorientasi pada pasar dalam negeri.

BACA JUGA:   Cadangan Devisa Stabil dan Lebihi Standar Internasional

Ekspor Harus Jadi Mesin Pertumbuhan

Didik berpandangan, tantangan utama Indonesia bukan sekadar bagaimana memperbesar konsumsi domestik, tetapi bagaimana mendorong pelaku usaha nasional meningkatkan kapasitas dan daya saing hingga mampu berkompetisi di pasar global.

Menurut dia, perusahaan Indonesia perlu mendapatkan kesempatan sekaligus dorongan untuk naik kelas melalui persaingan internasional.

“Masalahnya bukan hanya mengandalkan konsumsi domestik yang besar, tetapi dunia usaha Indonesia mampu naik kelas karena dipaksa dan diberi kesempatan untuk bersaing di pasar global,” ujarnya.

Karena itu, orientasi outward looking dinilai penting untuk membuka sumber pertumbuhan baru. Dengan memperkuat sektor luar negeri, Indonesia tidak hanya dapat memperluas pasar produk nasional, tetapi juga meningkatkan perolehan devisa.

“Di sinilah kebijakan outward looking menjadi penting karena bisa mendorong Indonesia eksis dalam persaingan global dengan harapan bisa memperoleh devisa yang besar,” kata Didik.

Ia menilai sektor ekspor saat ini belum menjadi growth engine yang cukup kuat untuk mendorong transformasi industri nasional.

Padahal, Indonesia memiliki sumber daya alam dan basis pasar yang besar sebagai modal untuk membangun industri berdaya saing. Namun, pasar domestik saja dinilai tidak cukup untuk menciptakan industrialisasi yang mampu bersaing di tingkat dunia.

“Untuk menuju ke sana tidak ada jalan lain kecuali mengelola sektor luar negeri dengan kebijakan orientasi ekspor,” tegasnya.

Belajar dari Vietnam

Didik juga menilai Indonesia perlu melihat pengalaman negara lain yang berhasil meningkatkan pertumbuhan melalui orientasi ekspor dan integrasi dengan pasar global.

Ia mencontohkan Vietnam yang mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi tahunan hingga 8,3%. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan pentingnya strategi ekonomi yang mampu menghubungkan industri domestik dengan pasar internasional.

Dengan kebijakan yang masih cenderung inward looking, Didik menilai Indonesia akan kesulitan mencapai tingkat pertumbuhan seperti Vietnam.

Karena itu, perubahan orientasi kebijakan ekonomi dinilai harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari kebijakan investasi, pembangunan infrastruktur, birokrasi hingga penciptaan iklim usaha yang mendukung kegiatan ekspor.

BACA JUGA:   Akuntan Dituntut Jadi Agen Perubahan, Begini Perannya di Tengah Turbulensi Ekonomi

Investasi Asing Bisa Masuk

Perubahan menuju strategi outward looking juga dinilai dapat meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi.

Menurut Didik, investasi asing akan lebih mudah masuk apabila pemerintah mampu menyediakan sistem insentif yang kompetitif, infrastruktur yang baik serta birokrasi yang ramah dan efisien.

“Dengan mentransformasikan kebijakan ekonomi inward looking menjadi outward looking, investasi luar negeri akan masuk karena ada sistem insentif, dukungan infrastruktur yang baik dan birokrasi yang ramah dan efisien,” jelasnya.

Masuknya investasi asing juga tidak berarti harus mengorbankan investasi domestik. Sebaliknya, investasi dalam negeri dan investasi asing dapat tumbuh secara bersamaan apabila pemerintah membangun kebijakan yang berorientasi pada ekspor.

Menurut Didik, strategi tersebut akan memberikan ruang lebih besar bagi sektor industri untuk berkembang karena didukung sumber daya nasional yang kuat.

Indonesia, kata dia, memiliki peluang mengembangkan industri berbasis sumber daya (resource based industry) yang terintegrasi dengan pasar global.

Dengan demikian, sumber daya alam tidak hanya diekspor sebagai komoditas mentah atau setengah jadi, tetapi dapat diolah menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi dan memiliki pasar internasional.

Dorong Integrasi Global Supply Chain

Gambaran kebijakan outward looking, lanjut Didik, tidak sebatas meningkatkan volume ekspor. Pemerintah juga perlu mendorong penetrasi produk Indonesia ke pasar internasional serta memperkuat daya saing industri nasional.

Orientasi ekspor harus berjalan beriringan dengan upaya menarik investasi, memperkuat industri domestik dan memanfaatkan rantai pasok global (global supply chain).

“Gambaran dari transisi tersebut nantinya yakni orientasi penetrasi pasar internasional dengan daya saing industri yang kuat, orientasi ekspor, memanfaatkan investasi dan supply chain global,” tuturnya.

Menurut dia, langkah tersebut penting agar industri nasional tidak hanya menjadi pemasok untuk kebutuhan pasar domestik, tetapi juga menjadi bagian dari jaringan produksi global.

Dengan masuk ke rantai pasok global, industri Indonesia berpeluang memperoleh akses terhadap pasar, teknologi, investasi dan jaringan produksi internasional.

Pernah Berhasil pada Era 1980-an

Didik mengatakan, Indonesia sebenarnya memiliki pengalaman menjalankan strategi ekonomi yang berorientasi keluar. Salah satu contoh yang dapat dijadikan pembelajaran adalah kebijakan pada era 1980-an.

BACA JUGA:   Hungaria Minati Investasi Infrastruktur di Indonesia

Pada periode tersebut, pemerintah mendorong masuknya investasi dan pengembangan industri yang berorientasi ekspor. Strategi itu, menurut Didik, ikut menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga mencapai kisaran 7–8% selama sekitar dua dekade.

“Indonesia pernah mempunyai best practice strategi outward looking. Yakni seperti yang terjadi pada tahun 1980-an, yang mana negara mendorong investasi dan industri yang berorientasi ekspor,” katanya.

Ia menilai pengalaman tersebut seharusnya dapat menjadi referensi bagi pemerintah dalam merumuskan kembali strategi pertumbuhan ekonomi saat ini.

“Pada tahun 1980-an kebijakan outward looking ini menghasilkan pertumbuhan ekonomi 7–8 persen selama dua dekade. Jadi pemerintah cukup mengulangi kebijakan yang pernah berhasil mengangkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi tiga dekade lalu,” ujarnya.

Menurut Didik, pemerintah perlu melakukan evaluasi terhadap kebijakan ekonomi yang berjalan saat ini apabila ingin mengejar pertumbuhan 7–8%.

Ia menegaskan, target pertumbuhan tersebut tidak akan mudah dicapai apabila sumber pertumbuhan masih bertumpu pada belanja pemerintah dan pasar domestik.

“Pemerintah mesti membahas kembali kebijakan ekonomi untuk mengatasi masalah kelemahan kebijakan selama ini. Untuk menuju pertumbuhan 7–8 persen seperti Vietnam, perubahan orientasi kebijakan ekonomi dari inward looking menjadi outward looking mutlak harus dilakukan,” tegasnya.

Jika perubahan tersebut tidak dilakukan, Indonesia dinilai berisiko terus berada dalam pola pertumbuhan moderat sekitar 5% atau bahkan lebih rendah.

“Jika tidak dan hanya mengandalkan sumber daya pasar dalam negeri, maka tidak harus puas dengan tingkat pertumbuhan moderat 5 persen atau bahkan di bawahnya. Tanpa perubahan kebijakan, maka janji kampanye sulit untuk bisa diwujudkan,” pungkas Didik.

Ia menambahkan, penguatan sektor luar negeri harus kembali menjadi bagian penting dalam desain kebijakan ekonomi nasional. Dengan strategi yang tepat, ekspor, investasi dan industri dapat menciptakan sumber pertumbuhan baru sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam persaingan ekonomi global.

“Hanya dengan memperhitungkan kembali sektor luar negeri dengan kebijakan yang baik, maka tingkat pertumbuhan lebih tinggi bisa diwujudkan,” tutupnya.

Tags: pertumbuhan ekonomi
Previous Post

Kali Ini Sasar Segmen Perkantoran, Iruka Izakaya Buka Cabang Ketiga di Menara Tendean

Next Post

Pasar Budaya Pop Korea Selatan Jadi Peluang Baru Kreator Art Toys Indonesia

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR