TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Superbank Jadikan GRC Fondasi Pertumbuhan Bisnis Berkelanjutan

Mi’roji
12 August 2026 | 07:45
rubrik: Business Info, Event, GCG
Superbank Jadikan GRC Fondasi Pertumbuhan Bisnis Berkelanjutan

Jakarta, TopBusiness – PT Super Bank Indonesia Tbk terus memperkuat tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan atau Governance, Risk and Compliance (GRC) untuk memastikan pertumbuhan bisnis berjalan sehat dan berkelanjutan.

Hal itu disampaikan Direktur Utama PT Super Bank Indonesia Tbk Tigor M. Siahaan dalam Wawancara Penjurian TOP GRC Awards 2026 yang digelar Majalah TopBusiness melalui Zoom Meeting, Senin (10/8/2026).

Menurut Tigor, GRC tidak semestinya hanya dipandang sebagai fungsi pengawasan. Bagi Superbank, GRC harus melekat dalam aktivitas bisnis, termasuk ketika perusahaan mengambil keputusan dan mengembangkan strategi.

“GRC bagi kami bukan sekadar fungsi pengendalian. GRC harus menjadi bagian dari perjalanan bisnis, sehingga setiap keputusan dan langkah pertumbuhan tetap memperhatikan tata kelola, risiko, kepatuhan, serta kepentingan para pemangku kepentingan,” ujar Tigor.

Superbank membangun kerangka manajemen risiko yang mencakup berbagai risiko utama perbankan, mulai dari risiko kredit, pasar, likuiditas, operasional, legal, strategis, kepatuhan hingga reputasi. Pengelolaan tersebut didukung sistem informasi manajemen risiko, pengendalian internal, pemisahan tugas, serta evaluasi berkala.

Penguatan GRC juga dilakukan melalui pembagian fungsi yang jelas. Unit bisnis dan operasional menjadi lini pertama yang mengelola risiko dalam aktivitas sehari-hari. Lini kedua terdiri atas fungsi Risk, Compliance, dan Legal yang melakukan pengawasan. Sementara Internal Audit menjalankan fungsi assurance secara independen.

Tigor menekankan pentingnya membangun budaya risiko di seluruh organisasi. Menurutnya, keberadaan sistem dan prosedur tidak akan cukup apabila tidak diikuti kesadaran setiap karyawan untuk memahami dan mengelola risiko.

“Kami ingin setiap orang di dalam organisasi memahami risiko yang melekat pada pekerjaannya. Risiko bukan hanya tanggung jawab satu fungsi, tetapi menjadi tanggung jawab bersama. Karena itu, kesadaran, akuntabilitas, keterbukaan, dan keberanian untuk melakukan eskalasi harus terus dibangun,” katanya.

BACA JUGA:   Penguatan Budaya GRC dan ESG di SMF Dibuktikan Dengan Penerbitan Social Bonds

Superbank mengembangkan empat pengungkit utama untuk membangun budaya risiko, yakni risk awareness, ownership and accountability, speak-up and escalation culture, serta integrity and whistleblowing. Karyawan didorong untuk mengenali risiko, bertanggung jawab terhadap aktivitasnya, menyampaikan potensi masalah sejak dini, serta menggunakan saluran whistleblowing yang tersedia.

Hadapi Risiko Digital dan Fraud

Sebagai bank yang mengandalkan layanan digital, keamanan siber menjadi salah satu perhatian utama Superbank. Perusahaan memperkuat cyber governance melalui fungsi Cyber Security Council, IT Steering Committee, dan Risk Management Committee.

Pengawasan dilakukan melalui tahapan govern, identify, protect, detect, dan respond. Superbank juga melakukan pengujian terhadap desain dan efektivitas kontrol keamanan, termasuk pengujian terhadap sistem deteksi serta proses penanganan insiden.

Risiko fraud juga mendapat perhatian khusus. Superbank menerapkan empat pilar yang mencakup pencegahan, deteksi, investigasi dan pelaporan, serta monitoring dan tindak lanjut.

Untuk mendeteksi transaksi mencurigakan, perusahaan menggunakan pemantauan transaksi secara real time selama 24 jam dan model machine learning untuk menemukan pola maupun anomali. Tersedia pula mekanisme pelaporan fraud secara langsung serta whistleblowing untuk dugaan fraud internal.

“Keamanan dan kepercayaan nasabah merupakan bagian yang sangat penting dalam bisnis digital. Karena itu, pengelolaan risiko siber, fraud, dan perlindungan data harus berjalan secara proaktif, bukan menunggu sampai masalah terjadi,” kata Tigor.

Dalam perlindungan data pribadi, Superbank menerapkan proses yang mencakup assess, protect, sustain, dan respond. Pendekatan tersebut antara lain dilakukan melalui Privacy Impact Assessment untuk pemrosesan berisiko tinggi, pemeriksaan sebelum produk atau fitur baru diluncurkan, penguatan kebijakan perlindungan data, serta edukasi kepada karyawan.

GRC Mendukung Keberlanjutan

Penguatan GRC juga berjalan beriringan dengan agenda keberlanjutan Superbank. Perusahaan mengusung konsep Sustainability by Design melalui empat fokus, yaitu Super-Green, Super-Opportunity, Super-Reliable & Safe, dan Super-Women.

BACA JUGA:   Mantapkan Penerapan GRC Terintegrasi, Kinerja Asuransi Sinar Mas Kian Cemerlang

Super-Green diarahkan pada pengelolaan risiko iklim, operasional yang lebih ramah lingkungan, dan pembiayaan yang bertanggung jawab. Super-Opportunity berfokus pada perluasan akses layanan perbankan bagi masyarakat underbanked dan pelaku UMKM. Sementara Super-Reliable & Safe menitikberatkan pada keamanan data, kepatuhan, serta lingkungan kerja yang aman. Adapun Super-Women diarahkan untuk mendukung kepemimpinan perempuan dan perempuan pelaku UMKM.

Hingga Desember 2025, Superbank mencatat sejumlah capaian keberlanjutan. Perusahaan telah menyelesaikan uji ketahanan risiko iklim perdana, menerapkan sistem berbasis cloud dan budaya paperless yang mengurangi konsumsi kertas hingga 235 kilogram per tahun, serta mencatat emisi Scope 1 dan 2 sebesar 187,14 tCO₂e. Superbank juga mengurangi penggunaan lebih dari 500 botol plastik per bulan dan bekerja sama dengan Jejak.in untuk menanam 400 pohon.

Dari sisi inklusi keuangan, pembiayaan inklusif Superbank tumbuh 49 persen secara tahunan menjadi Rp4 triliun dengan Inclusive Macroprudential Ratio (RPIM) mencapai 41,6 persen. Perusahaan juga memberikan edukasi literasi keuangan kepada 930 peserta melalui 15 program yang menyasar masyarakat underbanked, UMKM, dan keluarga mitra Grab.

Penguatan GRC tersebut berjalan seiring dengan pertumbuhan bisnis. Superbank telah melayani lebih dari 7 juta nasabah digital dengan dana pihak ketiga Rp15,9 triliun. Perusahaan juga mencatat laba operasional sebelum provisi sebesar Rp484 miliar dalam sembilan bulan setelah peluncuran dan laba sebelum pajak Rp134 miliar pada kuartal II 2026.

Superbank menyelesaikan penawaran umum perdana saham (IPO) pada Desember 2025 dan mencapai klasifikasi KBMI 2 pada akhir 2025.

“Pertumbuhan yang kuat harus dibangun di atas fondasi yang kuat pula. Kami ingin GRC terus menjadi bagian dari cara Superbank menjalankan bisnis, membangun kepercayaan, dan menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan,” tutur Tigor.

BACA JUGA:   Kado Kemerdekaan – Konstruksi dan Commisioning Proyek Tangguh Train 3 telah Selesai

Superbank menilai penerapan GRC yang konsisten dapat memperkuat kepercayaan nasabah, investor, dan regulator, sekaligus membantu perusahaan menjalankan pertumbuhan strategis dengan pengawasan yang proaktif dan kepatuhan regulasi yang terjaga.

Tags: PT Super Bank Indonesia TbkTOP GRC Awards 2024
Previous Post

Clarks Hadirkan Ulang Wallabe Lite

Next Post

Kans Pasar Lanjutkan Bearish, Empat Saham Ini Direkomendasikan Buy: BBRI, PGEO, BRPT, dan CUAN

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR